breaking news: Sekolah Adakan Susur Sungai Sempor, Sejumlah Siswa SMP N 1 Turi Hanyut

image jamkrindo umkm
Login / Sign Up

Haven: Kosmopolitanisme Rumit dan Sederhana ala Manila

Hervin Saputra

SEA Games Filipina 2019

Image

Salah satu sudut dekat area komunal Haven Backpackers Hostel di Manila, Desember 2019. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Artikel ini adalah seri kedua dari catatan perjalanan SEA Games Filipina 2019. Artikel pertama berjudul “Manila: Sesaknya Jalanan dan Sejarah Perlawanan” telah dimuat di Akurat.co pada 22 Januari 2020.

Tanpa sempat beristirahat ketika pertama kali sampai di Manila pada 26 November 2019, kami langsung bergerak ke Sub Pusat Media Utama SEA Games Filipina 2019 yang terletak di gedung World Trade Center. Tak jauh dari hostel tempat kami menginap.

Selepas berdebat dengan petugas dan menanti ID kami dicetak di sana, kami menyaksikan laga pertama cabang sepakbola putra di Stadion Rizal Memorial. Juga tidak jauh dari hostel, sekitar 15 menit dengan jarak tempuh dalam kondisi sedikit macet.

baca juga:

Pulang ke hostel sekitar pukul 22.00 waktu setempat dan ketika kami berbelok ke jalan tempat hostel berada, kami melihat seorang lelaki tua duduk di jalanan dengan kondisi kepala terluka. Tampak seperti mabuk.

Haven Backpackers Hostel Manila. AKURAT.CO/Hervin Saputra.

Kuya A tidak terkejut, saya secara pribadi, tidak terkejut karena pemandangan di Manila dan pengetahuan tentang kota itu yang saya dapatkan dari internet membuat saya harus siap untuk hal-hal seperti itu.

“Apa yang kamu lakukan di situ Bapak?” kata Kuya A hanya sebagai ujaran karena ia tahu suaranya tak terdengar oleh lelaki tua tersebut sebab ia bicara dari dalam mobil.

Kami memutuskan turun di sana karena keberadaan lelaki tua tersebut membuat mobil tak bisa mengantarkan kami tepat di depan hostel. Kami berjalan kaki ke arah hostel yang berjarak sekitar 30 meter dari sana.

Hostel tempat kami menginap adalah hostel sederhana yang suasanya ketika kami baru tiba di sana kami seperti ingin pergi karena kami pikir hostel tersebut sekurang-kurangnya seperti losmen di Indonesia.

Hostel tersebut bernama Haven Backpackers Hostel yang menyewakan tempat tidur. Jika Anda menginap di sana, maka Anda akan membayar tempat tidur untuk satu tubuh satu ranjang dalam beberapa ruangan seperti barak di mana di sana ada sekitar lebih dari 25 ranjang.

Haven Backpackers Hostel Manila. AKURAT.CO/Hervin Saputra.

Hostel ini cukup unik karena entah mengapa, seminggu kemudian ketika kami pindah ke hotel di kawasan Guadalupe karena kami merasa hostel itu tidak seperti yang kami bayangkan, kami justru ingin kembali ke sana. Saya katakan, kami benar-benar ingin kembali ke sana.

Alasan mengapa ingin kembali karena mungkin mereka memiliki ruangan terbuka yang hijau di dalam hostel berdekatan dengan bar dan ruang komunitas di mana di sana ada dapur, meja panjang, sofa, beberapa gitar akustik, dan juga sebuah piano.

Juga dengan bendera-bendera negara-negara di seluruh dunia yang bergantungan di langit-langitnya. Di Haven, mereka punya tempat nongkrong yang bisa kami gunakan sebagai tempat menulis artikel di pagi hari di ruang terbuka ditemani secangkir kopi.

