Ekonomi

Pandemi Pukul Keuangan Garuda, Dana Talangan Pun Masih Wacana


Pandemi Pukul Keuangan Garuda, Dana Talangan Pun Masih Wacana
Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra saat wawancara eksklusif oleh Akurat.co di area perkantoran Gedung Garuda City Center, Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (11/8/2020).

AKURAT.CO Pandemi Covid-19 menyebabkan guncangan ekonomi terhadap semua sektor Industri di Indonesia. Salah satu industri yang mengalami dampak paling dalam adalah sektor transportasi, khususnya dalam industri penerbangan.

Sektor transportasi terdampak pandemi Covid-19 karena pembatasan pergerakan manusia. Masyarakat enggan bepergian karena takut tertular penyakit tersebut.

Akibat terpuruk, sejumlah maskapai penerbangan domestik diketahui ada yang mengalami kesulitan finansial. Hal tersebut juga menimpa PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, sebagai maskapai kebanggaan Indonesia, yang tengah menghadapi guncangan bisnis di kala pandemi.

baca juga:

Tim Akurat.co berkesempatan untuk mewawancarai secara langsung dan eksklusif Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dan menanyakan perihal dampak pandemi ini. Berikut kutipan wawancaranya:

Dampak Covid-19 ke keseluruhan bisnis Garuda memang seperti apa?

Memang akhirnya pandemi ini muncul gitu kan? Pada waktu awalnya muncul, ya kita melihat bahwa apa mungkin masuk Indonesia ya? Ya kan. Tapi memang magnitude dari problemnya itu kita juga cukup kaget dan memang kekagetan utama yang muncul di kami, di Garuda ini adalah ketika pemerintah Saudi Arabia melarang umrah. Kita di situ baru realize oh, ini impactnya besar sekali ke kita.

Dirut Garuda Irfan Setiaputra. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Tapi even pada waktu umrah ditutup, domestik kita seperti tidak ada apa-apa, masih jalan, dan masih padat. Orang di Indonesia masih everything is oke gitu kan? Kita saling percaya tidak ada masalah apa-apa. Karena memang ketika berkembangnya waktu, dan ketika Presiden Jokowi mengumumkan munculnya penderita Covid-19 pertama di Indonesia, di situlah semuanya berubah gitu kan? Dan memang akhirnya kita, airlines terkena impact yang langsung.

Jadi ya memang kalau anda bicara kasat mata itu, anda mikir oh umrah ditutup tidak boleh pergi haji, oh dilarang mudik, tapi yang ingin saya sampaikan adalah pendapatan jumlah penumpang kita turunnya sampai di level lebih dari 90 persen, dan itu terjadi di bulan Mei. Kenapa? Karena umrah mulai terhenti, bulan april, tapi di bulan Mei ada satu peak season dan itu adalah masa kita panen, yaitu mudik, dan tiba-tiba mudik juga dilarang kan. Jadi pulang kampung dibolehkan tapi mudik dilarang.

Intinya adalah terjadi aktivitas itu dan kemudian muncullah aturan-aturan baru untuk orang, terbang. Banyak pihak, ini sesuatu yang baru, semua orang musti tapi semua itu terjadi di bulan yang bersamaan yaitu bulan Mei.

Jadi kalau anda tanya implikasi yang paling sederhananya, ya pendapatan income kita turun lebih dari 90 persen, jumlah penumpang juga turun lebih dari 90 persen. Akibatnya apa? Ya penumpang-penumpang yang tadinya sudah booking, cancel semua. Ini ada persoalan-persoalan yang muncul dan akhirnya pesawat-pesawat kita hampir 70 persen parkir di luar sini semua.

Pada saya pertama di sini, sepi nih parkiran pesawat, tapi sekarang boleh dibilang pesawat parkir karena ya tidak ada penumpang, tidak ada rute yang perlu kita terbangkan karena belum ada penumpangnya. Jadi bulan Mei itulah terjadi situasi yang paling memukul buat perusahaan kita dari sisi pendapatan maupun jumlah penumpang.

Tapi ya harus diakui juga itu terjadi di seluruh industri penerbangan, di seluruh dunia gitu kan. Dan semua negara bikin aturan masing-masing yang makin mempersulit untuk pesawat, terbang ke lokasi-lokasi yang selama ini dijanjikan.

Jadi anda juga memonitor juga atau maskapai penerbangan yang upmodel, seperti Hongkong Pasific, Emirates sama Etihad, itu kan maskapai yang modelnya hub, jadi ga kemana-mana berhenti ditempatnya itu. Basically berhenti pada waktu itu, karena banyak negara menutup perbatasannya, menutup orang asing masuk ke dalam negaranya. Jadi itu yang terjadi.

Apalagi penerbangan Haji kan memang jadi penerbangan utama Garuda kan, bagaimana proses recovery bisnisnya?

