Lifestyle

Orang Tua Wajib Tahu Bahaya Perundungan Siber Pada Anak

Perundungan di dunia maya atau cyber bullying merupakan perilaku seseorang di dunia digital yang tidak menyenangkan


Orang Tua Wajib Tahu Bahaya Perundungan Siber Pada Anak
Ilustrasi Bullying pada Anak (Akurat.co/Lukman Hakim)

AKURAT.CO Pengguna internet di Indonesia menjadi salah satu yang terbanyak dan mengalami pertumbuhan yang pesar diantara negara-negara di dunia.

Mayoritas pengguna internet di Indonesia didominasi oleh kaum milenial serta generasi x, y dan z yang lahir pada tahun 2000 keatas.

We Are Social mencatat bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta pengguna, di mana 170 juta penggunanya menggunakan media sosial. 

baca juga:

Dapat dikatakan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 61.8% dari total populasi Indonesia.

Namun dari banyaknya angka tersebut, tingkat literasi digital masyarakat masih menempati peringkat yang tidak cukup baik.

Menurut Survei Literasi Digital di Indonesia pada tahun 2021, indeks atau skor literasi digital di Indonesia berada pada angka 3,49 dari skala 1-5. 

Skor tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi digital di Indonesia masih berada dalam kategori "sedang".

Salah satu indikasi dari skor tersebut adalah adanya dampak negatif yang tidak bisa dibendung melalui media sosial salah satunya adalah perundungan siber lewat media sosial atau yang dikenal dengan istilah cyberbullying.

Bambang Herlandi selaku Dosen serta Ketua Blogger Balikpapan Community menyatakan perundungan di dunia maya atau cyber bullying merupakan perilaku seseorang di dunia digital yang tidak menyenangkan dan cenderung mengarah pada tindak kejahatan baik dilakukan secara verbal maupun fisik, misalnya mengolok-olok orang lain, pukulan, cacian, atau membuat perasaan orang agar merasa diteror. 

Dampak negatif dari perilaku ini ialah dapat menurunkan semangat seseorang atau korban, dan parahnya bisa berujung pada tindakan yang fatal. “Penyebab warganet melakukan cyberbullying bisa karena perasaan kesal atau memiliki karakter atau bawaan pribadinya. Kemudian, juga bisa terjadi karena punya akses internet yang bisa melakukan cyber bullying, dan sebab terakhir ini yang paling banyak, yaitu ikut-ikutan. Ketika temannya mem-bully, ia pun ikut-ikutan,” jelasnya dalam program Indonesia Makin Cakap Digital di Kalimantan, Jumat (1/7/2022), secara daring.

Dalam acara yang dihelat oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi juga terdapat beberapa narasumber terkait yang menambahkan dampak negatif dari digital yang wajib diantisipasi orangtua.

Diantaranya Afiyati menambahkan, beberapa contoh tindakan perundungan di media sosial antara lain, doxing atau membagikan data pribadi seseorang ke dunia maya, cyber stalking atau mengintip dan memata-matai seseorang di internet, serta revenge porn atau membalas dendam melalui penyebaran foto dan video vulgar seseorang. Menurut dia, banyak sekali perilaku-perilaku tidak menyenangkan di dunia internet yang mengarah pada perundungan, sehingga orang tua ataupun guru harus jeli memantau anak-anak agar tidak menjadi korban maupun pelaku tindakan tidak terpuji tersebut. “Kita harus tahu cyber bullying, karena terkadang ada anak yang menjadi korban cyber bullying di media sosial tapi dia tidak mengerti. Anak-anak pun tidak tahu mau mengadu ke siapa, mau berbicara ke mana karena perasaan takutnya,” tutur Afiyati yang merupakan Dosen Teknik Informatika Universitas Mercu Buana dan Anggota Redaxi.

Rismi Juliadi mengungkapkan, belakangan ini perkembangan teknologi internet berlangsung dengan sangat cepat, sehingga penggunaan aplikasi media sosial telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. 

Aplikasi yang bertujuan untuk saling berinteraksi antara lain, Facebook, Instagram, atau TikTok. Media sosial punya sisi tujuan yang positif bagi penggunanya, seperti untuk personal branding, pemasaran digital, sarana belajar, sumber informasi, ataupun menjadi ladang penghasilan baru. 

“Tapi, ada juga hal-hal yang negatif akibat penggunaan media sosial. Misalnya, memicu timbulnya depresi, terpapar berita bohong atau hoaks, ada juga cyber bullying, penipuan, pelanggaran privasi, serta yang paling ekstrim yaitu ada pornografi,” kata Rismi, Dosen Universitas Multimedia Nusantara sekaligus Anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi).