Rahmah

  Pajak dan Kenaikan Inflasi Saudi Jadi Penyebab Kenaikan Biaya Haji Tahun Ini

Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di tahun 2022 naik dari tahun sebelumnya, yakni sekitar Rp72 juta menjadi sebesar Rp81 juta.


  Pajak dan Kenaikan Inflasi Saudi Jadi Penyebab Kenaikan Biaya Haji Tahun Ini
Hanya 1.000 jemaah yang diizinkan menunaikan ibadah haji pada tahun lalu akibat pandemi COVID-19 (AFP)

AKURAT.CO Pemerintah telah menyepakati Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di tahun 2022 naik dari tahun sebelumnya, yakni sekitar Rp72 juta menjadi sebesar Rp81 juta.

Meskipun demikian, kenaikan biaya tersebut tidak dibebankan kepada para jemaah calon haji. Sehingga para jemaah hanya membayar biaya perjalanan ibadah haji kurang lebih Rp 39 juta.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Firman M Nur menjelaskan kenaikan biaya umrah disebabkan dengan kenaikan pajak yang mencapai 20% di Arab Saudi. Sebab kenaikan pajak ini merupakan kalkulasi dari pajak domestik atau pajak dalam negeri.

baca juga:

"Selama dua tahun terjadi banyak perubahan di Arab Saudi. Kenaikan pajak yang sangat signifikan hingga pajak domestik. Jadi hampir 20 persen. Ini yang menyebabkan kenaikan biaya yang cukup signifikan," kata Firman dalam diskusi daring yang digelar Forum Merdeka Barat 9 dengan tema "Dana Amanah, Haji Mabrur", Selasa (31/5/2022). 

Selain pajak, lanjut Firman menambahkan, Arab Saudi juga mengalami inflasi yang cukup tinggi selama dua tahun terakhir. Itu artinya akan berpengaruh pada harga bahan kebutuhan pokok yang meningkat tajam.

Lebih dari itu, pihaknya menyebut inflasi dapat menyebabkan standar pelayanan di Ammah Minah meningkat drastis dan signifikan. Oleh karenanya, Firman menyampaikan, pemerintah Indonesia harus membayar selisih angka Rp1,5 triliun agar penyelenggaraan ibadah haji tahun ini tetap berjalan.

"Jadi ada selisih angka Rp1,5 triliun yang harus bisa dipenuhi oleh pemerintah Indonesia untuk bisa menyelenggarakan ibadah haji tahun ini. Ini baru biaya haji reguler, belum haji khusus," ucapnya.

Meskipun demikian, Firman menyampaikan bahwa kenaikan harga tersebut tidak dibebankan kepada para bagi calon jemaah haji. Hal ini juga, kata dia, menjadi keprihatinan bersama seluruh stakeholder.

"Ini memang jadi keprihatinan kita bersama. Kita berharap ini perlu diketahui oleh seluruh calon jemaah. Bahwa dari Rp81 juta, masyarakat hanya membayar sekitar 39 juta. Karena ada dana dari virtual akunnya, maka mereka tidak perlu membayar apa-apa," tandasnya. []