News

PBB Laporkan Aktivitas di Laboratorium Pendukung Nuklir Korea Utara, Pentagon Waspada

PBB Laporkan Aktivitas di Laboratorium Pendukung Nuklir di Korea Utara, Pentagon Waspada


PBB Laporkan Aktivitas di Laboratorium Pendukung Nuklir Korea Utara, Pentagon Waspada
Citra satelit Pusat Penelitian Nuklir Yongbyon, Korea Utara, pada 12 April 2019

AKURAT.CO, Pentagon menyatakan kewaspadaannya pada Selasa (2/3) terkait laporan PBB yang menunjukkan kemungkinan pemrosesan ulang bahan bakar nuklir untuk bom oleh Korea Utara. Menurut mereka, kegiatan semacam itu dapat meningkatkan ketegangannya dengan Pyongyang.

Dalam sebuah pernyataan kepada Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Direktur Jenderal PBB Rafael Mariano Grossi menyebut aktivitas di fasilitas nuklir Yongbyon dan Kangson Korea Utara. Ia mengatakan baru-baru ini ada indikasi beroperasinya pembangkit listrik tenaga uap yang melayani laboratorium radiokimia. Laboratorium radiokimia di Yongbyon itu digunakan untuk memproses kembali plutonium dari reaktor di sana untuk dijadikan bom nuklir.

Menurut Grossi, berlanjutnya aktivitas nuklir Korea Utara itu merupakan pelanggaran yang jelas terhadap PBB dan sangat disesalkan.

baca juga:

Laporan itu pun menuai respons dari Kepala Intelijen untuk Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat (AS) Laksamana Muda Michael Studeman. Menurutnya, aktivitas tersebut mungkin ditujukan untuk mendapatkan perhatian pemerintahan Presiden AS Joe Biden dan sebagai alat tawar-menawar untuk mendesak keringanan sanksi.

"Jika benar, itu bisa menempatkan kita di tingkat ketegangan yang berbeda dengan Korea. Mungkin ini awalnya dirancang untuk mempengaruhi pemerintahan Biden. Mungkin ini cara pertama untuk mendapatkan perhatian pemerintahan baru di sini dan menggunakan pengembangan pemrosesan ilang ini sebagai alat tawar-menawar untuk semacam keringanan sanksi," duganya, dilansir dari Reuters.

Pemerintahan Biden pun kini tengah meninjau kebijakan Korea Utara, menyusul keterlibatan mantan Presiden Donald Trump yang gagal membujuk Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk menyerahkan senjata nuklirnya.

Menurut Sekretaris Negara Antony Blinken, pendekatan ke Korea Utara bisa saja melibatkan lebih banyak sanksi atau insentif diplomatik yang tidak ditentukan.

Sementara itu, sebuah laporan rahasia PBB yang dilihat Reuters bulan lalu menyebut Korea Utara mengembangkan program rudal nuklir dan balistiknya sepanjang tahun 2020. Menurut Jenny Town, wakil direktur proyek pemantauan Korea Utara 38 North yang berbasis di Washington, citra satelit yang diterima dari Yongbyon pada 17 Februari hingga 2 Maret menunjukkan uap keluar dari laboratorium di sana. Padahal, laboratorium itu diketahui tidak beroperasi selama sekitar 2 tahun.

"Ini tidak berarti pemrosesan ulang telah dimulai. Namun, bisa saja itu menjadi indikasi persiapannya," ungkap Town.

Korea Utara menggunakan uranium dan plutonium untuk senjata nuklir. Namun, plutonium bisa digunakan untuk membuat bom yang lebih kecil dan lebih ringan. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu