Ekonomi

Pakar: Pertumbuhan Ekonomi Ditopang Mobilisasi Ekspor Komoditas Tambang dan Sawit

Sementara dari sisi pengeluaran pemerintah, konsumsi dan investasi masih melemah

Pakar: Pertumbuhan Ekonomi Ditopang Mobilisasi Ekspor Komoditas Tambang dan Sawit
Ilustrasi komoditas sawit (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Ketua Dewan Pakar Transisi Energi Indonesia, Salamuddin Daeng berpendapat, sumber pertumbuhan kita sekarang dari sisi produksi memang berasal dari tambang terutama batubara, nikel, dan bahan tambang lainnya. Selain itu juga dari perkebunan sawit. Sementara yang lain memang belum membaik. 

"Kondisinya masih terpuruk. Sehingga dari pendekatan output produksi semua sumber pertumbuhan akan berasal dari tambang dan sawit," kata dia di Jakarta, Senin (07/08/2022). 

Adapun, sumber pertumbuhan dari pendekatan pengeluaran berasal dari  pertumbuhan sektor pergudangan, transportasi dan mobilisasi sumber daya alam hingga ekspor komodotas tersebut. Sementara dari sisi pengeluaran pemerintah, konsumsi dan investasi masih melemah. 

baca juga:

Menurutnya, salah satu ciri mengapa ekonomi tumbuh ini adalah fakta di dalam negeri  terdapat peningkatan signifikan dalam konsumsi energi yakni BBM pertalite dan solar, yang meningkat signifikan. 

"Ini digunakan untuk mengangkut logistik terutama solar dan batubara," ujarnya.  

Ia menambahkan, perkiraan konsumsi solar dan pertalite tahun ini bisa meningkat antara 20-25 persen. Berarti angkutan logistik dan komoditas akan meningkat cukup besar karena digunakan untuk keperluan mobilisasi sumber daya alam ke pasar ekspor. 

Penopang utama pertumbuhan ekonomi ini jelas konsumsi BBM bersubsidi. Ini menjadi tambahan keuntungan bagi sektor pengangkutan dan ekspor sawit dan batubara adalah konsumsi solar dan pertalite bersubsidi. Mereka mendapat keuntungan berganda yakni memperoleh BBM 1/3 dari harga keekonomian. 

"Saya rasa subsidi solar dan pertalite inilah yang menggairahkan sektor transportasi, pergudangan hingga ekspor sawit dan batubara serta bahan tambang lainnya yang sekarang memang harga di internasional sedang tinggi," terangnya. 

Kesempatan ini, kata dia, akan digunakan oleh pemerintah untuk mengeruk sebanyak banyaknya sumber daya alam untuk merespon harga komoditas yang naik. 

"Ini adalah rejeki besar pemerintah yang akan menyelenggarakan G20 nanti dengan agenda utama transisi energi, digitalisasi dan penuntasan covid 19. Semoga pemerintah tambah banyak uangnya," imbuhnya. 

Hanya saja, ia mewanti-wanti agar presiden Jokowi perlu meminta tolong kepada pengusaha agar uang hasil ekspor dibawa masuk ke Indonesia, jangan seperti sekarang semua uangnya disimpan di luar negeri. 

Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia semakin anjlok. Cadangan Devisa juni 2022 sebesar USD 136,379 miliar turun ke Juli 2022 menjadi USD 132,173 miliar. Kecil memang apabila dibandingkan tahun lalu  posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2021 tetap tinggi sebesar USD 144,9 miliar. 

"Menurun  dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2021 sebesar USD 145,9 miliar," tukasnya.[]