News

Pakai Spyware Kontroversial 'Pegasus' untuk Mata-matai Warga Sendiri, Polisi Israel Bakal Disidang Parlemen

Perangkat lunak itu dibuat oleh NSO Group Israel, dan sekarang masuk dalam daftar hitam pemerintah Amerika Serikat (AS). 


Pakai Spyware Kontroversial 'Pegasus' untuk Mata-matai Warga Sendiri, Polisi Israel Bakal Disidang Parlemen
Menurut laporan Calcalist, kepolisian Israel telah menggunakan spyware Pegasus untuk mematai-matai warganya sendiri, termasuk para demonstran (© iStock)

AKURAT.CO  Tel Aviv telah menanggapi serius laporan yang menyebut bahwa kepolisian Israel nekat memata-matai warganya sendiri dengan menggunakan perangkat lunak mata-mata kontroversial, spyware Pegasus.

Hal ini baru saja diungkap oleh seorang legislator senior, dengan mengatakan bahwa parlemen akan meminta penjelasan soal perkara itu langsung kepada kepolisian Israel.

Diwartakan Al Jazeera, langkah parlemen itu datang usai pada Selasa (18/1), harian keuangan Calcalist melapor soal dugaan kepemilikan spyware Pegasus oleh kepolisian Israel. Calcalist sendiri tidak menyertakan sumber untuk menulis laporannya. Namun, dikatakan bahwa polisi telah memiliki dan menggunakan spyware tersebut setidaknya sejak tahun 2013. 

baca juga:

Sementara diketahui, perangkat lunak itu dibuat oleh NSO Group Israel, dan sekarang masuk dalam daftar hitam pemerintah Amerika Serikat (AS). 

Beberapa laporan juga menyebut bahwa Pegasus telah digunakan dalam serangan yang ditargetkan untuk aktivis hak asasi manusia dan jurnalis di berbagai negara. Dilaporkan pula bahwa spyware itu digunakan untuk upaya spionase terhadap Pakistan, hingga dikatakan berperan dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi oleh agen-agen pemerintah Saudi.

Calcalist mengatakan bahwa polisi Israel telah menggunakan spyware itu terhadap para targetnya. Di antaranya menurut Calcalist termasuk para pemimpin protes anti-pemerintah, kadang-kadang tanpa surat perintah pengadilan yang diperlukan.

 Gambar menunjukkan cabang dari perusahaan Israel NSO Group, dekat kota Sapir di Israel selatan - Sebastian Scheiner/AP Photo

Laporan dari media Israel itu pun tak ayal makin menyudutkan Israel tentang penggunaaan Pegasus dari sisi domestik. Diketahui, negara itu telah lama menghadapi tekanan global terutama setelah munculnya tudingan-tudingan bahwa Pegasus telah disalahgunakan oleh sejumlah klien asing pemerintah untuk memata-matai para aktivis hak asasi manusia, jurnalis hingga politisi.

Menanggapi laporan Calcalist, Komisaris Polisi Kobi Shabtai langsung mengakui bahwa pasukan tersebut memang telah memperoleh teknologi siber dari pihak ketiga. Namun, Shabtai tidak mengonfirmasi atau menyangkal penggunaan Pegasus.

"Semua kegiatan pemantauan tersebut, sudah dilakukan menurut hukum... Misalnya, dalam kasus penyadapan suara, permintaan akan diajukan ke pengadilan, yang memeriksa masalah tersebut," kata Shabtai dalam sebuah pernyataan.

Selain itu, Shabtai juga membantah laporan Calcalist yang mengatakan bahwa polisi telah menggunakan spyware terhadap para pemimpin protes, yang disebut 'Bendera Hitam'. Protes ini meletus tahun lalu, di mana para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang diadili atas tuduhan korupsi yang telah dia bantah.

Namun, menurut saluran berita TV Israel, Channel 12, laporan soal penggunaaan spyware itu akan ditindaklanjuti. Laporan ini didapat usai legislator Meirav Ben Ari mengatakan bahwa komite keamanan publik parlemen yang dia pimpin akan bersidang paling cepat minggu depan untuk menanyai polisi tentang laporan Calcalist.

"Banyak anggota parlemen yang telah mendekati saya hari ini. Ini insiden yang sangat meresahkan, menimbulkan kekhawatiran tentang pelanggaran privasi dan demokrasi secara keseluruhan.

"Seperti yang mereka lakukan setiap kali datang ke persidangan saya, kepolisian nanti akan menjelaskannya (laporan Calcalist soal Pegasus)," kata Ben Ari.

NSO, sementara itu, masih enggan mengonfirmasi atau menyangkal para pelanggan potensialnya. Namun, mereka mengaku bahwa sekalinya mereka menjual spyware itu ke pelanggan pemerintahnya, NSO bakal lepas alias tidak akan mengoperasikan sistem. Perusahaan teknologi Israel itu juga mengklaim tidak terlibat dengan cara apa pun dalam pengoperasian sistem.

"NSO menjual produknya di bawah lisensi dan peraturan kepada badan intelijen dan penegak hukum untuk mencegah teror dan kejahatan di bawah perintah pengadilan dan hukum setempat yang ada di negara mereka," katanya.

Namun, laporan Calcalist, bagaimanapun, telah memicu kecaman di seluruh spektrum politik Israel.

Menteri Kabinet Karine Elharrar mengatakan kepada Radio Tentara Israel bahwa pengawasan semacam itu 'adalah sesuatu yang tidak dapat diizinkan di bawah negara demokratis'.

Legislator oposisi Yuval Steinitz mengungkap hal sama, mengatakan bahwa pengawasan warga oleh penegak hukum tanpa pengawasan yudisial tidak tepat. Ia juga menegaskan bahwa jika laporan Calcalist itu ternyata benar, maka  itu harus diselidiki. 

Isu soal penggunaaan Pegasus oleh kepolisian Israel juga telah ditanggapi oleh Menteri Keamanan Publik Omer Barlev. Barlev, yang departemennya mengawasi kepolisi Israel, mengaku akan memverifikasi apakah polisi telah menerima otorisasi eksplisit dari hakim untuk menggunakan spyware tersebut.

Bulan lalu, sekelompok legislator AS meminta Departemen Keuangan dan Departemen Luar Negeri untuk memberikan sanksi kepada NSO dan tiga perusahaan pengawasan asing lainnya. Saat itu, para legislator AS menganggap bahwa NSO dan lainnya telah berperan dalam membantu pemerintahan otoriter melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Kemudian pada bulan November, giliran Apple menggugat NSO, mengatakan bahwa mereka telah melanggar undang-undang AS karena perangkat lunaknya itu telah 'menginfeksi' fitur keamanan iPhone. Bahkan, saat itu, Apple sampai menyebut NSO sebagai 'tentara abad-21 yang tak bermoral'.

NSO juga menghadapi tindakan hukum atau kritik dari Microsoft Corp, induk Facebook Meta Platforms Inc, induk Google Alphabet Inc, dan Cisco Systems Inc.

Watchdog Citizen Lab sebelumnya telah mengungkap penggunaan Pegasus untuk menargetkan jurnalis, pembela hak asasi manusia, diplomat, dan pembangkang selama beberapa tahun terakhir. Sasaran spyware ini di antaranya berasal dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Meksiko, dan AS.[]