News

Pabrik Sabu di Tangerang yang Digerebek Polres Jakbar Miliki Kualitas Super


Pabrik Sabu di Tangerang yang Digerebek Polres Jakbar Miliki Kualitas Super
Kapolres Metro Jakarta Barat Komisaris Besar Hengki Haryadi menunjukkan pentilon yang diamankan dari empat tersangka, di Mapolres Metro Jakarta Barat Rabu (14/3). (AKURAT.CO/Miftahul Munir)

AKURAT.CO, Polres Jakarta Barat beberapa waktu lalu berhasil mengungkap pabrik sabu di perumahan Metland Jalan Kateliya, Cipondoh, Kota Tangerang.

Pabrik ini dalam sebulan mampu memproduksi 2 sampai 3 kilogram sabu dengan kualitas super. 

Menurut hasil pemeriksaan Puslabfor Mabes Polri, baru pertama kali ada sebuah pabrik sabu yang mampu memproduksi kualitas yang sangat bagus.

Biasanya kandungan methamphetamine dalam sabu impor hanya 40%, namun pabrik lokal ini mampu memproduksi dengan kandungan 60% methamphetamine.

"Sehingga tentunya akan lebih membahayakan bagi penggunanya. Dari banyaknya bahan baku yang ditemukan di lokasi penggerebekan, diperkirakan bisa diproduksi 10 sampai dengan 15 kg sabu. Sedangkan bahan setengah jadi ditemukan seberat 1 kilogram, dan bahan yang baru jadi 500 gram," ujar Kapolres Jakarta Barat Kombes Pol Hengki Haryadi Rabu (15/8).

Hengki mengaku, dari pabrik yang digerebeknya itu, yang membuat prihatin yaitu bahan baku untuk membuat sabu ini berasal dari bahan-bahan yang mudah didapat dipasaran.

Sebelumnya, saat memproduksi sabu tahun 2010 peracik sabu ini mendapatkan prekursor utama ephidrin dari pasar gelap yg diimpor dari China. 

Seiring dengan ketatnya pengawasan terhadap peredaran prekursor sabu, peracik ini melalui beberapa eksperimen mampu menemukan bahan penggantinya yaitu obat seperti neo napacin dan lain lain.

"Peracik sabu di pabrik itu bernama Anthonius Wongso, merupakan mantan napi narkoba yang bebas pada tahun 2015 lalu, setelah pada tahun 2010 divonis 10 tahun penjara karena memproduksi sabu, dan hanya 5 tahun menjalani kurungan," terang dia.

Mantan Wadir Krimsus Polda Metro Jaya ini mengaku miris melihat seorang peracik sabu hanya menjalani setengah dari hukuman yang dijatuhkan kepadanya, dan setelah keluar kembali memproduksi sabu dengan improvisasi bahan baku dari bahan lokal.

"Kami akan mengajukam hukuman semaksimal mungkin agar memberikan efek jera," tutup dia.[]

Ridwansyah Rakhman

https://akurat.co