Ekonomi

PBNU: PMK 146/2017 Sengsarakan 6 Juta Petani Tembakau yang Mayoritas NU


PBNU: PMK 146/2017 Sengsarakan 6 Juta Petani Tembakau yang Mayoritas NU
Konferensi Pers Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait Terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 146 Tahun 2017 tentang Penyederhanaan Struktur Cukai Hasil Tembakau, di Jakarta, Minggu (14/10). (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 146 Tahun 2017 tentang Penyederhanaan Struktur Cukai Hasil Tembakau dinilai merugikan industri kecil dan petani tembakau. Oleh karena itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah segera mencabut PMK 146/2017 itu.

"Jika pemerintah tetap menerapkan peraturan tersebut, maka sedikitnya 6 juta warga NU yang menjadi petani tembakau dan tersebar di berbagai wilayah akan makin menderita," tegas Wakil Ketua PBNU, Maksum Machfoed di Jakarta, Minggu (14/10).

Menurut Maksum, naiknya cukai akan memukul kalangan industri rokok, para petani yang selama ini menjadi pemasok terbesar industri juga akan ikut tertekan pendapatannya dan bagi NU ini jumlahnya lebih dari 6 juta orang.

Ditambahkan dia, merujuk kajian yang selama ini telah dilakukan, diperoleh data volume produksi rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) menunjukkan potensi peningkatan seiring dengan meningkatnya tarif cukai.

"Namun, perlu disadari bahwa penyederhanaan struktur tarif cukai memperlambat volume industri dan juga memperlambat pendapatan negara atas cukai industri hasil tembakau (IHT)," jelas dia.

Hal berbeda dengan kondisi golongan Sigaret Kretek Tangan (SKT). Kata Maksum, SKT yang identik dengan para pengusaha kecil di bidang industri rokok responnya negatif terhadap peningkatan tarif cukai. Juga menunjukkan penurunan volume produksi yang semakin tajam, seiring dengan semakin sederhananya struktur tarif cukai.

"Jika PMK 146/2017 ini diterapkan, maka dipastikan akan menambah jumlah pengangguran pekerja SKT yang tentu berpotensi menjadi masalah sosial sehingga perlu menjadi perhatian serius pemerintah. Ini sungguh ironis!," tegasnya. []