Lifestyle

Panduan Hadapi Anak yang Clingy

Anak berusia 18-25 bulan cenderung menjadi posesif dan clingy bahkan jika sang ibu sudah memberi mereka perhatian yang cukup.


Panduan Hadapi Anak yang Clingy
Ilustrasi anak yang clingy (HUFFPOST UK)

AKURAT.CO, Semua anak membutuhkan perhatian yang membuatnya merasa bahagia dan dicintai. Jika merasa diabaikan, Si Kecil mungkin akan menangis dan bahkan sedikit mengamuk. Meskipun ini normal, beberapa balita menjadi posesif dan clingy bahkan jika sang ibu sudah memberi mereka perhatian yang cukup. Adapun clingy adalah perilaku seseorang yang ingin selalu dekat dan selalu bergantung pada orang lain.

Anak berusia 18-25 bulan cenderung clingy alias sangat lengket dengan orangtuanya, terutama kepada ibu. Kondisi ini bisa jadi karena kecemasan atau perubahan di lingkungan/rutinitas mereka.

Sekilas, ini terlihat menyenangkan karena kamu bisa selalu dekat dengan Si Kecil. Namun, pada tingkat tertentu, clingy si Kecil ini  bisa membuatmu tidak bisa melakukan apapun.

Dia ingin berada di dapur bersama kamu sepanjang waktu. Dia menangis ketika kamu pergi mandi. Intinya, Si Kecil selalu mengeluarkan air mata jika kamu tidak berada di sampingnya. 

Tak hanya itu saja, melansir Cleveland Clinic, clingy tidak baik untuk perkembangan anak. Si Kecil perlu belajar kemandirian dan melakukan berbagai hal sendiri.

“Buat anak terbiasa dengan banyak orang yang berbeda sejak awal, tetapi pastikan mereka memiliki keterikatan yang kuat denganmu, dengan menghabiskan banyak waktu berkualitas bersama. Anak-anak yang terhubung dengan aman cenderung tidak clingy," kata Amanda Gummer dari Fundamentally Children.

Berikut AKURAT.CO rangkum beberapa tips untuk mengubah perilaku clingy Si Kecil, Senin (27/9/2021): 

  • Cobalah untuk mengidentifikasi alasan anak menjadi clingy. Sudahkah kamu menghabiskan cukup waktu berkualitas dengannya?
  • Hindari untuk hanya fokus kepada dirimu sendiri. Ingat, ini selalu tentang anak kamu.
  • Jangan pernah memarahinya.
  • Buat Si Kecil sibuk dengan berbagai kegiatan, seperti buku mewarnai dan krayon, balok bangunan, dan mainan edukatif lainnya. Ini akan mengalihkan pikirannya dari kamu.
  • Bicaralah kepada Si Kecil dengan lembut. Buat dia mengerti bahwa melakukan hal-hal seperti menangis atau menyebabkan adegan dramatis untuk mendapatkan perhatian kamu tidak baik.
  • Cobalah untuk tidak berbicara dengan suara keras, baik melalui telepon atau secara langsung, saat Si Kecil ada. Itu mungkin membuatnya merasa cemas, dan selalu ingin bersama kamu. 

Lain kali, pada saat anak mulai menangis karena kamu tidak berada di dekatnya, pahamilah bahwa itu adalah fase clingy balita.[]