Nah setelah lebaran memang banyak upaya-upaya dari regulator dalam hal ini khususnya dipimpin oleh departemen perhubungan. Kita terus-menerus komunikasi sama mereka, melalukan review terhadap aturan yang dibolehkan apa sih yang perlu kita relaksasi dan segala macam.

Sudah mulai ada peningkatan-peningkatan penerbangan maupun jumlahnya masih dalam skala, kalau buat Garuda masih di sekitar 20 persen dibandingkan sebelum Covid-19. Jadi contohnya kalau ada 100 penerbangan sebelum Covid-19 sekarang tinggal 20, kalau ada 100 penumpang ya plus minus tinggal 20 penumpang.

Ya jadi kita sedang bekerja sama dengan asosiasi, bekerjasama juga dengan semua otoritas penerbangan, bekerjasama dengan regulator untuk pastikan bahwa jumlah penumpangnya dan penerbangannya itu bisa kembali ke masa-masa sebelum Covid-19.

Tapi di situ seperti yang anda katakan, mulai terlihat indikasi-indikasi kenapa proses recoverynya bisa lama. Kenapa? Karena ternyata publik masih posisinya wait and see.

Dirut Garuda Irfan Setiaputra. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Ya kita melakukan riset internal kita dan menemukan bahwa sekitar 70 persen penumpang rutin kita tuh memberi tahu bahwa mereka akan wait and see. Jadi mereka mau lihat dululah situasinya. Ini buat kita kan jadi masalah kalau orang tidak terbang-terbang kan. Apalagi wait and see nya lebih dari 6 bulan.

Tapi di dalam perjalananya kita juga tahu akhirnya banyak masyarakat merasa khawatir terbang. Kenapa? Karena informasi yang mereka terima itu salah, atau tidak lengkap. Jadi hari ini kita terus menerus, dari beberapa minggu yang lalu sih, kita terus menerus informasikan dan kampanyekan bahwa terbang dengan Garuda itu aman, dan kita juga jaga kenyamanan terbang gitu.

Dengan kondisi bisnis yang terkena pandemi seperti ini apa akan ada penambahan utang lagi, dan apa sudah utang lama yang direstrukturisasi?

Ya balik lagi lah, ini sebenarnya situasinya begini, hanya saja dengan magnitudenya besar dengan perusahaan seperti Garuda yang semua orang tahu kita nasional flight carrier, jadi semua orang sangan konsen dan kita berterimakasih karena banyak yangg mencintai Garuda. Dan pemerintah juga dukung kami.

Jadi balik lagi situasinya, pendapatan menurun drastis, cost kita musti turunkan, tapi dalam kondisi hari gini, dalam kondisi industri ini, nampaknya tidak semudah seperti dirumah, mengelola keuangannya.

Jadi pada satu titik tertentu memang kita harus berhenti dan tidak bisa lebih lanjut, daripada itu karena mungkin bisa, selain merusak tatanan dan zolimi banyak orang. Jadi saya katakan tadi kalau ini kasus covid-19 sudah turun kita bisa set. Artinya akan masih ada gap antara pendapatan dengan pengeluaran.

Menyelesaikannya bagaimana? Pertama, tidak usah mengeluh, tidak usah meratapi, ini fakta, ya sudah. Kita kan menghadapi itu di keseharian kita. Anda pikir kalau mengeluh ini pendapatan jadi naik atau turun? Kan tidak.

Pertama tidak usah mengeluh karena dalam kondisi kekinian penting buat semua pihak di Garuda, manajemen maupun karyawan dan stakeholder, semuanya harus memikirkan cara-cara yang terbaik, dan secara positif. Tidak usah mengeluh tidak usah melihat masalah lalu kenapa gini ya, kan repot. Artinya sebaiknya fokuskan diri gimana selesaikan persoalan.

Jadi solusinya gampang, artinya ketika gap masih ada, ya tentu sj kita meminjam, bicara sama si peminjam uang mengenai rencana kita kedepan seperti apa. Karena tentu saja sebagai manajemen perusahaan di Garuda tugas kami yang paling utama hari ini adalah memastikan bahwa gap ini mengecil, terus jadi positif lagi.

Kita kan butuh untuk bertahan hidup dengan dibantu gap nya sementara waktu. Sama kewajiban masa lalu kita yang belum beres-beres. Tapi kita sudah put a plan dan cukup optimis bahwa gap ini perlahan-lahan mustinya bisa kita tutupi. Problemnya industri ini, waktu turun memang bisa drastis, waktu membalikkan ke pendapatan emang pasti merangkak. Nah itu, tinggal kita lihat.

Jadi yang pertama kita lakukan cari pinjaman baru, kita bicara sama si pemilik perusahaan dalam hal ini pemerintah, situasinya kita. Anda tahu semua, pemerintah akan keluarkan dana talangan. Itu bagian dari upaya memitigasi gap ini. Karena gap ini bukan hanya di buku tapi kita ngomong casual kan.

