News

Pakar UGM: Aktivitas Gunung Semeru Naik Sejak H-90 Erupsi

Kondisi ini sudah bisa dianggap cukup menjadi prekursor atau gejala erupsi 4 Desember kemarin


Pakar UGM: Aktivitas Gunung Semeru Naik Sejak H-90 Erupsi
Menurut laporan CNN, gunung Semeru kembali erupsi pada Senin (6/12) dan mengeluarkan material vulkanik (Trisnadi/AP via CNN)

AKURAT.CO, Aktivitas Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur disebut mengalami peningkatan sejak 90 hari sebelum erupsi pada 4 Desember 2021 kemarin.

Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Wahyudi mengatakan, aktivitas Semeru terpantau meningkat seiring kian intensnya gempa letusan yang bahkan sempat mencapai 100 kali sehari dalam waktu H-90 erupsi 4 Desember lalu. 

"Sejak 90 hari terakhir ada peningkatan kegempaan. Itu kurang lebih rata-rata di atas 50 kali per hari sejak 90 hari terakhir, bahkan ada yang sampai mencapai 100 kali per hari," kata Wahyudi di Auditorium FMIPA UGM, Sleman, Senin (6/12/2021).

Wahyudi menyebut, kondisi ini sudah bisa dianggap cukup menjadi prekursor atau gejala erupsi 4 Desember kemarin. Kenaikan aktivitas juga ditandai dengan kemunculan fenomena kepulan asap putih dan abu-abu serta guguran awan panas 11 kilometer yang terjadi pada tahun lalu.

Meski demikian, analisa Wahyudi, erupsi 4 Desember 2021 lalu lebih diakibatkan karena faktor eksternal. Yakni tingginya curah hujan yang berakibat pada runtuhnya kubah lava Semeru. Uap bertekanan tinggi yang muncul dari proses perubahan suhu turut memicu longsoran material yang kemudian jadi awan panas guguran.

"Jangkauan awan panas (erupsi Semeru, 4 Desember) mencapai 11 kilometer. Ini lebih panjang, lebih jauh dari rekomendasi jarak aman karena rekomendasi pemerintah itu jarak aman hanya 5 kilometer. Khusus yang tenggara 5 kilometer, kalau segala arah 1 kilometer," urainya.

Seismolog UGM Ade Anggraini menambahkan, rentetan gempa letusan di Semeru mengindikasikan material vulkanik telah menumpuk di permukaan gunung sebelum erupsi 4 Desember 2021. 

Ketiadaan gempa vulkanik dalam (VTA) dan gempa vulkanik dangkal (VTB) berdasarkan laporan PVMBG menunjukkan bahwa memang tidak ada suplai material baru dari perut gunung.

"Kalau kemudian terjadi awan panas, maka dari data tersebut ketidakadaan VTA dan VTB tetapi dominasi adalah gempa erupsi. Jadi benar-benar penumpukan material di permukaan lalu terjadi awan panas maka analisisnya mengarah pada awan panas disebabkan oleh runtuhnya kubah lava," jelasnya. []