News

Pahlawan Polusi Kenya, Ubah Eceng Gondok Jadi Bahan Bakar Masak yang Ramah Lingkungan

Pahlawan Polusi Kenya, Ubah Eceng Gondok Jadi Bahan Bakar Masak yang Ramah Lingkungan
Proses mengubah eceng gondok menjadi biogas, dekat Kota Kisumu, Kenya, pada 9 Juni 2021. (Reuters)

AKURAT.CO Sebuah proyek berbasis lingkungan di Kenya membuat terobosan untuk mengatasi dua masalah polusi dengan satu perangkat. Yakni dengan mesin yang mampu mengubah limbah seperti eceng gondok menjadi bahan bakar masak yang lebih ramah lingkungan. Teknologi biogas itu mampu mengatasi masalah polusi lingkungan dari tumbuhan gulma sekaligus polusi udara karena asap kompor tradisional.

Dikutip dari Asia One, mesin itu menggunakan limbah seperti eceng gondok, yang selama ini merusak kehidupan air termasuk ikan di danau dan membantu bakteri dan nyamuk berkembang biak, yang menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat setempat. Tumbuhan mirip gulma ini telah memenuhi sebagian besar Danau Victoria, danau air tawar antara Kenya, Uganda, dan Tanzania.

Mesin biogas ini menggunakan 2-3 kg eceng gondok untuk menyalakan kompor dalam waktu sekitar empat jam. Proyek ini digagas oleh perusahaan teknologi energi Kenya, Biogas International dengan menggandeng produsen obat AstraZeneca (AZN.L) dan Institute for Sustainability Leadership di University of Cambridge.

baca juga:

"Eceng gondok adalah berkah tersembunyi," kata CEO Biogas International Dominic Kahumbu.

"Orang tua yang seharusnya pensiun, tersedak (asap) sampai menyebabkan kematian... (maka) mereka semua harus memiliki biogas." tambahnya.

Reuters

Proyek ini telah menyediakan 50 mesin pengolah ke rumah-rumah di Kota Kisumu, Kenya barat. Mesin biogas itu ada yang diberikan secara gratis, selebihnya disubsidi oleh perusahaan. Para keluarga itu pun kini mulai beralih dari penggunaan jiko, yaitu kompor berbahan bakar kayu atau arang yang cukup polutif.

Alat ini sekaligus menggantikan metode memasak yang memakan waktu.

"Gasnya tidak ada asap, tidak berbau, jauh lebih cepat dari jiko," kata Tony Otieno sambil merebus teh susu untuk neneknya, menggunakan biogas dari mesin biogas tersebut.

Namun pihak Biogas International mengaku mengalami kendala. Dengan biaya USD 650 (Rp9 juta lebih), mesin tersebut tidak terjangkau bagi banyak keluarga.

Meskipun teknologinya terukur, lanjut Otieno, tingginya biaya produksi setiap mesin membuat pihaknya sulit mengambil keuntungan untuk setidaknya lima tahun ke depan. Dia mengatakan, perusahaan membutuhkan investasi modal baru untuk memproduksi lebih banyak mesin biogas.

Perusahaan juga tengah mempersiapkan dua versi mesin yang lebih besar, yang kini dalam tahap pengujian. Mesin itu akan menghasilkan bahan bakar bersih dalam skala industri seperti restoran, peternakan unggas, dan fasilitas pengeringan ikan di daerah tersebut.[]