Plus, di sana kami bertemu dengan bule, negro, juga orang-orang dari daratan Asia Timur seperti Jepang, Korea, dan China. Tempat ini, sekalipun sangat sederhana, sangat kosmopolit dan menarik untuk dielaborasi karena Anda bertemu dengan orang dari berbagai negara.

Tetapi, sekali lagi, kami tinggal di sana sekitar dua pekan dan jika Anda tinggal di tempat yang sama dalam rentang waktu selama itu, suasana ke-kosmo-an sebagai pengalaman yang agak baru bagi saya memberikan tantangan dalam pergaulan dengan orang-orang yang sadar bahwa mereka berasal dari negara berbeda.

Haven Backpackers Hostel Manila. AKURAT.CO/Sopian.

Pada suatu pagi di hari yang awal misalnya, seorang pria kulit putih menyapa saya lebih dulu ketika saya tiba di area nongkrong tersebut. Saya tidak menjawab karena saya mengerti apa yang dia katakan.

Di pagi itu pula, seorang wanita pemilik Hostel bernama Angela, berusia akhir 30-an, sedang melakukan hal-hal biasa di dapur. Pria kulit putih tersebut, ketika mereka mengetahui dari Angela bahwa kami datang dari Indonesia dan ia maklum ketika kami tak menjawab sapaannya karena dia berpikir kami orang Filipina, langsung berusaha mencairkan suasana dengan mengatakan bahwa ia punya hubungan dengan Indonesia karena ia berasal dari Belanda.

“Bagaimana dulu mereka menjajah kalian?” kata pria tersebut seakan-akan menyesali perbuatan nenek moyangnya kepada Indonesia.

Beberapa saat kemudian, di sebuah meja panjang, saya mulai menulis artikel di mana pria tersebut duduk di dekat saya dengan dua pria kulit putih lainnya. Seorang dari Kanada dan seorang dari Swedia.

Lagi, karena dia baru saja bicara dan bertemu dengan orang Indonesia, mereka bicara tentang Bali. Orang Kanada tidak terlalu suka dengan Bali karena menurutnya orang Bali mata duitan dan suka memaksanya untuk membeli barang atau naik angkutan umum ketika berada di sana.

Haven Backpackers Hostel Manila. AKURAT.CO/Sopian.

Sementara itu, orang Belanda bilang dia sangat menyukai Bali. Dan saya mendadak menjadi gelisah ketika orang Belanda tersebut bilang, “apalagi para pelacurnya.”

Saya tidak pernah merasakan hal itu sebelumnya di mana rasanya ada yang menggigil dalam tubuh saya ketika si orang Belanda tersebut bicara seperti itu.

Dan saya bertanya kepada dia, “do you love rock and roll?”

No. Why?” jawabnya.

I love rock and roll because it’s black music. And black people, they are humble people.”

Who’s humble?” tanyanya.

Black people. Do you know…” (saya menyebut salah seorang musisi kulit hitam terkemuka),” dan sebelum saya menyelesaikan kalimat saya dia mengalihkan pembicaraan dengan meminta izin kepada saya untuk menerima telepon.

Di sudut dapur, saya merasa bahwa Angela gelisah dengan situasi tersebut. Dan, suka atau tidak suka, pengalaman itu membuat saya merasa seperti merasakan hubungan saudara dengan orang Filipina dan barangkali perasaan serupa juga dirasakan oleh orang-orang Filipina yang bekerja di hostel itu. Pengalaman yang membuat saya merasa orang Filipina adalah kaum serumpun sebagaimana yang saya rasakan, barangkali, terhadap orang Malaysia.

Haven Backpackers Hostel Manila. AKURAT.CO/Sopian.

Di malam terakhir, saya berkesempatan melakukan wawancara dengan Angela di ruang nongkrong yang disebutnya dengan “area komunal”. Situasi sebagaimana yang saya alami dengan orang Belanda tersebut saya bahas – meski tidak secara langsung. Saya berani bicara secara terbuka karena Angela sendiri bersikap terbuka kepada kami, termasuk dengan menceritakan pengalaman pahit perjalanan hidupnya dan keluarganya.

“Yang bisa saya katakan, orang Filipina adalah orang yang sangat ramah, dan menurut saya, beberapa traveler (petualang), melihat, terutama terhadap gadis-gadis Filipina, sebagai pelacur, dan saya ketemu banyak traveler yang mengatakan itu. Itu mungkin karena mereka memiliki pengalaman buruk dengan orang Filipina lainnya, dan itu adalah hal yang buruk bagi kami orang Filipina karena tidak semua gadis Filipina adalah pelacur, dan itu adalah citra buruk bagi kami,” kata Angela.

“Dan saya selalu meminta mereka untuk mengerti, jangan nilai semua orang Filipina seperti itu, karena tidak semua orang sama. Dan saya bilang, jika Anda ingin melakukan itu (ke prostitusi), Anda bisa datang ke tempatnya dan Anda bisa mendapatkan perempuan, dan Anda benar-benar akan mendapatkannya.”

Karena pengalaman berada di lingkungan orang dari berbagai negara dalam kondisi di sebuah hostel itu adalah hal baru bagi saya, saya merasa tidak mudah untuk menjalankan bisnis seperti yang dilakukan Angela. Bahwa dia harus menghadapi situasi di mana dia harus membiasakan diri dengan berbagai perilaku tamunya.

Haven Backpackers Hostel Manila. AKURAT.CO/Sopian.

Angela menjalankan bisnisnya dalam situasi di mana ia membuat Anda merasa disambut di sana dan itu menyebabkan Anda betah dan di saat yang sama dia harus menghadapi tamu yang memanfaatkan keramah-tamahan itu dengan buruk. Tak jarang, kata Angela, ia mengusir beberapa tamu.

“Orang-orang yang kami usir adalah mereka yang berutang, tidak membayar, dan bicara kasar. Ini bukan soal uang, tapi soal perilaku, kami percaya, bahwa tinggal di hostel Anda harus menunjukkan positifitas kepada orang lain, ini adalah tempat yang baik untuk bertemu orang lain, dan satu orang tinggal di sini bicara kasar dan tidak hanya dengan saya tapi juga terhadap banyak orang, saya memastikan dia tidak tinggal lama di sini karena jika dia bertahan lebih lama itu akan memengaruhi seluruh tamu saya yang lain.”

Dan tetap saja, hostel milik Angela selalu ramai didatangi pengunjung. Terkadang, hostel tersebut seperti sekadar tempat menginap di masa liburan, menenangkan diri, atau bahkan menghindarkan diri untuk waktu sesaat atau jangka panjang dari masalah pribadi.

Kami sendiri agak bertanya-tanya juga, misalnya, ketika kami melihat seorang lelaki Kanada yang usianya barangkali sebaya kami, yang tinggal di hostel itu selama kami berada tanpa terlihat pergi ke mana-mana. Di hostel, kami lebih sering melihatnya dengan laptop yang terbuka di atas meja.

Atau seorang lelaki paruh baya yang menurut Angela datang dari Jepang, tinggal di sana lebih dari setahun dan selalu tersenyum kepada kami dengan ramah. Dan juga kami bertemu dengan seorang pemuda kulit hitam Amerika yang bisa langsung akrab ketika kami dan Angela dan salah seorang staf Angela ngobrol sambil minum bir di ruang nongkrong di malam sebelum pulang ke Jakarta.

Haven Backpackers Hostel Manila. AKURAT.CO/Sopian.

Dan Angela bisa mengkategorisasi tipe tamu yang datang ke hostelnya. Pengalaman membuatnya bisa membaca watak tamunya hanya ketika pertama kali mereka memasuki pintu dan check-in di meja resepsionis. Ia juga punya definisinya sendiri tentang orang yang bisa dikategorikan sebagai backpacker “sejati”.

