Rahmah

Pandangan Islam terhadap Wanita yang Bekerja, Bolehkah?


Pandangan Islam terhadap Wanita yang Bekerja, Bolehkah?
Ilustrasi Wanita muslim (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Di sebagian masyarakat kita, melihat wanita atau istri bekerja atau bahkan sebagai tulang punggung keluarga masih menjadi sesuatu yang tabu. Sebab, stereotipe yang terbentuk adalah kaum laki-lakilah yang memiliki tanggung jawab bekerja mencari nafkah bagi keluarganya.

Sementara itu, wanita masih dilekatkan pada pekerjaan-pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dan yang lainnya.

Lebi miris lagi, masyarakat pada zaman jahiliyah akan merasa malu dan hina jika memiliki anak perempuan.

Allah berfirman, "Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu." (QS. An-Nahl: 58).

Budaya buruk itu kemudian berubah ketika agama Islam datang. Islam tidak melarang kaum wanita atau istri bekerja untuk menopang ekonomi rumah tangga selagi tidak melanggar syariat agama.

Allah berfirman, "Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Allah, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu." (QS. At-Taubah: 105).

Dalam ayat lain juga dikatakan, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela di antara kalian.” (QS. An-Nisa: 29).

Dari dua ayat di atas, jelaslah bahwa perintah bekerja ditujukan untuk laki-laki dan wanita. Salah satu pekerjaan yang bisa dilakukan dan sangat diridhai oleh Allah ta'ala adalah berdagang atas dasar kerelaan serta kejujuran.

Dalam menilai kaum wanita yang bekerja, kita bisa berkaca pada Siti Khadijah istri Rasulullah saw.

Khadijah merupakan saudagar kaya raya yang sukses mengirim ekspedisi perdagangnya hingga ke negeri-negeri seberang. Dan di tempat usaha Khadijah itulah Nabi Muhammad bekerja hingga keduanya ditakdirkan untuk hidup bersama. Subhanallah.

Ada pula dalam hadis lain yang mengisahkan diperbolehkannya seorang wanita bekerja.

Dari Rithah, istri Abdullah bin Mas’ud ra, ia pernah mendatangi Nabi saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya perempuan pekerja, saya menjual hasil pekerjaan saya. Saya melakukan ini semua, karena saya, suami saya, maupun anak saya, tidak memiliki harta apa pun.”

Ia juga bertanya tentang nafkah yang saya berikan kepada mereka (suami dan anak). Rasul menjawab, "Kamu memperoleh pahala dari apa yang kamu nafkahkan pada mereka.” (HR. Imam Baihaqi).

Wallahu a'lam.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu