News

Patuhi Aturan, Kementan Tunda Keberangkatan Petani Muda ke Jepang

Kementan memberikan kesempatan petani muda untuk belajar tentang tata kelola pertanian yang maju, mandiri dan modern di luar negeri


Patuhi Aturan, Kementan Tunda Keberangkatan Petani Muda ke Jepang
Peserta pelatihan petani muda Kementan (DOKUMEN)

AKURAT.CO Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) memberikan kesempatan kepada generasi muda khususnya petani muda untuk belajar tentang tata kelola pertanian yang maju, mandiri dan modern di luar negeri.

Salah satu negara yang menjadi tempat untuk belajar adalah Jepang. Namun, adanya kebijakan pembatasan masuknya WNA di Jepang termasuk asal Indonesia menyebabkan pemberangkatan peserta magang Jepang tertunda. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, penyiapan tenaga kerja harus dilakukan.

“Kita membutuhkan petani milenial yang siap bersaing secara global. Untuk itu, kemampuan tenaga tani harus disiapkan, salah satunya melalui program magang, Harapannya, ilmu yang diterima dapat diterapkan sekembalinya ke Indonesia," ujar Mentan Syahrul dalam keterangan resminya, Minggu (1/8/2021).

Menurutnya keberhasilan pertanian di Indonesia ini bukan karena alat mesin pertanian atau teknologi yang canggih tetapi dari SDM yang menggunakannya. Maka dari itu, calon peserta magang harus benar-benar memanfaatkan peluang ini sebaik-baiknya guna diterapkan lagi di Indonesia setelah selesai magang.

Senada dengan Mentan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi beberapa waktu lalu menyatakan bahwa petani milenial harus disiapkan untuk terjun ke bisnis pertanian.

"Baik bisnis pertanian level dalam negeri maupun di level internasional. Salah satu caranya dengan magang ke Jepang,” kata Dedi.

Pria yang akrab disapa Prof Dedi mengungkapkan bahwa pelatihan magang bagi pemuda tani ini adalah peluang yang bagus untuk meningkatkan kompetensi pemuda tani di Indonesia.

“Peserta akan dilatih mengenai teknis dan manajemen pertanian, bahasa jepang serta akan ditingkatkan fisik mental dan disiplinnya”, tambahnya.

Setelah pelatihan, peserta akan mengikuti tes bahasa melalui Japan Language Proficiency Test (JLPT) N4 atau Japan Foundation Test (JFT)-Basic A2 dan juga Tes Skill pertanian melalui Agriculture Skill Assesment Test (ASAT). Kedua sertifikat tersebut merupakan bagian dari persyaratan untuk mengajukan visa “Pekerja Berketerampilan Khusus” / Specified Skilled Worker (SSW)" (Visa Tokutei Ginou).

Terkait penundaan, Sekretaris BPPSDMP Siti Munifah menjelaskan seperti diketahui Indonesia memberlakukan PPKM Darurat yang membatasi pergerakan orang disemua kondisi, baik perkantoran, perdagangan, perhubungan dan lainnya  yg hrs dipatuhi oleh seluruh warga negara, tanpa kecuali. 

“Di Jepang sendiri pembatasan masuknya warga negara lain  termasuk Indonesia telah diberlakukan, karena tingginya lonjakan kasus penularan Covid 19  (Info: https://www.mofa.go.jp/ca/fna/page4e_001053.html)”, papar Munifah.

Secara teknis Kepala Pusat Pelatihan Pertanian (Kapuslatan) Lely Nuryanti menambahkan semua peserta pelatihan yang berjumlah 30 orang  telah mendapatkan pembekalan oleh Kementan di BBPP Kupang sudah didaftarkan tes Japan Foundation Test (JFT), tapi semua dicancel oleh penyelenggara tes JFT karena adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. (Info: http://ac.prometric-jp.com/testlist/jfe/jftbasic_indonesia.html).

“Namun, Kementan melalui BBPP Kupang memberikan alternatif untuk didaftarkan pada tes berikutnya, hanya saja jadwal tes JFT berikutnya memang tidak bisa dipastikan karena kondisi Covid-19 saat ini. Tes jft merupakan kewenangan penyelenggara tes, bukan kewenangan balai, sehingga balai juga tidak dapat memberikan kepastian tes," jelas Lely.

Lebih lanjut lely menjelaskan, tahun 2021 ini BPPSDMP juga memperoleh informasi mengenai pelatihan di Korea, sehingga dilakukan inisiasi terkait pelatihan tersebut. Pelatihan tersebut rencana dilakukan selama 90 hari.

Dan informasi peluang ini telah disampaikan kepada 30 peserta pelatihan magang Jepang dan 28 peserta yg bersedia dan mendaftar atas kemauannya sendiri. Dari 28 calon peserta telah terpilih 12 peserta yang akan diberangkatkan ke Jakarta untuk memperoleh pembekalan untuk persiapan bahasa.

“Kita semua berharap pandemi ini bisa segera usai, hingga kita bisa memberangkatkan petani muda kita melakukan magang baik di Jepang  maupun di negara lainnya," tutup Lely.[TIM]