Lifestyle

Partikel yang Bahayakan Pernapasan Ada Tiap Saat di Sekitarmu

Tubuh memiliki mekanismenya sendiri ketika harus menghadapi debu yang terhirup


Partikel yang Bahayakan Pernapasan Ada Tiap Saat di Sekitarmu
Webinar Nafas (Dok. Nafas)

AKURAT.CO, Pada tahun 2019, Jakarta tercatat sebagai kota ke-4 terpolusi di dunia. Bukannya mengalami perbaikan atau peningkatan kualitas udara, udara Jakarta justru terus mengalami penurunan. Bahkan jumlah hari dengan kualitas udara tidak sehat pun meningkat cukup jauh. Akibat dari pencemaran udara ini, diperkirakan sekitar 5.5 juta penduduk Jakarta mengalami infeksi saluran pernapasan.

Paparan polusi udara dapat memengaruhi keadaan kesehatan masyarakat. Di udara sendiri terdapat PM2.5, suatu partikel sangat kecil yang bentuknya pun bahkan lebih kecil dari sel darah merah dan dapat berbahaya bagi kesehatan. Saking kecilnya partikel tersebut, bila PM2.5 terhirup saat bernapas, maka partikel ini bisa mencapai di bagian terkecil dalam paru-paru.

Tubuh memiliki mekanismenya sendiri ketika harus menghadapi debu yang terhirup. Namun bila terlalu banyak jumlahnya, tubuh akan kesulitan untuk mengeluarkan partikel tersebut. PM2.5 yang terhirup hingga paru-paru dapat mengakibatkan terjadinya peradangan lokal dan membuat penyakit pernapasan yang diderita seseorang menjadi kambuh.

Selain itu, menyebarnya PM2.5 dalam darah dapat mengakibatkan terjadinya stroke hingga berbahaya untuk janin. Bahkan bila telah menumpuk dalam waktu yang lama, maka akan memicu munculnya kanker pada paru-paru. Diperkirakan jumlah PM2.5 yang mengendap selama 1 hari dalam tubuh jumlahnya akan sama dengan keadaan ketika kita menghirup rokok.

“Karena kecil sekali, saat masuk ke paru akan bisa langsung masuk ke pembuluh darah. Dari pembuluh darah itu dibawa dan menyebar ke seluruh tubuh. Bisa menyebabkan stroke, serangan jantung, gagal jantung, bahkan bisa juga berpengaruh untuk janin karena kan disalurkan lewat darah,” jelas Dr. Erlang Samoedro, Dokter Spesialis Paru sekaligus Sekjen Perhimpunan Dokter Paru Indonesia dalam webinar yang diselenggarakan oleh Nafas.

Oleh karena itu, penting untuk selalu memeriksakan keadaan udara sebelum beraktivitas dan berolahraga di luar rumah. Dengan melakukan pengecekan secara rutin, maka kamu akan tahu kapan waktu yang tepat untuk melakukan aktivitas fisik di luar.

Dalam acara yang sama, Adinda Sukardi, seorang atlet lari, membagikan pengalamannya yang dapat menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya mengetahui tingkat polusi di udara.

Adinda pernah mengalami permasalahan pernapasan akibat melakukan aktivitas olahraga di luar ketika kualitas udara sedang buruk. Saat itu, Adinda sedang berada di Shanghai dan memutuskan untuk berlari di tengah cuaca dingin. Udara kala itu berkabut namun ia mengira itu hanyalah kabut karena udara dingin. Namun, setelah berlari sejauh 4 kilometer, Adinda mulai merasakan nafasnya berbunyi atau wheezing.

“Gara-gara itu, kondisi wheezing saya memanjang sampai 2 tahun dan kualitas performance jadi menurun. Padahal saat itu lagi kondisi terbagus yang pernah saya rasain,” jelas Adinda.