News

Panen Guru Besar, UIN Sunan Gunung Djati Kembali Raih Rekor MURI

Panen Guru Besar, UIN Sunan Gunung Djati Kembali Raih Rekor MURI
Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati. (Repro)

AKURAT.CO Untuk kali kedua UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, menerima Penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) atas Pengukuhan Guru Besar Terbanyak di Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri.

Penghargaan diberikan dalam Sidang Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar yang digelar secara luring dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube UIN Sunan Gunung Djati, Kamis (8/12/2022).

"Kami atas nama keluarga besar Senat Universitas UIN SGD Bandung, selamat dan sukses kepada para guru besar yang dikukuhkan. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT, kegiatan Pengukuhan Guru Besar hari ini berada pada momentumnya sangat tepat ketika UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang dipimpin oleh Prof. Dr. K.H. Mahmud, M.Si, sedang cemerlang dengan berbagai prestasi yang mengagumkan, baik level nasional maupun internasional," jelas Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir MS.

baca juga:

Capaian prestasi tersebut di antaranya pencapaian jumlah guru besar yang sangat tinggi. Jika pada masa awal kepemimpinan Prof. Dr. K.H. Mahmud, M.Si guru besar hanya berjumlah 20 orang, maka hari ini tercatat 52 orang atau naik sekitar 175 persen. 

"Hari ini adalah panen raya guru besar jilid II dengan mengukuhkan 14 orang guru besar, sehingga mendapat penghargaan dari Museum Rekor Dunia-Indonesia. Tentu dengan harapan para guru besar yang baru dikukuhkan ini semakin produktif dengan melahirkan karya ilmiah yang inovatif untuk kemajuan UIN SGD Bandung," katanya.

Dalam salinan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Menteri Agama yang dibacakan oleh Wakil Rektor I, Prof Dr H Rosihon Anwar MAg, merinci 14 guru besar itu adalah Prof. Dr. H. Chaerul Rochman, M.Pd. CIQaR, Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK); Prof. Dr. Hj. Yani Suryani, M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Mikrobiologi Fakultas Sains dan Teknologi (FST); Prof. Dr. H. Dindin Solahudin, MA., CHRA., Guru Besar Bidang Ilmu Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK); Prof. Dr. H. Encup Supriatna, M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP); Prof. Dr. H. Hasan Bisri, M.Ag., CSEE., Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Islam Fakultas Syariah dan Hukum (FSH); 

Prof. Dr. H. A. Rusdiana, M.M., Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK); Prof. Dr. Hj. Yayan Rahtikawati, M.Ag., Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Islam Fakultas Adab dan Humaniora (FAH); Prof. Dr. H. Bambang Qomaruzzaman, M.Ag., Guru Besar Bidang Ilmu Kebijakan Pendidikan Fakultas Ushuluddin (FU); Prof. Dr. H. Ahmad Sarbini, M.Ag., MMC., Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK); Prof. Dr. Jajang A. Rohmana, M.Ag., Guru Besar Bidang Ilmu Tafsir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Kemudian Prof. Dr. H. Badrudin, M.Ag., CIIQA, CEAM, Guru Besar Bidang Ilmu Administrasi Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK); Prof. Dr. H. Adon Nasurullah Jamaludin, M.Ag., CSR., Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP); Prof. Dr. H. Izzuddin Mustofa, MA., Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK); Prof. Dr. H. Wawan Hernawan, M.Ag., Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin (FU).

Dalam sambutannya, Prof Mahmud mengajak kepada 14 guru besar untuk terus bersyukur dan bertakwa dengan meningkatkan kualitas keilmuan agar hidup bermanfaat. 

"Karena semakin tinggi mencapai gelar seharusnya meningkat takwa. Caranya dengan bersyukur, tingkatkan ketakwaan. Guru besar itu harus bijak dalam berucap dan bertindak karena semua ucapan, tindakannya jadi teladan, rujukan," jelasnya. 

Prof Mahmud mengingatkan civitas akademika untuk selalu berbagi terhadap sesama sebagai bagian dari bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas capaian yang diraih, termasuk juga guru besar. 

"Kebiasaan saya, setiap memiliki jabatan baru, tunjangan pertama saya berikan kepada orang tua, mulai gaji pertama CPNS, kajur, wakil dekan. Meskipun pada saat menjadi dekan, rektor sudah tiada. Beruntunglah yang masih memiliki orang tua, relakan dan ikhlaskan tunjangan pertama untuk kedua orang tua supaya mendapatkan keberkahan," jelasnya. 

Prof Mahmud berharap kehadiran 14 guru besar di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati dapat memberikan kontribusi positif dalam mewujudkan kampus yang unggul dan kompetitif. 

"Imam Al-Ghazali mengingatkan kepada kita pertama yang dilihat itu dari tampilanya, setelah itu isi ilmunya. Saya ingin tampilan guru besar di kampus PTKIN harus menjadi pelayan, bukan ingin dilayani, bijak dalam berucap, bertindak dan berusaha untuk menghadirkan perilaku Islami. Tolong ingatkan, jangan punya bayangan sudah jadi guru besar punya peningkatan, memang sangat ditunggu pendapatannya tapi kecil pendapatan, kadang-kadang pas-pasan, asal berkah, pandai-pandailah bersyukur," pesannya.