Yang kedua adalah organisasi ini manjemen bagaimana, dari waktu ke waktu mencari cara apapun yang memungkinkan, supaya pendapatan meningkat. Yang ketiga, terus menerus cari cara supaya pengeluaran menurun terus lagi.

Nah di sinilah trik nya, di sinilah kepiawan seorang presdir dan manajemen dinilai. Dan yang bisa tahu benar apa tidaknya siapa? Cuman satu, waktu. Setahun atau dua tahun lagi lah, yang mengatakan bahwa manajemen Garuda ini hebat gitu kan, karena bisa atasi situasi ini. Tapi setelah 2-3 tahun, ya semua orang bisalah lakukan itu. Yang ketiga orang akan selalu bilang, coba manajemen Garuda dulu bisa lakukan langkah ‘abc’ mungkin ceritanya tidak begini. Time will tell.

Yang pertama selalu saya katakan sudah tidak usah mengeluh, kedua let a do every we can do, nantikan waktu dan sejarah yang akan katakan bahwa kita ini berhasil atau tidak. Dan buat saya dan manajemen tim tidak terlalu masalah. Yang buat masalah bagi kita kalau kita dikatakan nanti, suatu hari kita tidak mau kerja keras, kita tidak mau berusaha gitu. Yang cukup menarik adalah, anda boleh bicara dengan para ahli, manajemen, hari ini, ceklah.

Tidak ada case ini di bisnis manapun, yang ada case di sebuah perusahaan alami masalah tapi industri oke secara umum, negara maupun dunia. Ada juga perusahaan bermasalah, industrinya juga bermasalah tapi ekonomi negara dan dunia tidak apa-apa, oh itu banyak casenya. Kalau saat inikan perusahaan industri negara bermasalah, dunia bermasalah, plus masalah kesehatan. Jadi ini klasifikasi masalah peradaban.

Tidak mencoba cuci tangan, tapi yang ingin saya sampaikan ke banyak orang adalah what should we do. Ya banyak orang usul lakukan ini itu, ya kalau kita balik lagi ke basic ya ini kan cuma dua, tekan cost terus menerus dan tingkatkan pendapatan secepatnya.

Bagaimana mengenai dana talangan pemerintah yang akan diberikan ke Garuda?

Sayangnya, saya belum kasih tahu anda hari ini karena, pertama dana talangan belum turun,  syarat-syarat dana talangan itu belum tertuliskan. Saya soalnya tidak mau bicara sesuatu yang masih levelnya wacana. Contohnya, dana ini tidak boleh dipakai buat ‘x’, tapi kan itu baru dalam ruangan diskusi, ya kitakan musti tulis itu dalam kesepakatan pemberi dana talangan.

Nah dalam proses inilah kita lagi diskusi sama pemberi dana talangan, memang sudah ada sesuatu yang disampaikan tapi buat saya, selama belum hitam di atas putih, klasifikasinya masih diskusi, masih wacana, jadi seperti tadi dikatakan, mungkin diskusi kita ini tidak boleh buat ‘x’ ya, misalnya, ya tapi kan diperjalanan ‘x’ nya bisa berubah, oh boleh kok. Nah ini yang saya agak khawatir jadi perdebatan tidak perlu.

Kita musti hati-hati karena ini dana APBN kan, dana masyarakat, dana negara. Kita berdua, pemberi dan penerima dana talangan musti sepakat bahwa gunanya untuk itu. Jangan sampai dana talangan masuk dan habis gitu aja, kita juga tidak mau. Mendingan yang dana talangan rencana Rp8,5 triliun ini dipakai buat yang lain, yang habis tapi mungkin ada artinya. 

Dirut Garuda Irfan Setiaputra. AKURAT.CO/Endra Prakoso

Ini yang lagi kita bicarakan, kami sampaikan beberapa ide ke pemerintah, ini sebaiknya dipakai ini, kita perlu pakai itu. Tapi tolong dipahami pada waktu mendapatkan dana talangan Rp8,5 triliun itupun, kita kan juga ada income, apalagi kalau pendapatan kita meningkat ya, gitu sih.

Prediksi manajemen Garuda dana talangan ini bisa cair kapan?

Kita si penginnya besok, eh kemarin sih. Tapi karena saya bukan orang pemerintah, pada waktu diskusi ini cukup takjub juga bahwa memang mengeluarkan dana negara ternyata tidak gampang, aturannya banyak yang harus dan musti dijaga. Saya sih ikut saja, tapi terus menerus kami smpaikan bahwa kebutuhan itu makin mendesak. Tapi kan sebagai penerima dana tidak boleh memaksa sama pemberi dana. []

Atikah Umiyani

https://akurat.co

0 Comments

Leave a comment

Sorry, you mush first