News

Pandemi Corona Bikin Pekerja Palestina di Israel Terjebak Dilema


Pandemi Corona Bikin Pekerja Palestina di Israel Terjebak Dilema
Pekerja Palestina dari kota Hebron di Tepi Barat membawa barang-barang pribadi ketika mereka tiba di pos pemeriksaan Tarqumiya untuk menyeberang ke Israel pada 18 Maret 2020 (Flash90/Wisam Hashlamoun)

AKURAT.CO, Pandemi virus corona (COVID-19) yang saat ini tengah melanda hampir seluruh negara di dunia menimbulkan dampak tak hanya di sektor kesehatan, tapi juga ekonomi. Itu berlaku di semua negara yang mencatatkan kasus corona, tak terkecuali di Israel.

Pandemi virus corona menimbulkan dilema bagi puluhan ribu pekerja Palestina yang bekerja di dalam Israel yang sekarang dilarang bepergian bolak-balik. Mereka dapat tinggal di Israel, di mana upahnya jauh lebih tinggi tetapi wabahnya lebih parah, atau mereka dapat kembali ke rumah untuk karantina dan pengangguran di Tepi Barat.

Baik Israel dan Otoritas Palestina memberlakukan kuncian besar-besaran pada pertengahan Maret, sebagian besar menutup Tepi Barat dan sangat membatasi perjalanan di wilayah tersebut. Tetapi para pekerja diizinkan untuk tetap berada di Israel, di mana banyak bekerja di sektor konstruksi dan pertanian yang dianggap penting bagi ekonomi.

Orang-orang Palestina dapat memperoleh upah yang jauh lebih tinggi di Israel daripada di Tepi Barat, dan banyak di antara mereka yang menjadi tulang punggung keluarga besar. Selain itu sebagai pekerja, mereka memainkan peran penting dalam ekonomi lokal.

Israel dan Otoritas Palestina pada awalnya setuju bahwa para pekerja dapat tetap di Israel hingga dua bulan selama mereka tidak melakukan perjalanan bolak-balik. Persoalan pekerja diserahkan kepada pengusaha Israel untuk menyediakan fasilitas hidup bagi para pekerja, akan tetapi sebagian besar pekerja pada akhirnya terlantar.

Banyak di antara pekerja yang memilih untuk kembali ke Tepi Barat, termasuk ribuan yang kembali menjelang liburan Paskah di Israel, ketika pekerjaan terhenti.

Seorang pekerja konstruksi di Tel Aviv bernama Jamal Salman misalnya, harus menganggur lantaran istrinya khawatir dan meneleponnya setiap malam untuk memintanya pulang.

Sekarang dia duduk sendirian di ruang bawah tanah sepanjang hari, dikarantina dari istri dan lima anaknya dan bertanya-tanya bagaimana dia akan memenuhi kebutuhan. Di Tel Aviv ia bisa mendapatkan USD 1.500 (Rp23 juta) sebulan, cukup untuk menghidupi keluarganya.

"(Pandemi) virus corona seperti perang habis-habisan. Semua orang menderita," tuturnya, dilansir dari laman Times of Israel, Jumat (10/4).

Menteri Tenaga Kerja Otoritas Palestina Nasri Abu Jaish mengatakan bahwa 8.000 pekerja kembali pada hari Selasa (7/4). Kembalinya mereka ke Tepi Barat menimbulkan risiko, baik bagi kesehatan masyarakat maupun bagi perekonomian Palestina.

Otoritas Palestina, yang telah melaporkan sekitar 263 kasus dan satu kematian, mengatakan 73 persen dari penularan telah dikaitkan dengan pekerja yang kembali ke daerah asal. Israel sendiri mencatatkan lebih dari 9.968 kasus dengan setidaknya 86 kematian.

Pekan lalu, Israel mengirim sekitar 250 pekerja Palestina kembali ke Tepi Barat setelah dilaporkannya 9 pekerja yang positif corona di rumah pemotongan ayam di dekat Yerusalem.

"Dengan perbatasan tertutup, dan tidak ada turis atau pelancong, satu-satunya sumber yang tersisa yang bisa menularkan virus corona adalah Israel, di mana wabahnya sangat besar," kata Dr. Kamal al-Shakhra, seorang pejabat di Kementerian Kesehatan Otoritas Palestina.

Di pihak Palestina, pemerintah melakukan pengawasan ketat dengan menempatkan aparat untuk memeriksa mereka. Orang-orang yang demam atau gejala lain dibawa ke rumah sakit, sementara sisanya diperintahkan ke karantina rumah selama 14 hari.

Semua pekerja dilarang kembali ke Israel, dan pasukan keamanan yang ditempatkan di pintu masuk kota dan desa sedang menyita izin kerja.

"Kami tidak dapat menguji semua pekerja yang kembali dari Israel karena kami memiliki kemampuan terbatas," kata Dr. Ali Abed Rabu selaku pejabat Kementerian Kesehatan PA. Ia menambahkan bahwa laboratorium di Ramallah dan Betlehem hanya dapat memproses sekitar 600 tes per hari.

Gerald Rockenschaub, kepala Organisasi Kesehatan Dunia untuk wilayah Palestina, memuji tanggapan Otoritas Palestina terhadap pandemi tersebut. Tetapi dia mengakui bahwa skrining dan karantina pekerja yang kembali sangat sulit dilakukan, terutama karena banyak yang tidak terdaftar.

Wabah besar di Tepi Barat akan membanjiri sistem kesehatan setempat. Rumah sakit Tepi Barat memiliki sekitar 213 tempat tidur unit perawatan intensif dengan ventilator menurut WHO. Itu untuk populasi sekitar 2,5 juta.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co