News

Omongan Menag Tuai Kontroversi, Cholil Nafis Beri Pesan Menohok!

Omongan Menag Tuai Kontroversi, Cholil Nafis Beri Pesan Menohok!
Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Muhammad Cholil Nafis (Twitter/@cholilnafis)

AKURAT.CO Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis memberikan tanggapan terkait polemik surat edaran hingga ucapan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas yang menyandingkan suara azan dengan suara 'gonggongan anjing'.

Kiai Cholil memberi pesan jika masyarakat ingin mengkritik terkait kebijakannya ataupun ingin membela silahkan untuk menyiarkan kebaikannya. Hal ini dilakukan agar jelas dan tepat sasaran.

"Kalau mau mengkritik itu kebijakannya, kalau mau membela ya siarkan kebaikannya," tulis Kiai Cholil dalam akun Twitter pribadinya, @cholilnafis, pada Jumat (25/2/2022).

baca juga:

Selain itu, ia mengingatkan, jika ingin mengkritik janganlah mencela orangnya atas nama pembelaan terkait apa yang disampaikan. Bahkan ia menyayangkan jikalau tak sedikit yang menghina dan memfitnah pengkritiknya.

"Jangan atas nama kritik lalu mencela orangnya dan atas nama pembelaan lalu mencela, menghina bahkan memfitnah pengkritiknya," tegasnya.

Kiai Cholil juga berpesan untuk meluruskan tujuannya demi kebaikan bangsa dan negara, bukannya untuk memantik permusuhan hingga menyebabkan perpecahan.

"Luruskan tujuannya untuk kebaikan bangsa dan negara bukan untuk musuhan," pungkasnya.

 

Diketahui sebelumnya, Menag Yaqut Cholil Qoumas membandingkan penggunaan toa atau pengeras suara masjid dengan gonggongan anjing untuk menjelaskan alasan volume suara toa masjid dan musala perlu diatur maksimal 100 desibel. 

Hal itu disampaikan Yaqut saat diwawancara media di Pekanbaru Riau untuk menjelaskan pedoman penggunaan pengeras suara di masjid dan musala yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Agama No SE 05 tahun 2022.

Selain penggunaan maksimal 100 desibel, surat edaran itu mengatur waktu penggunaan pengeras suara di masjid dan musala disesuaikan di setiap waktu sebelum azan.

"Kita bayangkan, saya muslim saya hidup di lingkungan nonmuslim, kemudian rumah ibadah mereka membunyikan toa sehari lima kali dengan keras secara bersamaan, itu rasanya bagaimana?" kata Yaqut.

"Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak? Artinya apa? Suara-suara ini, apa pun suara itu, harus kita atur supaya tidak jadi gangguan. Speaker di musala-masjid silakan dipakai, tetapi tolong diatur agar tidak ada terganggu," ucapnya. []