News

Pakar UGM: Pembatasan 70 Persen Warga selama 20 Hari Efektif Kendalikan Covid-19

Menurutnya, 70 persen populasi masyarakat paling tidak harus berdiam diri di rumah sekitar 20 hari


Pakar UGM: Pembatasan 70 Persen Warga selama 20 Hari Efektif Kendalikan Covid-19
Pengunjung Malioboro diperiksa petugas Jogoboro, Kamis (11/6/2020) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Pakar Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan perlunya pembatasan mobilitas 70 persen populasi masyarakat demi mengontrol penyebaran COVID-19. Restriksi dilakukan selama kurang lebih 20 hari guna mengubah pola penularan virus.

"Minimal 70 persen," kata Pakar UGM Riris Andono Ahmad di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Senin (21/6/2021).

Kata Riris, 70 persen populasi masyarakat ini paling tidak harus berdiam diri di rumah sepanjang dua kali periode infeksi. Atau sekitar 20 hari.

Dengan demikian, pola penularan akan mengalami perubahan pola. Di mana periode pertama akan berkutat di lingkup dalam rumah atau keluarga, dan sisanya masa 'penghabisan'.

"Periode kedua ya itu menghabiskan penularan yang ada di rumah. Itu akan mengurangi penularan secara cukup," sebut Riris.

Sementara, secara konsep pembatasan pergerakan ini menyerupai kekebalan massal atau herd immunity yang menjadi target vaksinasi COVID-19. Hitungan 70 persen populasi dikejar demi menutup peluang virus mendapatkan inang.

"Herd immunity itu tercapai karena virus kesulitan mencari orang (inang) untuk ditulari. Kalau ada vaksin itu sudah punya imunitas, nah sekarang itu virus kesulitan mencari orang untuk ditulari karena 70 persen orang itu tidak bergerak," urainya.

Penentuan cakupan restriksi mobilitas, kata Riris, bisa berdasarkan wilayah aglomerasi, per kabupaten/kota, atau satu provinsi sekaligus. Menyesuaikan skala satuan wilayah epidemiologis.

"Definisi satuan epidemiologis di sini, di mana masyarakat secara sehari-hari itu melakukan mobilitas dan berinteraksi. Kalau DIY meskipun ada lima kabupaten/kota kan, tapi kan dalam kesehariannya mereka bisa saling berinteraksi. Virus ini kan menular karena interaksi tersebut," papar dia. 

Baca Juga: Pokja Genetik UGM: Vaksinasi Masih Mampu Tangkal COVID-19 Varian Delta

Riris meyakini melesatnya kasus COVID-19 yang muncul belakangan adalah akibat tingginya mobilitas masyarakat. Maka cara menghentikan pergerakan warga semacam ini dianggap sebagai salah satu solusi penurunan angka penularan. Metode ini, klaimnya, juga telah diusulkan kepada pemerintah.

"Dan itu di berbagai tempat terbukti. Kalau kita bicara tentang Vietnam, New Zealand, itu kan begitu ada peningkatan kasus mereka menghentikan (mobilitas). Entah itu pakai istilah PSBB atau lockdown," pungkasnya.[]

Anugrah Harist Rachmadi

https://akurat.co