News

PBB: Legalisasi dan Pandemi Dongkrak Penggunaan Ganja

PBB: Legalisasi dan Pandemi Dongkrak Penggunaan Ganja


PBB: Legalisasi dan Pandemi Dongkrak Penggunaan Ganja
Pekerja rumah kaca merawat tanaman ganja di Thailand, yang pada bulan Juni menjadi negara Asia pertama yang melegalkan penanaman dan penggunaan ganja untuk pribadi. (Lauren DeCicca/Getty Images via DW)

AKURAT.CO Konsumsi ganja terlihat meningkat di tempat-tempat di mana tanaman tersebut dilegalkan, termasuk beberaoa negara bagian Amerika Serikat (AS).

Laporan PBB mengungkap hal itu pada Senin (27/6), menyebut penguncian akibat pandemi Covid-19 juga memicu efek yang sama, yang kemudian meningkatkan risiko depresi dan bunuh diri.

Ganja telah lama menjadi obat yang paling banyak digunakan di dunia dan penggunaannya dikonfirmasi meningkat. Namun, pada saat bersamaan, kandungan tetrahydrocannabinol (THC) dalam zat tersebut semakin kuat, menurut Kantor PBB Urusan Obat-obatan dan Kejahatan (UNODC) dalam publikasi tahunannya 'World Drug Report'.

baca juga:

Berbagai negara bagian AS diketahui telah melegalkan penggunaan ganja non-medis. Ini dimulai dengan Washington dan Colorado pada 2012. Kemudian pada 2013, giliran negara Uruguay yang melegalkan hal tersebut. Langkah sama dilakukan oleh Kanada pada tahun 2013. 

Yang lain telah mengambil langkah serupa, tetapi laporan PBB berfokus pada ketiga negara tersebut.

PBB: Legalisasi dan Pandemi Dongkrak Penggunaan Ganja - Foto 1
 Seorang pekerja menikmati lintingan ganja di sebuah kafe ganja medis di perkambungan Arab di Israel tengah, 2 Maret 2022-Reuters/Ammar Awad

Dalam laporannya, PBB pun menegaskan temuannya, di mana legalisasi mendorong tren penggunaan mariyuana. Ini khususnya dilaporkan pada kalangan orang dewasa muda, dengan kandungan THC yang relatif tinggi.

Namun, peningkatan kandungan THC di pasaran dan penggunaan reguler ganja telah berbanding lurus dengan lonjakan penyakit psikologis di Eropa Barat maupun kasus bunuh diri.

"Legalisasi tampaknya telah mempercepat tren penggunaan ganja reguler. Sementara prevalensi penggunaan ganja di kalangan remaja tidak banyak berubah, ada peningkatan nyata dalam penggunaan produk dengan potensi kandungan THC yang tinggi, yang sering dilaporkan di kalangan orang dewasa muda."

"Proporsi orang dengan gangguan kejiwaan dan bunuh diri yang terkait dengan penggunaan ganja regular (juga) telah meningkat," ungkap laporan UNODC yang berbasis di Wina, seperti dikutip dari Reuters melalui CNA.

Meningkatnya konsumsi ganja juga dikatakan telah menyebabkan peningkatan beban fasilitas kesehatan. Obat-obatan dari kelas ini bertanggung jawab atas sekitar 30 persen terapi obat di Uni Eropa. 

Di Afrika dan negara-negara tertentu di Amerika Latin, proporsi terapi terbesar terkait dengan kecanduan ganja, lanjut laporan UNODC, dikutip dari DW.

Laporan itu menambahkan bahwa sepanjang tahun 2020, terdapat sekitar 284 juta orang yang telah menggunakan obat-obatan seperti heroin, kokain, amfetamin atau ekstasi. Jika dihitung-hitung, jumlah pengguna obat-obatan itu sama dengan 5,6 persen dari keseluruhan populasi dunia, dengan keseluruhan konsumen itu, 209 juta di antaranya dilaporkan adalah pengguna ganja.

Laporan tersebut menjadi data terbaru yang tersedia.

PBB melanjukan bahwa pada tahun 2020, produksi kokain telah mencapai rekornya, begitu pula dengan perdagangan melalui jalur laut yang meningkat. Sementara itu, data penyitaan tahun 2021 menunjukkan adanya ekspansi di luar dua pasar utama, di Amerika Utara dan Eropa, lalu Afrika dan Asia.

"Periode penguncian selama pandemi Covid-19 telah mendorong peningkatan penggunaan ganja ... pada tahun 2020," kata laporan tersebut.

Opioid atau pereda nyeri dosis kuat dilaporkan tetap menjadi obat paling mematikan. Sementara fentanil telah mendorong kematian overdosis AS ke rekor baru, dengan perkiraan sementara untuk tahun 2021 adalah 107.622 kasus.[]