Olahraga

Pasangkan Owi dengan Butet, Richard Diejek Memilih Pemain Berkaki "Belut"

Richard Mainaky memasangkan Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir di Pelatnas PBSI sejak 2010.


Pasangkan Owi dengan Butet, Richard Diejek Memilih Pemain Berkaki
Pelatih ganda campuran Pelatnas PBSI, Richard Mainaky, saat ini sedang berusaha memoles pasangan baru untuk menjadi andalan Indonesia selepas kepergian Liliyana Natsir. (PBSI)

AKURAT.CO, Pelatih Kepala Ganda Campuran Pelatnas PBSI Cipayung, Richard Mainaky, mengungkapkan bahwa keputusannya untuk memasangkan juara Olimpiade Rio De Janeiro 2016, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, sempat mendapat kritikan. Terutama karena Tontowi dinilai tidak punya kekuatan pada tenaganya.

“Begitu di Pelatnas seleksi (pemain), enggak ada yang pilih kamu (Tontowi) saat itu kalau enggak salah,” kata Richard dalam wawancara dengan Tontowi dan Lilyana yang disiarkan di saluran Youtube PB Djarum, Sabtu (12/6).

“Begitu saya pilih, saya diserang, katanya ada yang bilang, ‘kaki (Owi) kayak belut gitu kamu enggak salah? Kamu punya mata enggak? Kaki kayak belut gitu kok dipilih, katanya lemes.”

Namun, Richard menegaskan bahwa keputusan memilih Owi–sapaan Tontowi–untuk menduetkan dengan Liliyana yang ketika itu sudah pernah duduk di posisi ranking satu dunia bersama Nova Widianto berdasarkan intuisinya. Padahal, ketika itu Owi tergolong atlet junior yang baru berusia 23 tahun.

Feeling sih, kata hati pertama sih,” kata Richard.

Cuma yang saya lihat itu begini Tet (Butet–sapaan Liliyana), dia punya kharisma bola-bola atas. Kalau ngana itu pemain depan itu sudah super spesial jadi yang butuh partner yang seperti Owi, yang mengandalkan bola-bola atas yang menyulitkan lawan.”

Keberhasilan Richard berpuncak pada keberhasilan Owi/Butet meraih medali emas Olimpiade Rio De Janeiro 2016. Prestasi tersebut juga menorehkan sejarah baru di mana sektor ganda campuran Indonesia untuk kali pertama meraih medali emas setelah sebelumnya adalah ganda putra, tunggal putri, dan tunggal putra.

Liliyana juga mengaku terkesan dengan karakter Richard yang tak pernah membedakan porsi latihan atlet putra dan putri di sektor ganda campuran yang disebutnya dengan julukan “raja tega”.

Saudara juara Olimpiade 1996 Rexy Mainaky ini justru mengatakan pemikiran untuk membedakan porsi latihan antara putra dan putri di ganda campuran adalah hal yang salah.

“Itu salah, pikiran dia perempuan dia laki-laki. Enggak boleh, itu mesti sama, hadiah bagi sama. Kalau mau beda, dia cowok 70 persen, cewek 30 persen dong,” kata Richard.[]