Lifestyle

Parental Burnout Akan Terjadi pada Bunda dengan Multiperan

Bunda memiliki risiko yang tinggi terhadap masalah stres, parental burnout bahkan depresi karena melakuakn multiperan, sebagai ibu, istri dan pekerja


Parental Burnout Akan Terjadi  pada Bunda dengan Multiperan
Ilustrasi ibu sekaligu pekerja wanita yang sedang menghalami parental burnout (Onlymyhealth)

AKURAT.CO, Parental burnout atau kelelahan mengurus anak belakang ini menjadi populer semenjak pandemi Covid-19. Mungkin kamu sering melihat status media sosial temanmu, yang secara tidak langsug mengungkapkan mereka terkena parental burnout karena lelah mengajarkan anak sekolah online.

Psikolog dari Tiga Generasi yakni Putu Andani, mengatakan bahwa Istri atau Bunda memiliki risiko yang tinggi terhadap masalah stres, parental burnout bahkan depresi, yang akan memberikan dampak yang buruk pada anak dan pasangannya.

"Cara membedakannya gimana? Kalau stres itu lebih singkat waktunya, cepat banget kita bangkitnya. Kalau burnout ini kelelahan yang luar biasa secara mental," ujar Putu dalam diskusi daring berjudul "Tips Para Ibu Hadapi Tantangan 2021", dikutip Kamis, (16/9).

Putu mengatakan, parental burnout memiliki berbagai dampak seperti timbulnya jarak dengan anak. Misalnya, Bunda merasa bahwa mengurus anak merupakan sebuah pekerjaan yang tidak lagi membutuhkan kedekatan emosional hanya mencukupi kebutuhan pangan, sandang dan pendidikan anak agar dikira bertanggung jawab.

"Karena kita sebenarnya penginnya istirahat sejenak mengurusi keluarga tapi nggak bisa, akhirnya kita ke anak hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya aja bukan kebutuhan emosionalnya," sambungnya.

Menurut Putu, parental burnout biasanya disebabkan oleh multiperan yang dijalani oleh seorang ibu, seperti menjadi diri sendiri, ibu, istri, pekerja dan guru karena harus mengajarkan anak sekolah online. 

Kelima tugas ini merupakan sebuah pengalaman baru yang tiba-tiba harus dilakukan di saat pandemi Covid-19 ini, sehingga menyebabkan banyak ibu mengalami parental burnout.

"Riset dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), mengatakan bahwa 2020 ini berat sekali khususnya para ibu. Karena adaptasi yang dilakukan para ibu luar biasa besarnya. Peran yang sangat banyak ini perlu diadaptasikan sehingga tingkat stres terus meningkat," katanya.

Untuk mengatasi parental burnout, yang harus dilakukan Bunda adalah beristirahat sejenak dari rutinitas harian. Saat mengambil jeda, Bunda bisa bercerita atau bertukar pikiran tentang permasalahan mengurusi anak dan suami pada sahabat, kakak atau adik bahkan orangtua. 

Lalu, meregulasi apa saja yang harus dilakuakn agar mengurusi anak tak melelahkan lagi, hingga memberikan afirmasi positif pada diri sendiri.

"Kalau misalnya burnout ini terjadi, wajib take a break, karena badan kita sama pikiran kita itu udah nggak sinkron, bonding-nya udah nggak kerasa. Kalau hal-hal itu sudah kita lakukan dan hal-hal itu masih terjadi segera kontak ahli," pungakasnya.[]