News

Pakaian Bolong Boleh Digunakan untuk Salat, Begini Penjelasannya


Pakaian Bolong Boleh Digunakan untuk Salat, Begini Penjelasannya
Ilustrasi (flickr.com)

AKURAT.CO, Para ulama sepakat bahwa menutup aurat merupakan salah satu syarat sahnya salat. Adapun aurat laki-laki adalah area dari lutut sampai pusar, sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajahnya.

Di Indonesia, khusus bagi kaum laki-laki kerap ditemukan lubang di pakaian baik pada baju, celana, atau sarung. Biasanya, lubang itu kerap muncul karena percikan rokok yang tidak terkendali.

Dengan adanya lubang di pakaian tersebut, bisakah sarung, celana, atau baju yang berlubang digunakan untuk salat?

Perlu diketahui bahwa jika lubang itu terdapat di area yang bukan aurat maka salatnya tetap sah. Misalnya, sarung yang bolong terkena percikan rokok lubangnya berada di bagian bawah lutut atau sedikit di atas mata kaki.

Akan tetapi, jika lubang itu berada di area aurat misalnya paha, maka salatnya bisa sah dan bisa tidak.

Pertama, salatnya bisa sah. Syaratnya, sarung tersebut meski lubangnya di area aurat (atas lutut) tetapi lubangnya sangat kecil dan tidak membuat warna kulit terlihat baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Adapun kulit orang tersebut hanya bisa terlihat melalui lubang kecil itu tetapi harus dilihat dari jarak yang sangat dekat.

Kedua, salatnya menjadi tidak sah. Yaitu ketika lubang yang ada di pakaian berada di area aurat sehingga membuat orang lain yang menatapnya langsung bisa melihat kulit orangnya.

Misalnya, ada seseorang yang memakai sarung, lalu terdapat lubang di belakang pantat, meski yang memakai tidak menyadari, namun jika orang di belakangnya melihat lubang itu maka salatnya menjadi tidak sah.

Perlu diketahui pula bahwa benda yang dapat menutup aurat menurut mazhab Syafi'i adalah benda yang dapat menghalangi terlihatnya warna kulit orang yang salat, walaupun hanya berupa lumpur atau air keruh yang melekat di tubuh dengan syarat benda itu harus suci.

Sementara mazhab Maliki menambahkan bahwa apabila warna kulit aurat tubuh orang yang salat itu masih nampak, maka hal itu sama saja dengan kondisi tidak menutup aurat. Akan tetapi, bila hanya menggambarkan warna kulit aurat maka hal ini terbilang makruh.

Sedangkan menurut mazhab Hambali, menutup aurat tetap menjadi syarat sahnya salat. Namun, terbukanya sedikit aurat tidak membatalkan salat karena praktik serupa pernah dilakukan oleh Sahabat Amr bin Salamah dalam riwayat Abu Dawud.

Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh mengatakan, "Jika aurat seseorang sedikit terbuka, maka salatnya tidak batal sebagaimana riwayat Abu Dawud dari Amr bin Salamah yang terbuka selendangnya karena terlalu pendek saat sujud. Tetapi jika auratnya besar telihat, maka salatnya batal. Ketentuan kecil dan besar berpulang pada adat dan kelaziman di masyarakat."

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa boleh saja pakaian berlubang digunakan untuk salat selama lubangnya kecil, tidak di area aurat dan tidak menampakkan warna kulitnya.

Akan tetapi, demi kehati-hatian kita dianjurkan untuk berusaha semaksimal mungkin menutup aurat sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu'. "Diwajibkan menutup aurat sehingga kulit anggota badan tidak tampak terlihat."

Wallahu a'lam. []