Backpacker yang sebenarnya adalah orang-orang yang tidak mencari sesuatu apapun, dan mereka sudah tahu apa yang akan mereka lakukan, karena mereka tahu apa yang mereka sukai. Karena jika Anda bukan backpacker sebenarnya, Anda tidak tahu apa yang mau dilakukan, Anda selalu mencari sesuatu, yang bahkan tidak ada,” kata Angela.

“Mereka (backpacker sebenarnya) adalah orang-orang yang tenang, saya bertemu banyak orang di sini yang menjadi backpacker bertahun-tahun dan mereka sudah menua dengan menjadi backpacker. Saya tahu, saya bisa membedakannya. Menurut saya, backpacker sebenarnya adalah mereka yang mengalir, kami tidak perlu menanyakan apa yang harus mereka lakukan, mereka hanya melakukan apa yang mereka lakukan.”

***

Anda bisa lihat bahwa Angela sangat terbuka dengan kami. Bukan hanya Angela, tapi juga stafnya, dua gadis dan satu pemuda, dan keluarga Angela yang tinggal di hostel tersebut.

Terkadang, dalam pergaulan sosial, saya merasa ada insting komunal yang membuat kita merasa bersaudara meski tidak satu negara. Empati muncul kepada saudara Filipina ini karena selain saya merasa bahwa situasi politik-ekonomi mereka tidak jauh berbeda dengan Indonesia, namun juga keterbukaan mereka akibat tekanan kehidupan yang menurut saya tidak mudah untuk dihadapi.

Hanya dengan bergaul, saya bisa tahu bahwa salah seorang staf Angela, seorang gadis berusia 20 tahunan yang datang dari Kepulauan Leyte, mengaku ia tidak suka mudik untuk bertemu ayahnya. Alasannya karena menurutnya ayahnya adalah orang yang kasar yang pernah memuntir tangannya hingga cedera karena ia tidak mendapatkan nilai yang memuaskan di sekolah dasar.

“Kami beruntung karena kami tidak dijual (untuk diadopsi) karena beberapa keluarga melakukan itu,” kata staf tersebut tentang bagaimana ia menggambarkan kemiskinan keluarganya yang bagi sebagian keluarga lain di lingkungannya membuat mereka menjual anak mereka.

Juga seorang staf lain yang merupakan perempuan berusia akhir 20 tahunan yang bekerja di sana dengan status sebagai ibu tunggal (single parent). Dan staf lain, pemuda yang ramah dengan tato di lehernya yang menyebut bahwa ia bekerja di Haven untuk menghindarkan diri dari kerumitan yang bisa membawanya ke dalam lingkungan kriminal. Dan Angela juga punya kisahnya sendiri.

Pemilik Haven Backpackers Hostel Manila, Angela (kedua dari kiri), dan stafnya. AKURAT.CO/Sopian.

Entah karena saya yang terlalu sensitif, atau yang mereka terlalu terbuka, kisah-kisah itu membuat saya merasa bahwa kehidupan di Filipina, atau di Manila, jauh lebih berat dari apa yang kami hadapi sehari-hari di Jakarta.

“Saya tidak akan bilang bahwa saya lelah menjadi orang Filipina, saya akan bilang saya gembira menjadi orang Filipina. Bahkan ketika saya berjuang (untuk hidup), kami adalah orang-orang baik, bahkan ketika kami tidak punya (harta), kami tetap harus bisa tersenyum, karena itulah kami,” kata Angela.

Dalam beberapa hal, orang Filipina lebih ramah dari orang Indonesia sekalipun “ramah” adalah trademark orang Indonesia di mata orang yang datang dari Barat.

Juga, pengalaman di Haven menunjukkan betapa Filipina lebih terbuka terhadap orang asing karena mereka terbiasa dengan banyak orang asing yang berseliweran di kota mereka dengan berbagai kepentingan.

Yang lain mungkin adalah karena seksualitas dan alkohol yang lebih “santai” di tempat itu. Anda bisa menemukan alkohol dijual dengan mudah dan murah di minimarket juga hiburan malam yang dijual tidak dengan “sembunyi-sembunyi” di tepi jalan-jalan mereka. Juga Anda bakal terbiasa melihat perempuan mengenakan  celana pendek atau baju dengan bahu terbuka di tempat-tempat umum.

Haven Backpackers Hostel Manila. AKURAT.CO/Sopian.

Juga dengan anak-anak seusia siswa sekolah dasar yang masih berkeliaran di tepi jalan tak jauh dari hostel ketika kami pulang larut malam diantar oleh Kuya A sepulang liputan. Beberapa hari kemudian, setelah saya merasa waktunya cukup tepat, saya bertanya kepada Kuya A mengapa anak-anak itu masih ada di luar rumah selarut itu.

Don’t they go to school?” tanya saya.

No,” jawab  Kuya Jun ringkas. “Their parents don’t care about the future of their kids. The problem is the parents.

Saya tidak ingin menunjukkan bahwa Indonesia lebih baik daripada Filipina. Tetapi, yang terpenting bagi saya adalah betapa orang Filipina merasa tidak perlu menutup-nutupi penderitaan dan kesulitan di mana dalam banyak hal bagi kita di Indonesia menceritakan penderitaan terkadang justru dilihat sebagai sikap cengeng dan membuka “aib”.

Saya mengerti mengapa kita merasa seperti itu ketika kita menghadapi orang Indonesia. Tetapi di Filipina, percayalah, ketika mereka menceritakan hal-hal pahit, mereka benar-benar ingin menceritakannya bukan untuk berharap simpati. Bagi mereka, itu kenyataan.

Dan jika Anda menganggap artikel ini sebagai artikel panduan perjalanan, tidak ada salahnya Anda mencoba lingkungan kosmopolit yang sederhana di Haven jika berkunjung ke Manila. Anda bisa googling: Haven Backpackers Manila. Di tempat itu, Anda bisa mendapatkan “suasana” Manila.[]

 

 

 

 

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Amerika-Spanyol, SEA Games, dan Malamnya Manila

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Manila: Sesaknya Jalanan dan Sejarah Perlawanan

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

PRSI Beri Bonus 520 Juta untuk Peraih Emas SEA Games

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Warung Indo, Penyelamat Lidah Nusantara di Jantung Manila

Image

Olahraga

I Gede Siman Sudartawa

Peraih Emas SEA Games Harap Pelatnas Renang Berjalan Jangka Panjang

Image

Olahraga

I Gede Siman Sudartawa

Pasca SEA Games, Siman Sudartawa Kini Fokus Olimpiade 2020

Image

Olahraga

I Gede Siman Sudartawa

Siman Masih Belum Puas Walau Sabet Medali SEA Games

Image

Sea Games

SEA Games Manila 2019

SEA Games Filipina 2019 Resmi Ditutup

Image

Sea Games

SEA Games

Ego Tuan Rumah dan Reputasi SEA Games yang Kian Meragukan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
World Junior Tennis Competition 2020

Libas Singapura, Tim Putri Indonesia Juarai Pra-Kualifikasi WJTC 2020

Kedua tim sebenarnya sudah sama-sama lolos babak kualifikasi Asia Oseania yang bakal bergulir di Tarara, Australia, akhir bulan depan.

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia 1-4 Persita Tangerang

Timnas Indonesia Dipermalukan Persita, Begini Alasan Pelatih asal Korea

Tim Nasional Indonesia dipermalukan tim promosi Liga 1 dengan skor telak 4-1.

Image
Olahraga
Stadion Brawijaya

Wali Kota Kediri Pastikan Kesiapan Stadion Brawijaya Jelang Bergulirnya Liga 1

Manajemen menargetkan pada tiga hari sebelum laga home Persik pada 6 Maret, diharapkan pembenahan bisa tuntas.

Image
Olahraga
Timnas Indonesia 1-4 Persita Tanggerang

Timnas Asuhan Shin Tae-Yong Tunduk dari Tim Promosi Liga 1

Gol semata wayang Timnas diciptakan Rizki Pora melalui eksekusi bola mati.

Image
Olahraga
Modern Pentathlon Indonesia

PP MPI Bakal Segera Jadi Anggota KONI

KONI akan memberi kemudahan bagi cabang olahraga berprestasi yang didorong dalam bentuk aturan.

Image
Olahraga
Persija Jakarta vs Geylang International FC

Setelah Piala Gubernur Jatim, Persija Langsung Tantang Klub Singapura

Pertandingan nanti merupakan bagian dari acara peluncuran tim bertajuk 'The Dream Team Persija Jakarta'.

Image
Olahraga
Satgas Antimafia Bola

Satgas Antimafia Bola Jabar Awasi Ketat Jalannya Liga Indonesia

Hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan sepakbola Indonesia yang lebih bersih, bermartabat, dan juga berprestasi.

Image
Olahraga

4 Aksi Sosial Persebaya yang Patut Ditiru, Boneka untuk Penderita Kanker hingga Perbaiki Rumah Salah Satu Legend

Keren kan, aksi mereka?

Image
Olahraga
Daihatsu Astec Open 2020

Frisian Flag Indonesia Kembali Dukung Gelaran Daihatsu Astec Open 2020

Daihatsu Astec Open 2020 adalah turnamen bulutangkis junior tingkat internasional.

Image
Olahraga
Persija Jakarta

Presiden Persija: Kami Pakai Titel The Dream Team untuk Memotivasi Tim

Persija memboyong Evan Dimas dan Osvaldo Haay hingga mantan pemain Juventus, Marco Motta.

terpopuler

  1. Sederhana dan Tetap Memesona, 8 Potret Artis Tanah Air saat Mengenakan Daster

  2. Anti Macet dan Delay, Ini 7 Jet Pribadi Paling Murah di Dunia, 'Hanya' Rp18 M!

  3. Ilmuwan ini Klaim Mustahil Ada Kehidupan Setelah Mati

  4. Ada yang Genap 40 Tahun, 8 Pesepakbola Senior Ini Tetap Eksis di Liga 1

  5. Mundur dari dunia Hiburan dan Pilih Jadi Polisi, 10 Potret Tampan Gariz Luis yang Bikin Meleleh

  6. Kepala BPIP Usul Ganti ‘Assalamualaikum’ dengan Salam Pancasila, Said Didu: Justru yang Memusuhi Agama Pak Yudian

  7. Menikah di Bali, 10 Potret Mesra Sheila Marcia dan Dimas Akira yang Jarang Tersorot

  8. Mulai Berkumpul, Peserta Aksi 212 Sesalkan Akses Menuju Istana Negara Diblokir

  9. Jadi Orator Aksi 212, Marwan Batubara Tidak Rela Ahok Duduki Pertamina

  10. Semakin Lengket dengan Gading Marten, 10 Potret Cantik Juria Hartmans

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Ujang Komarudin

Agama dan Pancasila

Image
Achsanul Qosasi

Ujian Tak Mudah Bagi Pancasila

Image
Girindra Sandino

Tujuh Analisa dan Persoalan Urgen Pilkada 2020

Image
Abdul Aziz SR

Menanti Kebangkitan PPP

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakornas Perpusnas, Penguatan Budaya Literasi Wajib untuk SDM Indonesia Unggul

Image
Gaya Hidup

Bintangi Get Married Series, Prilly Latuconsina Ragu Tak Bisa Seperti Nirina Zubir

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakerpus Perpusnas: Penguatan Indeks Literasi untuk SDM Indonesia Unggul

Sosok

Image
News

Dari Divisi Korporasi hingga Dirut BNI, 5 Fakta Perjalanan Karier Herry Sidharta

Image
News

Jadi Sorotan Karena Rangkap Jabatan Komut BRI, 6 Fakta Penting Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo

Image
News

Tampil Santai hingga Elegan, 10 Gaya Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo saat Bekerja