News

Viral Pasien COVID-19 Meninggal di Pusat Karantina, Bukti Virus Corona Makin Menggila di Malaysia

Warganet Malaysia prihatin melihat video seorang pasien COVID-19 yang menerima CPR di pusat karantina, alih-alih ICU rumah sakit.


Viral Pasien COVID-19 Meninggal di Pusat Karantina, Bukti Virus Corona Makin Menggila di Malaysia
Tangkapan layar seorang pasien COVID-19 menerima CPR di pusat karantina Malaysia. (Tiktok/Hakaktravel)

AKURAT.CO, Virus corona semakin menggila di Malaysia. Sejak Rabu (19/5), jumlah kasus baru hariannya terus di atas angka 6 ribu. Bahkan, pada Minggu (23/5), angka tersebut memecahkan rekor dengan 6.976 kasus COVID-19 dalam sehari dan 49 kematian baru, menurut data Worldometer.

Sebuah video seorang pasien meninggal di pusat karantina pun viral baru-baru ini. Dalam video yang pertama kali diunggah oleh akun 'hakaktravel' di TikTok, terlihat seorang pasien positif COVID-19 menerima tindakan CPR. Ia diketahui dirawat di pusat karantina, alih-alih di ruang perawatan intensif (ICU). Sontak kejadian ini menuai keprihatinan masyarakat.

"Kapal kita tenggelam ketika kamu melihat dokter melakukan CPR di Pusat Karantina, alih-alih ICU rumah sakit. Jika tak ada tindakan cepat oleh kerajaan, jangan heran seandainya CPR dilakukan di tempat umum nantinya," komentar akun ismailyusofis.

Pasien tersebut diketahui bernama Abdul Malik bin Daim. Ia mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (23/5). Dokter pun menyatakan COVID-19 sebagai penyebab kematiannya. Tak hanya itu, ibunya juga meninggal di hari yang sama pada jam 2 dini hari akibat penyakit yang sama. Sementara itu, 4 anggota keluarga lainnya masih dikarantina.

Video tersebut menunjukkan betapa gawatnya situasi pandemi COVID-19 di Negeri Jiran. Warganet pun ramai-ramai menyematkan tagar 'KerajaanGagal' di media sosial. Mereka berharap kesadaran masyarakat meningkat dan ada tindakan penanggulangan yang lebih cepat dari pemerintah.

Sementara itu, menurut laporan The Star, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin masih enggan untuk memberlakukan lockdown total. Pasalnya, protokol tersebut akan berdampak pada kehidupan dan banyak orang akan kehilangan pekerjaan.

"Lakukan 'lockdown' Anda sendiri. Tolong tetap di rumah dan minta yang lainnya juga seperti itu," ungkapnya.

Menurutnya, jika masyarakat tak bisa bekerja, ekonomi akan anjlok dan perlu dipulihkan. Pemerintah pun harus menggelontorkan 340 miliar ringgit untuk paket stimulus.

"Itu bukan jumlah yang kecil. Jika kita menutup seluruh sektor ekonomi, kita akan menghadapi masalah yang lebih besar dan negara tidak akan pulih nantinya," dalihnya.

Jika kini ada lockdown lagi, Muhyiddin memperkirakan perlu menggelontorkan hingga 500 miliar ringgit untuk membantu masyarakat dan menstimulasi ekonomi lagi.

"Saya tidak ingin melihat masyarakat dikorbankan, tetapi saya tidak ingin ekonomi kita ambruk," terangnya.

Lebih lanjut, ia yakin ekonomi Malaysia akan lebih baik tahun ini, didorong oleh tindakan pemerintah serta kebangkitan perdagangan global.

"Pandemi COVID-19 mungkin belum berakhir, tetapi ekonomi kita sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Ekspor kita meningkat, begitu juga impor kita," pungkasnya.

Ia menambahkan kalau Program Imunisasi Nasional COVID-19 juga akan membantu meningkatkan sentimen dan prospek ekonomi. []