Lifestyle

Orangtua Harus Sikapi Anak yang Pilah-pilih Teman

Saat anak tampak selalu pilih-pilih teman, orangtua harus segera mengambil tindakan. Apa saja itu?


Orangtua Harus Sikapi Anak yang Pilah-pilih Teman
Ilustrasi anak-anak tengah bermain (ISTIMEWA)

AKURAT.CO, Pilih-pilih teman berkaitan rasa fitrah manusia untuk mencari teman yang cocok dengannya. Umumnya, seseorang memilih kawan karena beberapa hal.

Meski perilaku pilih-pilih teman sangat wajar, hal ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Secara perlahan, sifat egosentrisme dan intoleran pada anak harus dikikis, seperti halnya sifat kedewasaan yang harus ditanamkan.

Menurut Praktisi Pendidikan anak, Najelaa Shihab, jangan buru-buru mencap anak dengan sebutan intoleran dan egosentrisme karena tidak bisa menerima perbedaan. Terutama ketika anak masih balita.

"Karena sebenarnya, anak sedang melewati proses. Yang perlu dilakukan orangtua adalah memastikan anak punya pengalaman yang beragam," ujar Najelaa Shihab kepada wartawan, yang dikutip pada Senin, (20/9).

Caranya dengan menciptakan sebanyak mungkin lingkungan sosial yang menarik untuknya, sehingga menambah pengalamnnya.

"Pengalaman yang semakin beragam akan membuat anak menjadi toleran," sambungnya.

Saat anak tampak selalu pilih-pilih teman, orangtua harus segera mengambil tindakan.

Apa saja itu? Berikut beberapa hal yang bisa orangtua lakukan:

Contoh yang baik

Orangtua merupakan contoh yang kuat bagi anak-anak. Untuk itu, jika kamu ingin anak berteman tanpa pilih-pilih, berilah contoh terlebih dulu dengan berkawan dan ramah kepada siapa saja. 

Beri contoh cara membuka pertemanan. Banyaklah menyapa orang-orang yang kita temui, bahkan pada orang-orang yang terkadang memberikan perlakuan kurang baik terhadap kita. 

Dengan begitu, orangtua bisa menanamkan sikap keterbukaan, sikap pemaaf dan sikap menghormati siapa saja pada anak.        

Ajakan beradaptasi

Anak-anak harus sesering mungkin diajak mendatangi berbagai macam suasana, diajak menemui orang-orang baru dan dibimbing untuk membuka pertemanan dengan kawan sebaya yang baru. 

Semakin banyak pengalaman anak dalam berkawan, akan semakin mempercepat peningkatan kemampuan mereka dalam bersosialisasi.

Dorongan bergaul

Untuk mengantisipasi anak yang berberteman dengan orang yang itu-itu saja, kenalkan dia pada teman-temannya yang lain. Dengan bisa mengenal banyak kepribadian, banyak sosok, dan banyak lingkungan maka proses sosialisasinya akan berkembang lebih luas. 

Keterikatan anak yang begitu besar pada seorang teman dapat memunculkan sifat posesif, yang membuat anak tak bisa lepas dari temannya itu, inginnya selalu bersama sehingga bisa terjadi kesedihan yang berlebihan bila harus berpisah.

Berkomunikasi efektif

Untuk menghadapi teman-teman yang dianggap tidak cocok dengan anak, sesekali perlu diajak berdialog bahwa kehidupan memang tidak selamanya harus selalu mengikuti kemauan kita. 

Memang akan ada orang-orang yang tak cocok atau tak menyukai kehadiran anak. Namun, keberadaan orang-orang ini tak boleh sampai melemahkan mental anak. 

Ajari anak untuk tetap bisa menghormati mereka secukupnya, tetapi bisa juga memprotes atau menegur secara halus orang tersebut untuk menghentikan perlakuannya yang tak menyenangkan.[]