News

Palsukan Nilai Ijazah Siswa, Oknum Staf Sekolah Swasta di Sleman Terancam 6 Tahun Bui

Staf sekolah palsukan nilai ijazah siswa


Palsukan Nilai Ijazah Siswa, Oknum Staf Sekolah Swasta di Sleman Terancam 6 Tahun Bui
Ilustrasi penjara (Pixabay/Ichigo121212)

AKURAT.CO, Seorang pria berinisial S (40) diamankan jajaran Polsek Mlati, Sleman. Ia diduga menyalahgunakan jabatannya sebagai salah satu staf keuangan sekolah swasta untuk memalsukan nilai mata pelajaran siswa.

Kanit Reskrim Polsek Mlati Iptu Dwi Noor Cahyanto mengatakan, S yang merupakan warga Klaten, Jawa Tengah, itu ditangkap usai diduga melakukan pemalsuan nilai untuk 2 mata pelajaran sekaligus.

Kasus ini sendiri terangkat ketika salah seorang wali murid berinisial EH warga Bandung, Jawa Barat, menyekolahkan anaknya sejak jenjang SD di sekolah tempat S bekerja pada 2013. Setelah lulus, anaknya melanjutkan jenjang SMP di sekolah yang sama pada 2016.

Sekolah tempat S bekerja yang berlokasi di Mlati ini, kata Dwi, memang memiliki program pendidikan berjenjang. Dari sekolah dasar sampai menengah atas.

"Pada awal 2017, EH menanyakan ijazah SD anaknya ke pihak sekolah. Baru pada April 2018 anaknya baru bisa menerima ijazah SD," imbuh Dwi, Kamis (24/6/2021).

Tercantum pada ijazah itu data berbagai nilai mata pelajaran, termasuk Pancasila dan Kewarganegaraan serta Pendidikan Agama dan Budi Pekerti. 

"Padahal dua mata pelajaran itu tidak pernah diajarkan dan diujikan ke anaknya yang lulus SD pada tahun ajaran 2015/2016," sambung Dwi.

Mendapati keanehan ini, EH lantas melapor ke Polsek Mlati pada 1 Agustus 2018. Polisi yang melakukan penyelidikan akhirnya menetapkan S sebagai tersangka April 2021 kemarin.

Hasil pemeriksaan terhadap S mengungkap tindak pemalsuan nilai ijazah oleh yang bersangkutan dilakukan bukan hanya terhadap 1 siswa. Namun dugaannya lebih dari 10 siswa di satu angkatan.

"Ia (S) meminta saksi yakni inisial A untuk memasukkan nilai mata pelajaran Agama dan pelajaran Pancasila ke ijazah dengan nilai 75," kata Dwi.

Korban sendiri melaporkan perkara ini karena kekhawatiran anaknya tak menguasai dasar-dasar agama dan wawasan kebangsaan dan Pancasila. EH juga takut jika nilai palsu dua mata pelajaran itu diketahui orang lain.

"Korban tidak percaya diri melanjutkan ke sekolah negeri karena tidak memiliki dasar di dua mapel itu," ungkapnya.

Adapun sejumlah barang bukti yang disita dalam kasus ini. Meliputi dokumen ijazah SD dan dokumen administrasi lainnya.

Atas perbuatannya, polisi menjerat S dengan Pasal 266 ayat 1 KUHP terkait permintaan memberikan keterangan palsu. Ancaman hukumannya 6 tahun penjara. []

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co