Ekonomi

Patokan Target Pertumbuhan Ekonomi Jokowi Tak Realistis


Patokan Target Pertumbuhan Ekonomi Jokowi Tak Realistis
Suasana rapat paripurna DPR ke-6 masa persidangan I Tahun 2019-2020 di Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (17/12/2019). Adapun agenda rapat paripurna ke-6 ini di antaranya pembacaan laporan Badan Legislasi DPR RI terhadap Rancangan Peraturan DPR RI Tentang Tata Cara Penyusunan Prolegnas, dilanjutkan dengan pengambilan keputusan; pembacaan laporan Badan Legislasi DPR RI terhadap Prolegnas RUU Tahun 2020-2024, dilanjutkan dengan pengambilan keputusan. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan mengatakan target pertumbuhan yang dipasang pemerintah dalam pertumbuhan ekonomi dinilai tidak realistis di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) yang belum tuntas ditangani. Adapun angka pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 dipatok 4,5-5,5 persen.

Menurutnya hal itu lantaran kasus COVID-19 masih terus bertambah dan belum menunjukkan tanda-tanda akan tuntas. Sebab, penanganan COVID-19 menyerap anggaran yang tidak sedikit. Bercermin dari pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020 yang mengalami kontraksi cukup dalam, maka kontraksi kemungkinan masih terus berlanjut hingga kuartal III. 

"Optimisme yang tercermin dalam postur RAPBN 2021 menuai banyak kritik. Pertumbuhan ekonomi 4,5 persen hingga 5,5 persen dianggap tidak realistis di saat belum ada perkembangan positif atas penanganan Covid-19," ungkap Hergun, sapaan akrab Heri Gunawan dilansir dari website resmi DPR RI, Jum'at (14/8/2020).

Sebelumnya, Pemerintah dan DPR RI sudah menyepakati postur makro fiskal dan asumsi makro yang akan menjadi dasar pemerintah dalam menyusun RUU APBN 2021 beserta nota keuangannya.

Dalam Postur APBN 2021, sambung politisi Partai Gerindra itu, penerimaan negara ditargetkan mencapai 9,90 persen hingga 11 persen terhadap PDB. Belanja negara sebesar 13,11 persen hingga 15,17 persen. Dengan begitu, maka defisit APBN 2021 mencapai 3,21 persen hingga 4,17 persen. Untuk menutup defisit, rasio utang juga ditarget antara 36,67-47,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Ia juga menambahkan, capaian PDB pada kuartal II-2020 yang minus hingga 5,32 persen mengagetkan banyak pihak. Kontraksi ini lebih dalam dari konsensus pasar maupun ekspektasi Pemerintah dan Bank Indonesia di kisaran 4,3 hingga 4,8 persen. 

Total PDB pada kuartal II berdasarkan harga berlaku mencapai Rp 3.687,7 triliun. Sementara berdasarkan harga dasar konstan dengan tahun dasar 2010 mencapai Rp 2.589,6 triliun. 

"Struktur PDB Indonesia pada kuartal II tidak banyak berubah. Dari sisi produksi, sekitar 65 persen perekonomian masih dipengaruhi oleh lima sektor utama yaitu industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Dari kelima sektor penopang ini, hanya pertanian yang tumbuh positif," tutupnya.[]