Entertainment

Padepokan dan Upaya Keluar dari Sisi ‘Negatif’ di Era Milenial


Padepokan dan Upaya Keluar dari Sisi ‘Negatif’ di Era Milenial
Diskusi bertema ‘Menumbuhkan Peran Padepokan Pembentukan Karakter di Indonesia’ yang dilangsungkan di Padepokan Sangkuraga, Kuningan, Jawa Barat, Jumat (7/8). Malam (AKURAT.CO/Andrey)

AKURAT.CO, Seluruh pengelola dan orang-orang yang belajar di padepokan harus mampu keluar dari semua tantangan. Kata padepokan berasal dari kata ‘deprok’ yang artinya duduk-duduk.

Seiring dengan perubahan waktu, kata deprok mendapat awalan dan akhiran hingga disebut padepokan. Padepokan sudah ada di tanah air sejak 1000 tahun lalu.

Memang, kata padepokan kala itu belum populer bahkan belum ada. Para ahli bahasa memperkirakan, kata padepokan menggantikan kata ‘mandala’. Dua kata tersebut memiliki makna sama, tempat menempa dan menimba ilmu. Peralihan dari kata mandala ke kata padepokan berjalan cukup halus.

Padepokan dan Upaya Keluar dari Sisi ‘Negatif’ di Era Milenial - Foto 1
Judi Wahjudin, Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan di Kemendikbud. Foto AKURAT.CO/Andrey

Begitu pula ajaran di dalamnya. Mandala yang notabene kental dengan ajaran Hindu secara berangsur-angsur berubah menjadi ajaran Islam.

Hingga kini, padepokan identik dengan nafas Islam meski sejumlah istilah dan kebiasaan Hindu masih dipakai. Pada era modern, padepokan sempat tercoreng namanya.

Padepokan dikenal orang sebagai tempat mempelajari kekuatan supranatural, ilmu hitam dan bahkan menjadi sarang aliran sesat. Alhasil, banyak pandangan masyarakat yang apriori dan tidak lagi menganggap padepokan sebagai tempat untuk belajar dan mengajar.

Untuk memperbaiki stigma buruk tersebut, muncullah padepokan-padepokan baru yang kemudian ‘menjual prestasi’. Salah satunya adalah padepokan Sangkuraga. Di bawah kepemimpinan Kang Muh, padepokan yang berada di Desa Sukaraja, Ciawi Gebang, Kuningan, Jawa Barat ini mulai memperkaya cantriknya (para penuntut ilmu di padepokan) tidak hanya dengan ilmu-ilmu kebatinan dan agama.

Sejumlah muatan yang tengah menjadi tren di kalangan milenial juga masuk dalam varian ajaran Padepokan Sangkuraga.

“Agama dan kebaikan harus terus dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, semua juga harus melek dengan perkembangan teknologi dan tuntutan digital,” katanya, Jumat (7/8) malam.

Senada dengan Kang Muh, Judi Wahjudin berharap, para pengelola padepokan bisa satu persepsi. Ia berharap, semua pengelola padepokan memiliki sertifikasi dan dokumen yang bisa membantu sebuah padepokan layak sebagai lembaga pendidikan yang diakui dari setara dengan pendidikan formal yang sudah ada.

“Kalau melihat lebih dalam lagi, padepokan ini memiliki banyak sekali irisan dengan stakeholder terkait. Jadi, bila memang padepokan tersebut lebih pada penguatan ilmu bela diri, saya rasa akan lebih cocok berafiliasi ke Kemenpora. Bila memang menonjolkan seni dan kebudayaannya, bisa intens komunikasi dengan Kemendikbud. Dan Kemenag bila itu lebih menonjolkan kompetensi agama,” jelas pria yang menjabat sebagai Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan di Kemendikbud.

Foto AKURAT.CO/Andrey

Judi menambahkan, seluruh pengelola dan orang-orang yang belajar di padepokan harus mampu keluar dari semua tantangan, termasuk tren dan stigma buruk padepokan.

“Sekali lagi, padepokan bisa sangat menarik bagi kalangan milenial bila memang mampu mengemasnya. Selain itu, padepokan juga harus berkontribusi dalam membangan karakter bangsa yang luhur dan baik. Sehingga mendapat kepercayaan masyarakat dan tidak lagi dipandang sebelah mata,” katanya.[]