News

PBB Akhirnya Turun Tangan Atasi Konflik Myanmar, Sahkan Penghentian Aliran Senjata

Majelis Umum PBB juga mendesak militer untuk menghormati hasil Pemilu November dan membebaskan Aung San Suu Kyi.


PBB Akhirnya Turun Tangan Atasi Konflik Myanmar, Sahkan Penghentian Aliran Senjata
Pasukan militer Myanmar berpatroli di negara bagian Kayah pada 23 Mei 2021. (Foto: Associated Press)

AKURAT.CO, Para pendukung pemimpin terguling Myanmar Aung San Suu Kyi menyematkan bunga di rambut mereka dan berparade di jalanan pada Sabtu (19/6). Demonstrasi ini digelar untuk memperingati ulang tahun Suu Kyi ke-76 di dalam tahanan militer.

Dilansir dari Reuters, aksi protes massa hampir setiap hari diadakan di Myanmar sejak Suu Kyi digulingkan dalam kudeta 1 Februari. Kudeta ini juga memicu pemogokan yang melumpuhkan dan konflik baru di negara Asia Tenggara tersebut.

Majelis Umum PBB pada Jumat (18/6) menyerukan penghentian aliran senjata ke Myanmar. Mereka juga mendesak militer untuk menghormati hasil Pemilu November dan membebaskan para tahanan politik, termasuk Suu Kyi.

Selama beberapa dekade menjadi simbol perjuangan demokrasi di bawah junta sebelumnya, peraih Nobel ini sering menyematkan bunga di rambutnya. Salah satu orang yang mengenakan bunga pada Sabtu (19/6) adalah aktivis Thet Swe Win, meskipun ia pernah berselisih dengan Suu Kyi atas pelanggaran HAM saat Suu Kyi masih menjabat.

PBB Akhirnya Turun Tangan Atasi Konflik Myanmar, Sahkan Penghentian Aliran Senjata - Foto 1
REUTERS

"Saya menuntut kebebasan untuk semua orang, termasuk Aung San Suu Kyi. Hak individu dan hak politiknya telah dilanggar," ungkapnya.

Tak hanya Suu Kyi, hampir 5 ribu orang saat ini ditahan oleh junta lantaran menentang kudeta, menurut kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik. Dikatakan juga 870 orang telah tewas, tetapi angka ini disangkal oleh junta.

Suu Kyi digulingkan tentara setelah pemerintahannya membantah tuduhan penipuan atas kemenangan telak partainya dalam Pemilu November lalu. Menurut pemantau internasional, pemungutan suara itu berlangsung adil.

Ia kini menghadapi tuduhan memiliki radio walkie-talkie secara ilegal dan melanggar protokol virus corona hingga menghasut keributan, korupsi, dan melanggar Undang-Undang Rahasia Resmi yang dapat membawa hukuman penjara 14 tahun. Menurut pengacaranya, tuduhan itu tak masuk akal. Para pendukungnya pun yakin mereka ingin menyingkirkannya dari politik.

Sidang berikutnya dijadwalkan pada Senin (21/6).

Suu Kyi memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991. Namun, reputasinya di mata negara-negara Barat ambruk pada 2017. Pasalnya ia membela tentara setelah 700 ribu minoritas Muslim Rohingya bereksodus untuk menyelamatkan diri dari serangan. Meski begitu, peristiwa itu tak mengurangi popularitasnya di Myanmar.

Resolusi Majelis Umum yang menyerukan penghentian pasokan senjata ke Myanmar disahkan dengan dukungan 119 negara. Belarusia menjadi satu-satunya negara yang menentangnya, sedangkan 36 abstain, termasuk China dan Rusia.

"Ada risiko nyata perang saudara berskala besar. Waktu menjadi sangat penting. Peluang untuk membalikkan pengambilalihan militer semakin sempit," ujar utusan khusus PBB untuk Myanmar Christine Schraner Burgener kepada Majelis Umum usai pemungutan suara.[]