Ekonomi

PDB Turun Drastis akibat Corona, AS Terancam Alami Resesi Terparah


PDB Turun Drastis akibat Corona, AS Terancam Alami Resesi Terparah
Krisis virus corona menyebabkan PDB AS turun drastis (Sky News)

AKURAT.CO, Data awal menunjukkan Amerika Serikat (AS) terancam mengalami resesi terparah akibat krisis virus corona yang tak terduga.

Dilansir dari Sky News, data resmi menunjukkan penurunan produksi tahunan mencapai 32,9 persen pada kuartal kedua tahun ini saat sebagian besar wilayah AS menerapkan lockdown untuk membendung penyebaran COVID-19. Angka itu merupakan ukuran produk domestik bruto (PDB) selama periode 12 bulan, alih-alih perhitungan bulanan atau triwulan. Namun, angka ini sedikit lebih baik dari prediksi para ekonom yang memperkirakan rata-rata 34,1 persen menjelang dirilisnya laporan itu.

Sementara itu, data terpisah menunjukkan peningkatan klaim tunjangan pengangguran AS. Artinya, melonjaknya infeksi virus corona telah melenyapkan lapangan kerja. Para politisi pun semakin terdesak untuk mengesahkan paket bantuan baru.

Wall Street tumbang menyusul anjloknya PDB dan twit Presiden AS Donald Trump yang menyebut kemungkinan menunda pemilihan presiden AS pada November. Ketiga indeks saham utama AS, yaitu NASDAQ Composite, Dow Jones Industrial Average, dan S&P 500 turun di awal perdagangan.

Sebelum dirilis, analis pasar telah menjelaskan angka-angka mengerikan dapat mendorong lonjakan nilai pasar saham. Pasalnya, hal itu kemungkinan meningkatkan lebih banyak stimulus ekonomi.

Sebelum angka PDB AS dirilis, ketua bank sentral negara memperingatkan gelombang kasus COVID-19 baru yang menghantam Florida dan California dapat memperlambat pemulihan ekonomi. Menurut Ketua Federal Reserve Jay Powell pada Rabu (29/7), dibutuhkan lebih banyak dukungan pemerintah federal untuk membantu memicu produksi.

Di sisi lain, kalangan investor khawatir paket bantuan baru yang saat ini sedang berjalan melalui Kongres terhenti. Nilai dolar juga dikhawatirkan mencapai level terendah terhadap sejumlah mata uang asing selama lebih dari 2 tahun belakangan.

"Kebijakan fiskal sangat penting di sini. Saya melihat Kongres sedang menegosiasikan paket baru dan menurut saya itu hal yang baik," komentar Powell.

Namun, tampaknya ada kebuntuan di kalangan politisi pada sejumlah elemen kunci menjelang tenggat waktu pada Jumat (31/7). Bantuan pengangguran USD 600 (Rp8,8 juta) per minggu ingin diperpanjang, sedangkan Partai Republik ingin itu dikurangi. Sementara itu, Demokrat mendesak paket yang lebih komprehensif sambil bersiap menghadapi manuver Trump yang mengincar jabatan presiden 2 periode.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu