News

ORI DIY Ungkap Potensi Jual-Beli Bangku Kosong, 270 Anak Kehilangan Hak Masuk SMP Negeri

ORI DIY Ungkap Potensi Jual-Beli Bangku Kosong, 270 Anak Kehilangan Hak Masuk SMP Negeri
Ilustrasi bangku sekolah (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY menemukan kasus 270 siswa di Kabupaten Bantul yang kehilangan haknya bersekolah di SMP Negeri.

Hal ini disebut ORI sebagai buntut kebijakan Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul yang mengurangi satu siswa di setiap rombongan belajar (rombel) pada masing-masing SMP Negeri di Bantul.

"Sekitar 270-an siswa di Bantul kehilangan haknya untuk bersekolah di SMP negeri karena kebijakan kepala dinas yang mengurangi siswa satu setiap Rombel," kata Ketua Ombudsman RI perwakilan DIY, Budhi Masturi di kantornya, Sleman, Senin (26/9/2022).

baca juga:

Budhi mengatakan, pihak ORI telah mengonfirmasi ke Kepala Dinas Pendidikan Bantul dan diperoleh keterangan bahwa kebijakan itu diambil demi sekolah swasta kebagian siswa.

Akan tetapi, ORI melihat hal ini justru berpotensi menjadi ladang jual-beli bangku kosong oleh sekolah. "Kalau ini nggak dipantau ada potensi bangku kosong dijual belikan," sambung Budhi.

Kepala Keasistenan Bidang Pencegahan Maladministrasi ORI DIY Chasidin sementara menilai alasan pengosongan 270 bangku demi pemerataan perserta didik ini kurang tepat.

Chasidin beranggapan kebijakan ini merugikan karena membuat calon siswa di Bantul kehilangan haknya untuk mengenyam pendidikan di bangku sekolah negeri.

Ada pula temuan lain ORI DIY berupa adanya kursi kosong di beberapa SMA yang tidak diinformasikan ke publik. Menurut Chasidin, praktik pengisian kursi kosong ini di luar mekanisme PPDB. 

Dia mencontohkan temuan tujuh calon peserta didik yang tidak melakukan daftar ulang. Sekolah menyampaikan kondisi kursi kosong ke Disdikpora DIY, namun tidak dipublikasikan secara luas atau resmi.

"Kuota kosong kami temukan di beberapa SMA," tutup Chasidin.[]