Lifestyle

Orangtua yang Sakit Mental Bisakah Mengurus Anak? Ini Penjelasan Ahli

Penyakit mental orangtua bisa meningkatkan risiko anak mengalami gangguan mental di masa depan.


Orangtua yang Sakit Mental Bisakah Mengurus Anak? Ini Penjelasan Ahli
Hubungan renggang orangtua dan anak (DAILYMAIL.COM)

AKURAT.CO, Membesarkan anak bukanlah perkara yang mudah. Tak hanya kesiapan finansial, namun juga dibutuhkan ilmu dan kesiapan mental dalam pola pengasuhan. 

Akan tetapi, bagaimana jadinya jika orangtua punya penyakit kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, luka pengasuhan dan lainnya?

Penyakit ini bisa menjadikan proses pengasuhan dirasa lebih sulit.

baca juga:

Banyak orangtua mengira bahwa merekalah satu-satunya yang berjuang seperti itu.

Dalam survei orang tua di Amerika Serikat, lebih dari 18 persen melaporkan memiliki penyakit mental dalam satu tahun terakhir. 

Kepala Asosiasi Layanan Klinis di Departemen Psikiatri dan Layanan Perilaku di Boston Children’s Hospital, dr Patricia Ibeziako, mengatakan ciri orang tua yang berurusan dengan gangguan kecemasan mungkin terlalu protektif terhadap anak, merampas kesempatan anak mereka untuk mempelajari keterampilan memecahkan masalah karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada anak. 

Lalu, seorang anak yang menyaksikan perilaku cemas orang tuanya, bisnis mengembangkan ketakutan dan kekhawatiaran dalam diri anak.

Penyakit mental orangtua bisa meningkatkan risiko anak mengalami gangguan mental di masa depan. Akan tetapi, ini bukan satu-satunya kemungkinan. 

“Memiliki orang tua dengan penyakit mental tidak selalu menyebabkan tekanan klinis kejiwaan yang signifikan pada anak,” sambung Ibeziako, seperti dikutip dari laman Children Hospital, pada Rabu (12/01).

Hal itu bergantung pada banyak faktor, termasuk jenis dan tingkat keparahan penyakit mental orang tua, berapa lama itu berlangsung dan juga usia anak. 

Anak-anak paling rentan terhadap efek penyakit mental orang tua di tahap perkembangan emosional tertentu.

Tahap pertama dimulai sejak bayi hingga sekitar usia lima tahun. Ini adalah periode penting perkembangan otak, ketika bayi dan balita membentuk keterikatan yang kuat dengan orang tua.

Ibeziako mengatakan, orang tua dengan penyakit mental mungkin tidak dapat memenuhi kebutuhan anak mereka terkait ikatan.

Bayi atau balita yang kehilangan koneksi emosional positif dengan orangtua, dapat mengembangkan masalah yang mengatur emosi dan perilaku mereka sendiri. 

Ini mungkin terjadi saat mengamuk, sulit tidur, regresi dalam latihan pispot, atau mudahmengompol. 

Masa rawan berikutnya adalah remaja. Sesulit apa pun perilaku mereka, remaja bergantung pada orang tua untuk struktur dan penguatan mental positif. 

Namun, orangtua yang bergumul dengan penyakit mental sehingga kurang memperhatikan kebutuhan anak remajanya. 

Mereka mungkin fokus sepenuhnya pada kesalahan yang dilakukan anak, tanpa menyeimbangkan umpan balik negatif dengan pujian atau prestaainya. 

"Depresi orangtua, gampang marah, atau toleransi frustrasi yang rendah dapat menyebabkan remaja bertindak dengan cara yang mengganggu,” kata Ibeziako.

Kurangnya energi yang sering dialami orangtua yang depresi, juga dapat mempengaruhi kemampuannya untuk memperhatikan rutinitas sekolah anaknya. 

Tanpa dukungan orangtua, anak usia sekolah mungkin kesulitan untuk pergi ke sekolah atau kegiatan sepulang sekolah tepat waktu. Menyelesaikan pekerjaan rumah bisa menjadi tantangan yang luar biasa.[]