News

Parlemen Lebanon 8 Kali Gagal Pilih Presiden Baru, Nasib Pengungsi Suriah Terkatung-katung

Parlemen Lebanon 8 Kali Gagal Pilih Presiden Baru, Nasib Pengungsi Suriah Terkatung-katung
Para pengungsi Suriah telah menghadapi situasi yang putus asa meski telah melarikan diri dari perang (Reuters)

AKURAT.CO Perdana Menteri (PM) Sementara Lebanon Najib Mikati telah mendesak masyarakat internasional untuk bekerja sama membantu mengakhiri krisis pengungsi Suriah. Hal ini dipicu lantaran Lebanon terus menghadapi kebuntuan politik, di mana pada Kamis (1/12), parlemen kembali gagal memilih presiden baru. Itu menjadi kedelapan kalinya parlemen gagal mencapai konsensus, membuat Lebanon makin terjerumus dalam kebuntuan politik.

Mengatasi itu, Ketua Parlemen Nabih Berri memberi jadwal sesi pemungutan suara baru, dengan sesi pemilihan ke-9 akan digelar pada Kamis depan.

Sebagaimana diwartakan Arab News, Mikati pada Kamis telah bertemu dengan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Filippo Grandi. Dalam diskusi itu, Mikati mendesak PBB dan komunitas internasional agar ikut turun tangan, membantu menyelesaikan masalah pengungsi, lantaran Lebanon kini berada dalam kesulitan politik hingga ekonomi.

baca juga:

"Kantor Hak Asasi Manusia PBB dan organisasi internasional terkait lainnya harus berkoordinasi dengan pemerintah Lebanon melalui badan yang kompeten untuk menyelesaikan dilema ini. Masalah ini telah memberi lebih banyak tekanan pada Lebanon, karena negara tidak lagi memiliki kapasitas untuk keuangan, layanan, dan politik untuk menanggung dampaknya. Prioritas untuk tahap ini adalah mengembalikan para pengungsi Suriah dengan sukses ke negara mereka setelah situasi di sana stabil," kata Mikati.

Parlemen Lebanon 8 Kali Gagal Pilih Presiden Baru, Nasib Pengungsi Suriah Terkatung-katung - Foto 1
 Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri telah menjadwalkan sesi pemilihan kesembilan untuk Kamis depan-AFP/File

Para delegasi yang mendampingi Grandi dalam kunjungannya ke Beirut antara lain perwakilan Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi di Lebanon Ayaki Ito dan Deputi Koordinator Khusus PBB di Lebanon Imran Riza.

Diperkirakan ada sekitar 1,5 juta pengungsi Suriah di Lebanon, dengan sekitar 880 ribu di antaranya terdaftar di UNHCR. Sekitar 400ribu dari mereka adalah pekerja.

Dilaporkan bahwa sebelumnya, Lebanon memiliki agenda untuk mendeportasi hingga 15 ribu pengungsi Suriah per bulannya. Namun, jumlah itu tidak disetujui, dan beberapa keluarga memutuskan untuk mundur karena ketakutan. Organisasi internasional telah memperingatkan tentang pemulangan paksa pengungsi, menyarankan agar langkah itu dihindari sampai setidaknya keamanan didirikan di Suriah

Di sisi lain, Lebanon makin terasa terbebani, dengan Mikati kemudian memberi 'ancaman terhadap negara-negara Barat'. Ia pun memperingatkan sekitar dua bulan lalu, bagaimana Lebanon bisa saja 'mengambil posisi yang tidak diinginkan negara-negara Barat dengan mengusir para pengungsi Suriah melalui jalur hukum'. Langkah ini, kata Mikati, akan diambil Lebanon jika komunitas internasional tidak mau bekerja sama.

Usai pertemuan pada Kamis, Grandi mengeluarkan pernyataan dukungan untuk Beirut, menekankan tentang besarnya tantangan yang dihadapi Lebanon.