Lifestyle

Pakar Jelaskan Cara Menghidupkan Pancasila di Ruang Digital

Dengan menghidupkan serta menghayati segala sila-sila Pancasila, ruang digital kita akan ramah dan terhindar dari kebisingan yang berpotensi memecah belah.

Pakar Jelaskan Cara Menghidupkan Pancasila di Ruang Digital
Anak-anak sekolah dasar (SD) saat mengikuti lomba mewarnai lambang Pancasila dan juga logo DPR RI di Nusantara II, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Senin (10/2/2020). Lomba mewarnani ini untuk memberikan edukasi kepada anak-anak sekolah dasar agar mereka mengerti akan arti lambang pancasila yang juga merupakan lambang negara. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO  Co-founder sekaligus CEO Bicara Project, Rana Rayendra menjelaskan kecakapan digital yang dibalut dengan tema ‘Berbangsa, Bernegara, dan Berbudaya dalam Masyarakat Digital’.

Cakap digital meliputi pengetahuan, memahami, dan mampu menggunakan perangkat keras dan lunak, mesin pencari, media sosial, aplikasi percakapan, hingga bertransaksi di loka pasar dengan dompet digital. 

Kecakapan digital harus dibarengi dengan karakter berbangsa dan berbudaya, yaitu dengan memegang nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. 

baca juga:

Sila pertama mengajarkan cinta kasih. Sila kedua mengajarkan nilai kesetaraan. Sila ketiga mewujudkan harmoni. 

Sila keempat membawa nilai demokratis. Dan sila kelima adalah gotong royong.

“Bagaimana caranya agar bisa mewujudkan nilai-nilai tersebut di ruang digital? Jadilah kreatif di internet. Pertama yakni, kuasai produk digital. Posting konten yang bermanfaat. Kembangkan konten, dan update produk digital. Kreatif di internet akan menjadikan kita positif di internet yaitu mengonsumsi konten baik, menahan postingan negatif, dan tidak mengakses konten ilegal,” kata Rana dalam sebuah webinar bertema “Pemuda Berkarakter Pancasila dalam Dunia Digital” yang dipandu oleh Nesya Sastrawijaya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Jumat (5/8).

Selanjutnya terkait etika digital, Relawan TIK Kalimantan Timur, Ratna Sari menambahkan materi bertemakan ‘Etis Bermedia Digital: Pengaruh Rendahnya Pemahaman atas Nilai Pancasila di Era Digital’. 

Dunia maya atau ruang digital menurutnya tidak ada bedanya dari dunia nyata. 

Kita berinteraksi dengan orang dengan latar belakang budaya yang berbeda, bahkan tidak hanya dari satu negara, tetapi juga antarnegara. 

Interaksi ini menciptakan standar baru tentang etika. Maka dari itu, diperlukan netiket di ruang digital sebagai panduan berinteraksi dan menciptakan kolaborasi. 

Adapun ruang lingkupnya meliputi kesadaran, tanggung jawab, integritas, dan kebajikan. 

Salah satu netiket yang penting dijaga adalah tidak menyebar konten negatif, yang menurut UU ITE berarti konten yang melanggar kesusilaan, perjudian, pencemaran nama baik, pemerasan, hoaks, dan ujaran kebencian.

“Jika kita menemukan konten negatif, bagaimana tindakan kita? Analisis, verifikasi, tidak perlu mendistribusikan, dan produksilah hanya konten yang bermanfaat,” kata Ratna dalam webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Kemudian, Muhammad Mikail Karimov selaku Pandu Digital Indonesia Badge Merah menerangkan materi kecakapan digital dengan tema ‘Pemuda Berkarakter Pancasila dalam Dunia Digital, Digital Skills: Menjadi Pemuda yang Pancasilais di Ruang Digital’. 

Masyarakat sudah siap dengan teknologi, namun keterampilannya masih harus terus diasah. 

Dalam mengakses informasi dan mengunggah konten, netizen perlu memperhatikan kaidah-kaidah. Perlu menyeleksi informasi dari internet, tidak menelan mentah-mentah, dan tidak menyebar hoaks. 

Selain itu, saling menghargai antar pengguna internet juga diperlukan dalam interaksi di ruang digital.

“Bagaimana sih caranya menjadi pemuda yang Pancasilais di internet? Pertama, berpikir kritis. Kedua, cerdas menyeleksi konten hingga akun media sosial. Dan terakhir, gotong royong berkolaborasi mengampanyekan literasi digital,” pungkasnya.