Lifestyle

CEK FAKTA: Orang yang Sudah Divaksin Akan Mati 2 Tahun Lagi

Berita yang menyebut orang yang sudah divaksin Covid-19 akan menghadapi kematian pada dua tahun mendatang adalah hoax


CEK FAKTA: Orang yang Sudah Divaksin Akan Mati 2 Tahun Lagi
Sejumlah warga mengikuti vaksinasi COVID-19 di Mal Lippo Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (19/7/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Beredar pesan berantai melalui WhatsApp yang menyertai tautan www.lifesitenews.com. Tautan itu berisi sebuah berita berjudul Nobel Prize winner: Mass COVID vaccination an ‘unacceptable mistake’. 

Dalam pesan berantai itu, disebutkan bahwa semua orang yang divaksinasi akan mati dalam dua tahun dan tidak ada pengobatan bagi mereka yang telah divaksin, berdasarkan pernyataan dari ahli virologi sekaligus penerima hadiah Nobel bernama Luc Montagnier yang dikutip dari berita www.lifestitenews.com.

Berdasarkan hasil penelusuran Akurat.co, tidak ada penyataan dari ahli virologi dan peraih hadiah Nobel bidang Kedokteran dan Fisiologi asal Prancis, Luc Montagnier, dalam berita yang dilampirkan pada pesan WhatsApp itu.

Menurut pendalaman thenewsminute, dalam berita yang mencatutkan Mogtagnier tersebut, tidak mengatakan bahwa setiap orang yang menerima vaksin eksperimental Covid-19 akan “mati semuanya” dalam dua tahun. Kutipan itu dikaitkan dengan meme berita palsu yang telah beredar secara luas. 

Di sisi lain, dalam berita tersebut juga, Montagnier menyatakan vaksinasi massal melawan Covid-19 menyebabkan terciptanya varian virus berbahaya yang mendorong kepada kematian. 

Namun, pernyataan tersebut telah dibantah oleh seorang profesor biokimia yang memimpin upaya pengurutan varian SARS CoV-2 di West Virginia, AS bernama Peter Stoilov, PhD. Dilansri dari healthline, Stoilov menyatakan bahwa mutasi yang menentukan varian SARS-CoV-2 saat ini muncul sebelum vaksin dibuat atau tersedia secara luas.

“Kami tidak melihat apa-apa tentang itu. Faktanya, kami melihat yang sebaliknya. Di tempat-tempat dengan tingkat vaksinasi tinggi, jumlah kasus dan kematian menurun; keragaman virus terbatas pada beberapa (satu sampai tiga) varian; dan, sejauh ini, tidak ada varian baru yang muncul di antara populasi yang divaksinasi,” ujar Stoilov dalam artikel berjudul “No, COVID-19 Vaccines Do Not Cause New Coronavirus Variants".

Dilansir dari Reuters, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, orang yang sudah menerima vaksin Covid-19 di AS dari 14 Desember 2020 hingga 29 Maret 2021 mencapai 145 juta dosis. Lalu ada 2.509 kematian atau 0,0017 persen kematian, bagi orang yang sudah divaksin.

Namun, CDC merilis data tersebut dengan mempertimbangkan akta kematian, autopsi dan catatan medis tidak ada bukti bahwa vaksin berkontribusi pada kematian. Bahkan, CDC mengatakan data tersebut tidak diverifikasi dan mungkin tidak akurat.

Selain itu, ada juga penjelasan dari Dr Joel Belmin, Kepala Geriatri dan Koordinator Vaksinasi di l’hôpital Charles-Foix, Paris. Pada orang lanjut usia, karena kerapuhan mereka yang hebat, sejumlah kematian spontan diperkirakan terjadi.

"Di panti jompo, satu dari lima orang meninggal setiap tahun. Oleh karena itu, sulit untuk secara langsung menghubungkan kematian ini dengan fakta bahwa orang-orang ini telah divaksinasi," kata Joel Belmin.

www.lifestitenews.com yang menampilkan kutipan dari Montagnier tersebut, juga telah diblokir dari Facebook karena terbukti sering menampilkan berita-berita hoax.

Dengan pendapat dan temuan para ahli ini, berita yang menyebut orang yang sudah divaksin Covid-19 akan menghadapi kematian pada dua tahun mendatang adalah hoax. Saat ini, vaksin terbukti aman dan efektif dalam mencegah infeksi Covid-19. Belum ada bukti bahwa vaksin menyebabkan gangguan yang berujung kematian. Apalagi, massal.[]