Rahmah

Panitia Kurban Mengambil Kulit atau Daging Kurban, Bolehkah?

Sering ditemui panitia yang juga sekaligus penjagal mengambil kulit atau jatah daging hewan. Bagaimana hukumnya?


Panitia Kurban Mengambil Kulit atau Daging Kurban, Bolehkah?
Ilustrasi daging hewan kurban (pixabay.com)

AKURAT.CO Sebentar lagi umat muslim akan melaksanakan ibadah penyembelihan hewan kurban, tepatnya pada 10, 11, dan 12 Dzulhijah.

Dalam praktik yang terjadi di tengah masyarakat, tidak jarang ditemui panitia kurban sekaligus menjadi tim jagal. Sering, panitia tersebut mengambil kulit atau jatah daging hewan. Bagaimana hukumnya?

Dilansir NU Online, jika bagian dari hewan kurban (termasuk kulit dan daging) diberikan kepada panitia yang sekaligus penjagal tadi, maka hukumnya haram. Akan tetapi, jika pemberian tersebut diniati sedekah maka boleh.

baca juga:

Dasar hukum ini adalah penjelasan Syekh Nawawi Banten dalam Tausyikh ala Ibni Qasim (halaman 272) berikut,

(ويحرم أيضا جعله) أي شيئ منها (أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع (ولو كانت الأضحية تطوعا) فإن أعطى للجزار لا على سبيل الأجرة بل على سبيل التصدق جزءا يسيرا من لحمها نيئا لا غيره كالجلد مثلا، ويكفي الصرف لواحد منهم، ولا يكفي على سبيل الهدية

Artinya, “(Menjadikannya) salah satu bagian dari kurban (sebagai upah bagi penjagal juga haram) karena pemberian sebagai upah itu bermakna ‘jual’, (meskipun itu ibadah kurban sunnah). Jika kurbanis memberikan sebagian daging kurban mentah, bukan selain daging seperti kulit, kepada penjagal bukan diniatkan sebagai upah, tetapi diniatkan sebagai sedekah (tidak masalah).”

“Pemberian daging kurban kepada salah satu dari penjagal itu memadai, tetapi pemberian daging kepada penjagal tidak memadai bila diniatkan hadiah.”

Lebih luas lagi, Syekh M Ibrahim Baijuri dalam Hasyiyatul Baijuri (juz 2, halaman 311) menjelaskan bahwa pemberian kulit atau daging kepada panitia yang sekaligus penjagal boleh jika diniati sedekah atau sebagai hadiah. Berikut penjelasannya,

(ويحرم أيضا جعله أجرة للجزار) لأنه في معنى البيع فإن أعطاه له لا على أنه أجرة بل صدقة لم يحرم  وله إهداؤه وجعله سقاء أو خفا أو نحو ذلك كجعله فروة وله إعارته والتصدق به أفضل

Artinya, “(Menjadikan [daging kurban] sebagai upah bagi penjagal juga haram) karena pemberian sebagai upah itu bermakna ‘jual’. Jika kurbanis memberikannya kepada penjagal bukan dengan niat sebagai upah, tetapi niat sedekah, maka itu tidak haram.”

“Ia boleh menghadiahkannya dan menjadikannya sebagai wadah air, khuff (sejenis sepatu kulit), atau benda serupa seperti membuat jubah dari kulit, dan ia boleh meminjamkannya. Tetapi menyedekahkannya lebih utama.”

Demikian penjelasan status pemberian daging atau kulit hewan kurban kepada panitia yang sekaligus penjaga. Semoga bermanfaat![]

Sumber: NU Online