Tech

Pandemi Bikin Artificial Intelligence Ciptakan Konektifitas Luar Biasa

Pengguna digital ekonomi tumbuh luar biasa


Pandemi Bikin Artificial Intelligence Ciptakan Konektifitas Luar Biasa
Ilustrasi Artificial Intelligence (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Teknologi AI dan machine learning akan membantu kita untuk mengetahui apa yang konsumen inginkan, bahkan sebelum mereka menginginkannya. Demikian petikan yang disampaikan Wern-Yuen Tan, Chief Executive Officer, Asia Pacific, Australia, New Zealand and China PepsiCo dalam webinar 'The Digital Pivot di  Standard Chartered ASEAN Business Forum 2021', baru-baru ini.

Ya, dalam dunia bisnis modern seperti sekarang, investasi terhadap Artificial Intelligence (AI), cloud dan sebagainya, diyakini merupakan kebutuhan yang menguntungkan. Itu karena teknologi AI bisa menggabungkan kekuatan data dan pembelajaran mesin dengan keahlian domain yang penting, untuk mengekstrak nilai dari data industri.

Tan juga melihat manfaat lainnya bahwa perusahaan bisa mendapatkan data analitik agar bisa digunakan untuk mencapai efisiensi dalam supply chain.

Digambarkan oleh Magnus Ekbom, Group Chief Strategy Officer Lazada, bahwa, metode untuk mengetahui consumer behaviour telah berjalan dalam 10 tahun terakhir. Jadi, bukan hanya 20 sampai 80 bulan terakhir saja.

Menurutnya, ini adalah aktivitas yang kerap disebut akselerasi bisnis. Yang paling besar terjadi adalah dalam dua tahun terakhir, pengamatan consumer behaviour ini telah diterapkan setiap hari sehingga bukan sesuatu yang dadakan.

“Akibatnya, consumer behaviour telah merubah produk suplay secara online. Konsumen juga sangat menikmati transformasi yang telah dilakukan dalam beberapa tahun ini,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Bagi perusahaan, lanjutnya, fenomena ini sudah menjadi kenyataan yang harus dihadapi sekarang. Sehingga suka atau tidak, perusahaan konsumen harus bisa mengadaptasi dan mangadposi consumer demand yang terjadi saat ini.

Pihak-pihak penyedia teknologi saat ini telah melayani berbagai SME di dengan beberapa kategori dan standar. Optimisme pelayanan online pada SME ini telah diteliti secara berbeda baik secara multi level atau negara.

Situasi pandemi secara holistik telah membuat sentimen ekonomi juga. Sehingga, beberapa market mengalami perubahan arah termasuk dari pelayanan offline menjadi online.

“Sentimen ini juga berpengaruh pada consumer behaviour, dimana setiap hari konsumen lebih memilih melakukan pembelian secara online daripada sebelumnya,” katanya.

Jika dilihat dari perspektif bank, faktor pandemi telah menciptakan digitalisasi. Dimana, Covid secara fundamental telah membuat consumer behaviour berubah.

“Kita bisa lihat cara konsumen belanja saat ini, yang lebih memilih secara virtual dengan “kecepatan yang tak terprediksi,” kata Rino Donosepoetro, Vice Chairman ASEAN & President Commissioner Standard Chartered.

Itu semua datang dari data yang pernah dirilis, bahwa pada tahun lalu, ada sekitar 40 juta pengguna internet baru di ASEAN, sejalan dengan adaptasi digital ini.

Dikatakannya, internet ekonomi telah menjadi panel pertumbuhan yang cepat dan menjadi bagian dari 24% dari USD100 juta hingga USD300 juta pembelanjaan.

Pengguna mobile device yang bisa disebut “ekstrem” ini, kata Rino, telah merubah cara pembayaran. Contohnya, milenial di Singapura sebanyak 64% sudah menggunakan online mobile app dan selebihnya baru memulai.

“Ini membuktikan adanya manajemen keuangan baru dari adanya pandemi. Bisnis tradisional pun lambat laun akan membuka layanan digital,” tandas Rino.[]