Ekonomi

Pasar Modal Dinilai Masih Jadi Lahan Investasi Menarik di Kala Pandemi

Pasar modal masih akan menjadi salah satu lahan investasi yang menarik bagi para investor di tengah pandemi Covid-19


Pasar Modal Dinilai Masih Jadi Lahan Investasi Menarik di Kala Pandemi
Suasana penutupan perdagangan pasar modal 2018 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/12/2108). Perdagangan bursa akhir 2018 diparkir pada level 6.194 poin. Angka tersebut di bawah pencapaian penutupan saham di 2017 yang mencatat penutupan perdagangan pada level 6.355,65 poin. (REUTERS)

AKURAT.CO Direktur Utama UOB Asset Management Indonesia Ari Adil mengungkapkan pasar modal masih akan menjadi salah satu lahan investasi yang menarik bagi para investor di tengah pandemi Covid-19. Bahkan Ari memprediksi adanya potensi penguatan IHSG menuju level 7.400.

Proyeksi tersebut didasarkan dari data rata-rata IHSG selama 10 tahun dengan asumsi kenaikan earning per share (EPS) 25% di tahun 2021, di poin +1 standar deviasi sebesar 17,4x price to earnings ratio (PER). 

"Arus investasi kemungkinan akan meningkat seiring dengan adanya Omnibus Law dan pemulihan ekonomi di tahun 202l1, yang akan mendorong pertumbuhan EPS dan menahan tren arus modal keluar," ujar Ari pada webinar Zoom yang diselenggarakan oleh Pluang, bekerja sama dengan PT UOB Asset Management Indonesia.

Ari menjelaskan Bank Indonesia (BI) masih memiliki kemungkinan untuk menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada semester I tahun ini. Dengan demikian, arus dana asing seharusnya kembali lagi ke Indonesia seiring minat investor yang akan beralih ke aset berisiko seperti saham untuk mendapatkan potensi keuntungan lebih tinggi.

"Selain potensi EPS yang bertumbuh, suku bunga acuan yang rendah juga akan menciptakan minat terhadap aset berisiko seperti saham," tuturnya mengutip keterangan resmi.

Di samping itu, Ari menyatakan bahwa rencana paket stimulus Covid-19 AS sebesar US$1,9 triliun juga akan mendatangkan inflow ke Indonesia. Stimulus diperkirakan mendorong aliran dana ke obligasi berdenominasi rupiah. Peristiwa ini akan mengurangi tekanan pada defisit transaksi berjalan dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Hal ini yang seharusnya mendorong harga komoditas dan menguntungkan Indonesia," imbuhnya.

Selain itu, ia menyebut bahwa sejak diresmikannya Omnibus Law sejak tahun lalu akan menjadi sentimen fundamental investasi paling kuat dalam jangka panjang. Bahkan, implementasi Omnibus Law juga bisa membawa Indonesia menjadi salah satu negara dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi terbaik dibandingkan negara lainnya di tahun ini.

"Fundamental jangka panjang Indonesia didukung oleh Omnibus Law, yang berpotensi memperbaiki iklim investasi Indonesia dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap komoditas," tandasnya.[]

Denny Iswanto

https://akurat.co