News

Parwa Institute, Dinamika Friksi Parpol Mampu Matangkan Sistem Demokrasi Indonesia

Parwa Institute, Dinamika Friksi Parpol Mampu Matangkan Sistem Demokrasi Indonesia
Parpol Peserta Pemilu 2019 (AKURAT.CO)

AKURAT.CO Partai Politik (Parpol) menjadi salah satu pilar sistem demokrasi, begitupun demokrasi Indonesia yang diperkuat oleh peran dan fungsi Parpol. Namun, perselisihan dan/ atau perpecahaan (Friksi) yang terjadi di Parpol menyisahkan dampak positif dan negatif.

Jansen Sitindaon, Wasekjend DPP Demokrat, mengungkapkan perpecahan Parpol sudah lama terjadi, bahkan sebelum Indonesia merdeka baik di partai Serikat Islam maupun Partai Komunis Indonesia, dan kemudian 1955 dengan lahirnya partai NU dari Parta Masyumi. Hari ini, katanya, sudah terdapat Mahkamah Partai sebagai solusi perselisihan.

“Konflik tidak bisa lepas dari Parpol, tetapi UU Parpol No.2 Thn 2011 Parpol harus membuat organ baru yang namanya Mahkamah Partai. Jenis-jenis konflik apa saja yang menjadi kompetensi absolut Mahkamah Partai untuk memeriksanya. Mahkamah Partai menjadi syarat mutlak yang memiliki wewenang khusus untuk memeriksa dan menyelesaikan perselisihan yang ada dalam Parpol,” tuturnya.

baca juga:

Itu disampaikan Jansen dalam program Bioskop Politik (Biotik) dengan tema “Dinamika Friksi Parpol, Siapa yang Beruntung?” yang diselenggarakan oleh Party Watch (Parwa) Institute pada 8 April 2021 via Zoom Meeting.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota DPR-RI dari Fraksi PDI-P Rifqi Karsayuda menegaskan friksi menjadi ujian bagi setiap Parpol untuk menuju pendewasaan kelembagaan partai. Konflik, lanjutnya, ada yang diciptakan dan ada yang bersifat alamiah, begitupun yang terjadi di PDI.

“Kami tahu betul dalam partai kami, banyak faksi, namun kita berusaha agar di internal bising-bising diminimalisir. Pada dasarnya ada konflik alamiah dan ada konflik yang diciptakan. Konflik justru mendewasakan partai politik karena dengan konflik Parpol akan mendapatkan arus,” lugasnya.

“Salah satu yang terdampak dari Friksi Parpol termasuk di PPP adalah para jagoan-jagoan yang ada di daerah, apalagi secara psikologis terganggung dengan adanya ancaman-ancaman. Begitupun dengan kader partai yang akan maju di Pilkada, kemanakah rekomendasi akan dikeluarkan. Banyak dampak-dampak negative yang ditimbulkan,” ungkap Ketua DPP PPP Rendhika Harsono.

Ahmad Fathul Bari, Wasekjend DPP PKS, menilai friksi adalah hal yang lazim dalam kehidupan ini termasuk di Parpol dan perbedaan pendapat sudah menjadi wajar dalam alam demokrasi. Friksi, ujarnya, menjadi hal yang menarik bagi masyarakat, bisa jadi dinikmati masyarakat misalnya di Demokrat.

“Kita bisa menilai hasil Pemilu atau survei terkini terkait dengan siapa yang beruntung (dari lahirnya Gelora dari PKS-red), dan yang menentukan juga latar partai. Di PKS tidak ada figur sentral, dan semua kader memiliki rasa kepemilikan atau saham ke partai. Generasi saya yang masih muda-muda melihat itu hal yang membawa pematangan Parpol,” tegasnya.

Erizky Bagus

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu