News

Pasien COVID-19 dengan Masker Oksigen Berjejalan Berbagi Kasur

Pasien COVID-19 dengan Masker Oksigen Berjejalan Berbagi Kasur


Pasien COVID-19 dengan Masker Oksigen Berjejalan Berbagi Kasur
Dua pasien COVID-19 dengan masker oksigen, tampak berbagi kasur di bangsal rumah sakit LNJP, Delhi, India (Reuters/Danish Siddiqui)

AKURAT.CO, Laporan situasi COVID-19 di India makin bermunculan terutama sejak negara ini menyalip Brasil sebagai negara kedua dengan infeksi tertinggi di dunia.

Seperti diberitakan Reuters baru-baru ini. Dua pasien COVID-19 di sebuah rumah sakit pemerintah sampai berbagi kasur. Padahal, kedua pasien tersebut dilaporkan tidak saling kenal.

Kondisi itu terekam dalam sebuah video yang memperlihatkan dua orang lelaki terbujur lemas di dalam sebuah ruangan sebuah rumah sakit. Keduanya memakai masker oksigen dan tampak terengah-engah. Sementara dalam adegan selanjutnya, terlihat lusinan petugas medis dengan seragamnya memadati aula rumah sakit.

Reuters sendiri tidak terlalu gamblang menjabarkan kondisi kedua pasien, termasuk identitas mereka. Namun, dikatakan bahwa keduanya berada di bangsal COVID-19 di Rumah Sakit Lok Nayak Jai Prakash Narayan (LNJP), Delhi.

India memang sedang santer-santernya diserang virus corona hingga negara ini berulang kali mencatatkan rekor infeksi. Pada Kamis (15/4) kemarin, infeksi harian di negeri ini dikonfirmasi mencapai lebih dari 200 ribu kasus. Itu tidak hanya jadi rekor India, tetapi juga yang tertinggi di dunia.

Sementara, dari laporan awal tahun ini, kasus harian infeksi di India rata-rata hanya mencapai di bawah 10 ribu kasus. Imbasnya, kini banyak rumah sakit di India yang akhirnya harus pontang-panting mengurus pasien COVID-19. Di antara yang adalah LNJP yang jadi salah satu fasilitas khusus COVID terbesar di India.

LNJP sendiri memiliki kapasitas tempat tidur mencapai lebih dari 1.500 unit. Namun, dokter di sana mengaku sudah kelebihan beban karena sejak Kamis, LNJP terus dibanjiri aliran ambulans yang membawa pasien COVID-19. Beberapa pasien bahkan sampai datang menggunakan bus hingga becak otomatis roda tiga.

Di antara mereka, ada seorang bayi yang baru lahir. Ia adalah yang termuda di antara pasien COVID-19 yang memadati LNJP.

"Kami jelas-jelas telah kelebihan beban. Kami sudah bekerja dengan kapasitas penuh," ujar direktur medis LNJP, Suresh Kumar.

Kewalahan para petugas medis LNJP ini juga tidak terlepas dari banyaknya pasien yang kritis. Mengingat, LNJP semula hanya menampung 54 pasien kritis, kini, angka tersebut sudah melambung hingga 300 orang.

"Hari ini kami menerima 158 penerimaan di Lok Nayak. Hampir semuanya merupakan kasus yang parah," sambung Kumar.

Sementara yang kritis terus memadati LNJP, sejumlah pasien lain terlihat berbagi tempat tidur, seperti yang digambarkan sebelumnya. Sedangkan, pemandangan lainnya adalah mayat-mayat pasien COVID-19 yang baru meninggal dan terbaring di luar bangsal.

Di luar rumah sakit, kerabat yang ditinggal tampak menangis di bawah terik matahari untuk menunggu korban dipulangkan dari kamar jenazah.

Salah satu keluarga korban, Prashant Mehra, bahkan mengungkap bahwa dia sempat membayar seorang perantara untuk perawatan istimewa kakeknya. Upaya itu terpaksa dilakukan karena Mehra tak punya pilihan lain. Kakeknya itu sudah berusia 90 tahun, dan rentan dengan serangan virus COVID-19.

Namun, cara tersebut akhirnya sia-sia karena kakeknya segera meninggal setelah dirawat.

Sementara LNJP belum memberi konfirmasi tentang masalah ini, Mehra kini menuntut uangnya kembali.

"Dia meninggal setelah enam atau tujuh jam. Kami sudah meminta uang kami kembali," ucap Mehra.

Terlepas dari masalah Mehra dan situasi LNJP, India sebenarnya sempat menjadi negara yang memberlakukan penguncian paling ketat di dunia. Namun setelah berjalan tiga bulan, pemerintah Narendra Modi justru melonggarkan pembatasan ketatnya mulai awal 2021 lalu.

Meski banyak wilayah yang sekarang telah memberlakukan pembatasan lokal, tetapi virus terlanjur menyebar. Kumar juga menjelaskan bahwa cepatnya laju transmisi ikut dipengaruhi oleh varian baru COVID-19 hingga acuhnya sikap warga terhadap protokol kesehatan.

"Orang-orang tidak mengikuti pedoman COVID. Mereka ceroboh," kata Kumar.

Kini, di balik situasi carut marutnya rumah sakit di Delhi, India secara keseluruhan mencatat infeksi lebih dari 14,2 juta kasus. Sedangkan, jumlah kematian menurut Worldometers adalah 174.335 kasus. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu