image jamkrindo umkm
Login / Sign Up

Manila: Sesaknya Jalanan dan Sejarah Perlawanan

Hervin Saputra

SEA Games Filipina 2019

Image

Seorang wanita saat menumpang jeepney di Manila, Filipina, 9 Januari 2020. | REUTERS/Willy Kurniawan

AKURAT.CO, Lebih dari sebulan sejak meninggalkan Filipina pada 13 Desember tahun lalu, apakah saya punya ikatan terhadap tempat itu?

Saya selalu berusaha untuk memiliki ikatan dengan negeri lain di luar Indonesia yang pernah saya kunjungi supaya perjalanan tak menjadi sia-sia. Setidaknya, Anda punya teman yang bisa Anda kunjungi jadi Anda punya alasan untuk kelak kembali lagi ke sana pada suatu hari.

Kesempatan untuk meliput SEA Games 2019 yang digelar pada akhir November hingga pertengahan Desember tahun lalu adalah peluang untuk mendapatkan ikatan tersebut. Dan dalam beberapa hari terakhir, ternyata kabar dari negeri kepulauan di Samudera Pasifik itu datang dengan lebih mengejutkan.

baca juga:

Kami pulang ke Indonesia setelah sempat mengalami topan Kamuri di mana angin bertiup sepanjang hari yang sesekali disertai dengan hujan – saya tak pernah merasakan hal itu di Indonesia.

Dua hari setelah sampai di Jakarta, gempa bumi mengguncang Filipina di bagian selatan. Di Pulau Mindanao, gempa berkekuatan 6,5 skala richter tersebut menewaskan seorang bocah perempuan berusia enam tahun dan melukai 15 lainnya.

Dan pekan lalu, Gunung Taal di kawasan Luzon meletup dan membuat penduduk di sekitar mengungsi menjauhi pusat magma. Abunya bahkan sampai ke Manila karena saya melihat rekan pemilik hostel tempat kami menginap di kawasan Makati, Manila, memuat fotonya dan beberapa tamu yang menutup wajah mereka karena abu vulkanik di akun Instagramnya.

Kenapa baru menulis artikel ini setelah gegap-gempita SEA Games telah usai?

Karena satu dan lain hal, saya tidak mempedulikan aktualitas untuk artikel semacam ini. Dan percayalah, 18 hari berada di Filipina untuk melakukan peliputan event olahraga multicabang seperti SEA Games seakan-akan membuat Anda membutuhkan istirahat selama sebulan untuk memulihkan diri.

Saya tak bisa bicara banyak kenapa bisa demikian? Beberapa kisah yang akan saya sajikan dalam catatan perjalanan ini mudah-mudahan bisa memberikan Anda alasan mengapa berada di Manila begitu melelahkan.

Labirin Manila

Manila seperti labirin dengan sedikit pintu masuk dan keluar. Dan jantung labirin itu bercampur baur dalam dua pemandangan yang kontras antara distrik multinasional dengan kompleks perkantoran berjalan sempit yang mirip di kota-kota modern Amerika dan kawasan kumuh yang dihuni masyarakat miskin.

Kesempatan untuk melihat ibukota Filipina tersebut dengan tugas utama untuk meliput SEA Games ke-30, 26 November–13 Desember lalu, telah membawa saya, atau kami, ke dalam adaptasi yang sedikit unik lantaran bagi kami yang hidup sehari-hari di Jakarta, pemandangan di Manila sesungguhnya tak terlalu mengejutkan.

Kami sampai di Bandar Udara Ninoy Aquino di Manila pada Selasa, 26 Desember, pagi dalam kondisi tubuh yang berusaha untuk tidur di dalam pesawat. Dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, maskapai Cebu Pacific membawa kami dalam perjalanan empat setengah jam.

Hari masih pagi ketika seorang kawan yang saya kenal lama sejak di bangku kuliah di Jakarta menjemput kami sekaligus memperkenalkan kami dengan pengemudi yang akan membawa kami kesana-kemari selama 18 hari ke depan. Kuya A, demikian kami memanggil pengendara tersebut.

Jeepney Manila di salah satu jalan di Manila, Filipina, Desember 2019. AKURAT.CO/Sopian.

Kuya, dalam bahasa Tagalog berarti kakak lelaki yang lebih tua, semacam “abang” dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, inisial nama pengemudi tersebut adalah A.

Sulit untuk tidak membahas pengalaman dalam melintasi jalan-jalan Manila sebagai oleh-oleh pengalaman dalam bentuk artikel seperti yang Anda hadapi saat ini. Dan sulit untuk tidak menceritakan bagaimana pergaulan kami dengan Kuya A karena peran lelaki berusia 52 tahun ini adalah yang paling vital dalam pekerjaan kami.

Terutama karena informasi yang saya peroleh dari media Filipina, Rappler, yang memberitakan bahwa Ketua Penyelenggara SEA Games Filipina 2019, Alan Cayetano, mengatakan bahwa “lalu lintas” adalah tantangan bagi penyelenggaraan pesta olahraga se-Asia Tenggara tersebut.

“Di sini di SEA Games, Anda mungkin bisa mengendalikan lalu lintas untuk para atlet dan pelatih, tapi bagaimana dengan penonton? Kita tidak bisa membuat mereka melakukan perjalanan tiga hingga empat jam untuk menyaksikan pertandingan satu jam, benar kan? Jadi ini benar-benar menjadi tantangan,” kata Cayetano dalam konferensi pers 44 hari menuju upacara pembukaan.

Membaca dan menyadur berita itu sebelum benar-benar tiba di Filipina rasanya tidak terlalu mengkhawatirkan karena saya secara pribadi pernah mengalami macet selama 3-4 jam di Jakarta. Jadi, apa yang harus diherankan?

Tetapi kami baru memahami apa arti kemacetan di Manila, bahkan setelah berkali-kali membandingkan dengan kemacetan di Jakarta, ketika kami harus memisah jalan untuk pergi ke dua venue sekaligus dalam satu hari.

Venue pertama adalah cabang ski es di mal terbesar kedua di Filipina sekaligus yang kesembilan di dunia, SM Megamall, dan yang kedua adalah di sebuah kompleks olahraga baru yang dibangun di kawasan Clark yang berjarak sekitar 110,8 kilometer dari Manila.

Sebuah sudut di kawasan bisnis di Manila, Filipina, Desember 2019. AKURAT.CO/Sopian.

Dari tempat kami menginap di sebuah hostel yang terletak di Guernica Street, Barangay Palanan, Kota Makati, menuju SM Mall hanya berjarak sekitar sepuluh kilometer. Jika Anda mengklik jarak waktu tempuh dalam peta google pada pukul setengah tiga dini hari, maka google akan menerakan 15 menit saja menuju ke sana.

Kami berangkat sekitar pukul setengah satu siang waktu setempat dengan perkiraan bahwa SM Mall bisa ditempuh dengan jarak kurang lebih dari satu jam dan bisa sampai ke Clark sebelum kick-off laga terakhir yang bakal menentukan Tim Nasional Polo Air Putra Indonesia meraih emas pertama dalam sejarah SEA Games dan yang pertama di SEA Games Filipina 2019 pada pukul 17.00 WIB.

Mirip seperti di Jakarta, kemacetan terkadang tak bisa diprediksi. Namun, pengalaman perjalanan menuju SM Megamall telah memberikan kesan bahwa Manila menyajikan Anda ekstremitas kepadatan lalu lintas.

Pada akhirnya, perkiraan waktu sejam untuk bisa mencapai SM Megamall meleset menjadi tiga jam dalam jebakan kemacetan yang disertai pemandangan kiri-kanan tembok under pass dan jalan layang yang membuat kota terasa sangat sempit dan rapat.

Kami tiba di Pusat Akuatik New Clark City lewat pukul tujuh malam di mana Indonesia sedang menantikan hasil laga antara tuan rumah Filipina dan Singapura yang akan menentukan apakah Indonesia bisa lebih cepat untuk memastikan emas polo air pertama dalam sejarah SEA Games.

Kami beruntung karena para pemain Tim Nasional dan beberapa pejabat Komite Olimpiade Indonesia berada di arena untuk menantikan hasil laga antara Filipina-Singapura.

(Dan akhirnya, Singapura-Filipina bermain imbang 6-6 sekaligus memastikan emas untuk Indonesia tanpa harus menunggu pertandingan terakhir dua hari berikutnya Juga, kami masih mendapat momen ketika mereka merayakan keberhasilan dan sedikit wawancara dengan para atlet.)

Pengendara Jeepney sedang membawa penumpang di Manila, Filipina, Januari 2020. REUTERS/Willy Kurniawan.

Dan dalam 18 hari berada di Manila, kemacetan demikian adalah pemandangan sehari-hari. Kami menggunakan pengalaman merasakan macet di Jakarta untuk berusaha menghadapi kejenuhan sekaligus berusaha berempati bahwa pekerjaan Kuya A jelas tidak mudah.

Pendeknya, lalu lintas di Manila membuat kami harus mengendalikan mood karena di saat yang sama kami menyewa seorang pengemudi yang harus membawa kami dalam keadaan selamat di tengah kemelut kendaraan sekaligus menyadari bahwa kami adalah klien atas jasanya.

Sejalan dengan itu, ketika menyadari bahwa kemacetan di Manila tampak lebih ekstrem dari yang pernah saya alami di Jakarta, saya mencari tahu apa yang dikatakan dunia tentang kepadatan tersebut melalui media-media berbahasa Inggris.

Hasilnya sejalan dengan kenyataan. Mulai dari South China Morning Post, The Guardian, dan Reuters, ternyata telah membahas kemacetan tersebut beberapa bulan sebelumnya.

Informasi-informasi tersebut menyalahkan naiknya jumlah kendaraan sebanyak tiga kali lipat pada dekade sebelumnya disertai dengan pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen pada 2012 di Filipina.

Pada 2015, peta google yang menggunakan aplikasi Waze menunjukkan bahwa Manila adalah kota dengan kemacetan terburuk di dunia dan data dari Japan International Cooperation Agency menyebut bahwa kerugian harian akibat kemacetan di Manila naik menjadi 3,5 miliar Peso pada 2017 dari 2,4 miliar Peso pada 2012.

Salah satu moda angkutan umum di Manila, Filipina, Desember 2019 . AKURAT.CO/Sopian.

Dan puncak situasi ekstrem itu kami rasakan di hari terakhir ketika kami hendak bergerak dari Manila menuju Clark untuk meliput upacara penutupan pada Rabu, 11 Desember. Berangkat dari Makati sebelum pukul dua siang, dan kemacetan menerkam di sepanjang jalan.

Mencapai pintu tol sekitar pukul lima sore dan belum sampai seperempat perjalanan di tol kami memutuskan kembali ke Manila karena perjalanan di tol saja lebih dari 80 kilometer sehingga kami bisa tiba di Clark ketika para pekerja di stadion mulai membereskan sisa-sisa pesta terakhir.

Kembali ke Manila juga bukan perkara semudah menghindari perjalanan jauh, karena, sekurang-kurangnya, tujuh jam setengah kami baru keluar dari mobil untuk makan malam di sebuah restoran masakan Minang yang dimiliki oleh warga China di kawasan Makati sejak kami naik sebelum pukul dua siang.

Bisakah Anda bayangkan berada dalam kemacetan selama 7,5 jam? Di Manila, itu nyata. Dan keesokan harinya, Kuya A mengatakan bahwa kemacetan tempo hari menjadi pembahasan di media Filipina dan kepadatan itu terjadi akibat penutupan beberapa ruas jalan.

Obrolan Politik Pengalih Kemacetan

Karena saya yang diberi tanggungjawab untuk mengurusi segala macam pembayaran selama kami berada di Filipina untuk SEA Games, maka dengan sendirinya saya duduk di kursi depan mobil. Saya bertugas untuk memberikan uang kepada Kuya A ketika kami harus mengisi bensin, membayar tol, juga membayar parkir.

Mobil yang membawa kami adalah Honda jenis SUV dengan maksimal tujuh orang jumlah penumpang. Mobil itu satu dari dua mobil yang dimiliki oleh Kuya A.

Situasi itu mendorong saya untuk bisa mencairkan suasana dengan berbicara atau “ngobrol” dengan Kuya A untuk menghibur diri di tengah kemacetan. Apa yang kami bicarakan di antaranya adalah perbedaan-persamaan dalam perbandingan antara apa yang kami lihat di Manila dan yang kami alami di Jakarta.

Pembicaraan dalam perjalanan itu membuat saya bisa membayangkan konteks dan memahami mengapa situasi seperti itu bisa terjadi di Manila. Mengapa kemacetan Manila bisa lebih ekstrem dari Jakarta?

Secara statistik, jawabannya adalah karena Jakarta lebih luas dari Manila. Jika luas Manila adalah 42,88 kilometer persegi dan Metro Manila 6,195 kilometer persegi, maka Jakarta lebih luas dengan 661,5 kilometer persegi untuk luas keseluruhan dan luas metronya adalah 6,932 kilometer persegi.

Sementara untuk tingkat kepadatan, data 2015 menyebut Jakarta 14,464/kilometer persegi dan 4,958/kilometer persegi untuk metronya. Sedangkan Manila memiliki kepadatan sebesar 22,710/kilometer persegi dan Metro Manila sebesar 20,785/kilometer persegi.

Penampakan Penyeberangan Orang Bawah Tanah di Manila, Filipina, Desember silam. AKURAT.CO/Sopian.

Jadi, Anda bisa bayangkan bahwa tingkat kepadatan di Manila lebih tebal dari Jakarta meski luas wilayah mereka jauh lebih kecil.

Salah satu topik pembicaraan yang saya ajukan adalah bertanya kepada Kuya A bagaimana rupa lalu lintas Manila ketika dia masih muda, sebutlah, di usia 20 tahunannya. Dengan usianya yang mencapai angka 52 tahun saat itu – ia memberitahu kami jumlah usianya – maka sekurang-kurangnya Manila pada 1980-an.

“Manila lebih lega (di tahun 1980-an). Mobil juga tidak sebanyak sekarang,” kata Kuya A.

Kuya A mengaku lahir di Quezon City, sebuah kota yang rapi dan relatif bersih yang pernah menjadi ibukota Filipina sampai 1976 sebelum dikembalikan ke Manila. Namun, ia tumbuh besar di Manila.

Jenis pembicaraan seperti ini membuat saya berusaha menggali pengetahuan yang saya punya tentang Filipina supaya obrolan terus mengalir dan kami bergaul dengan sang pengemudi dalam usaha untuk tak memperlakukannya hanya sebatas pengemudi saja.

Kami sedikit beruntung karena Kuya A adalah orang yang ramah, tak segan untuk membuka topik pembicaraan, smart, dan menunjukkan bahwa ia memang benar-benar ingin melayani kami dalam posisinya sebagai pengemudi.

Kuya A juga berusaha untuk menjaga mood-nya agar ia tidak jutek dengan kami di tengah kemacetan yang dalam kondisi terparah membuat sang pengemudi mesti memoles minyak kayu putih di kepalanya seraya mengendalikan kendaraan.

“Terkadang saya merasa capek menjadi orang Filipina, tetapi apa lagi yang bisa saya lakukan?” kata Kuya A pada suatu malam dalam perjalanan di tol dari Clark kembali menuju Manila.

Bagi saya, Kuya A berusaha untuk menunjukkan kepada kami bahwa dia tidak ingin mengeluhkan apa yang terjadi dengan Manila dan negaranya. Dia seakan mengajak kami untuk menghadapi negaranya sebagaimana adanya. Plus dia tahu ada banyak kekurangan yang bisa kami komentari dengan membandingkannya dengan apa yang kami dapatkan di Indonesia.

Dalam kondisi yang sebenarnya membuat kami stres, Kuya A berusaha untuk tetap bersikap so nice. Dan saya tahu, tidak mudah untuk bisa mempertahankan sikap seperti itu sebagai pengemudi yang membawa kami ke sana-kemari dalam 18 hari beruntun.

Dan dalam sebuah pembicaraan, Kuya A bertanya kepada saya, dalam Bahasa Inggris, “apakah kamu pernah mendengar tentang Revolusi EDSA?”

Saya tidak tahu apa itu Revolusi EDSA. Tetapi ketika dia menyebutkan Revolusi EDSA berkaitan dengan penyingkiran bekas Presiden Filipina, Ferdinand Marcos, dari tampuk kekuasaan, saya baru mengerti karena saya tahu siapa Ferdinand Marcos. Saya pernah mempelajarinya di Sekolah Dasar.

“Mereka menyebut Marcos sebagai diktator,” kata Kuya A.

Mantan Presiden Filipina, Ferdinand Marcos. ABC.

Saya meng-googling apa itu Revolusi EDSA. Dan dari Wikipedia informasi yang saya dapatkan bahwa Revolusi EDSA adalah julukan atas gerakan demonstrasi damai yang dilakukan lebih dari dua juta masyarakat sipil bersama beberapa kelompok politik, militer, dan keagaamaan untuk menurunkan Marcos dari 21 tahun kekuasaannya.

EDSA sendiri adalah panggilan singkatan atas sebuah nama jalan paling vital - Kuya A menyebutnya sebagai jalur yang paling dekat untuk dilalui jika ingin membelah Manila dari ujung ke ujung – di Manila yang nama aslinya merupakan kata-kata dalam Bahasa Spanyol: Epifanio De Los Santos Avenue.

Pada 22-25 Februari 1986, masyarakat turun ke jalan memaksa Marcos melarikan diri ke Hawaii karena rezim kediktatoran, pemilu curang, suap, dan korupsi. Marcos sendiri memiliki latar belakang militer yang terlibat dalam Perang Dunia II.

Informasi ini membuat tidak sulit bagi saya untuk mengambil empati kepada orang Filipina karena sebenarnya Marcos adalah versi lain dari Suharto di era Orde Baru. Marcos menjadi presiden pada 1965, setahun lebih cepat dari Suharto, namun tumbang 12 tahun lebih cepat dari Suharto dengan tuduhan yang lebih kurang mirip.

Saya tak mau lebih jauh masuk ke soal fakta dan informasi sejarah. Namun poinnya, mengapa Kuya A menyediakan, secara langsung atau tidak langsung, pembicaraan mengenai Revolusi EDSA?

Karena kami berbicara di jalan, imajinasi saya langsung bergerak membayangkan ketika revolusi itu terjadi di jalan-jalan Manila yang kami lalui sehari-hari dan kisah yang diceritakan Kuya A membuat kemacetan di ibukota negara itu semakin bisa dihayati.

Mirip dengan bagaimana sebagian orang bersikap soal Suharto, bahwa sebagian dari mereka justru ada yang secara terbuka mengatakan “isih kepenak jamanku tho?” untuk mengatakan bahwa kehidupan mereka justru lebih baik di era Orde Baru, demikianlah satu unsur yang saya dapati dalam cara Kuya A melihat Ferdinan Marcos.

Marcos was a friendly guy,” kata Kuya A.

Warga Filipina saat melakukan demonstrasi menurunkan Ferdinand Marcos yang dikenal dengan nama Revolusi EDSA di Manila pada 22-25 Februari 1986. YAHOO

Ia menyebut sebagian orang-orang di generasinya merindukan Marcos. Di era Marcos, kemacetan tidak seperti yang mereka hadapi di pengujung dekade kedua abad ke-21 dan Kuya A mengatakan orang-orang yang tinggal di jalanan tidak sebanyak yang kami saksikan saat kami melintasi jalan-jalan di kota itu.

Tetapi, tidak seperti sebagian orang yang seakan “benci” dengan reformasi di Indonesia, Kuya A tidak sepenuhnya membenci Revolusi EDSA. Justru, saya melihat ada permakluman mengapa revolusi itu terjadi dari caranya menyimpulkan demonstrasi pasca-Marcos yang menurunkan beberapa presiden berikutnya: history of resist.

Ketika saya bertanya apakah orang dewasa di Filipina, atau di Manila khususnya, punya pengetahuan terhadap sejarah politik modern di negaranya, Kuya A mengamininya.

Tetapi, ketika saya bertanya apakah generasi muda yang sebaya anak-anaknya menyadari sejarah tersebut sebagaimana orang-orang di generasinya, Kuya A menjawab seraya berkelakar: “O, mereka sibuk main ML (Mobile Legend).”[]

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

ASEAN Para Games Filipina 2020

Wabah Corona Paksa Filipina Kembali Undur ASEAN Para Games

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Amerika-Spanyol, SEA Games, dan Malamnya Manila

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Haven: Kosmopolitanisme Rumit dan Sederhana ala Manila

Image

Olahraga

ASEAN Para Games Filipina 2020

Bersaing dengan Malaysia dan Thailand, Panahan Optimistis Capai Target

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

PRSI Beri Bonus 520 Juta untuk Peraih Emas SEA Games

Image

Olahraga

SEA Games Filipina 2019

Warung Indo, Penyelamat Lidah Nusantara di Jantung Manila

Image

Olahraga

ASEAN Para Games Filipina 2020

Merasa Belum Siap, Filipina Undur Pelaksanaan ASEAN Para Games 2020

Image

Olahraga

I Gede Siman Sudartawa

Peraih Emas SEA Games Harap Pelatnas Renang Berjalan Jangka Panjang

Image

Olahraga

I Gede Siman Sudartawa

Pasca SEA Games, Siman Sudartawa Kini Fokus Olimpiade 2020

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Chelsea 0-2 Manchester United

Insiden dengan Batshuayi, Maguire Seharusnya Dapatkan Kartu Merah

Lampard kecewa dengan keputusan VAR.

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia

Sempat Telat, Timnas Indonesia Gelar Pemusatan Latihan Hari Kelima

Menurut pantauan Akurat.co, latihan dimulai pada pukul 10.30 WIB. Padahal, seharusnya latihan dimulai pukul 09.30 WIB.

Image
Olahraga
Laureus World Sports Awards 2020

Messi dan Hamilton Sabet Penghargaan Olahragawan Terbaik Dunia

Praktis, ini pertama kalinya ada dua atlet yang memangi penghargaan ini secara bersamaan.

Image
Olahraga
Borussia Dortmund vs Paris Saint-Germain

Preview: PSG Diharapkan Tampil Percaya Diri di Kandang Dortmund

Atmosfer Stadion Signal Iduna Park siap kejutkan pasukan PSG.

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia

Dengan Intensitas Tinggi, Asnawi Akui Tetap Menikmati Latihan Timnas

"Selama tiga hari, intensitas latihan lumayan tinggi. Tapi, kami para pemain menikmati latihan ini," kata Asnawi

Image
Olahraga
Atletico Madrid vs Liverpool

Preview: Pemain Liverpool Diminta Waspadai Agresivitas Atletico

Meski begitu, Klopp mengaku tak gentar untuk hadapi Atletico.

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia

Bayu Pradana Ungkap Kriteria Pemain Pilihan Shin Tae-yong

Shin Tae-yong tidak pernah melihat pemain berdasarkan usianya.

Image
Olahraga
AC Milan 1-0 Torino

Kalahkan Torino, Milan Mulai Temukan Identitas Permainan

Dengan hasil ini, maka Milan melewati sembilan pertandingan tanpa terkalahkan saat bertanding di kandang sendiri di semua kompetisi.

Image
Olahraga
Piala Davis 2020

Hadapi Rumania, Tim Tenis China Mundur Karena Wabah Virus Corona

Federasi Tenis China mengirimkan pemberitahuan bahwa mereka tidak dapat datang ke Rumania.

Image
Olahraga

5 Cara Promosi Bali United yang Kece dan Asyik, dari Pose Cantik sampai Pantun Jenaka

Kreatif abis

terpopuler

  1. Kisah Musa Samiri, Pencipta Patung Anak Sapi yang Membuat Kaum Bani Israil Sesat

  2. Kisah Inspiratif Suciati Saliman, Berawal dari Jualan Ayam Kampung hingga Sukses Membangun Masjid Menyerupai Nabawi

  3. Geng Motor Beraksi di Cempaka Putih, Pedagang Pecel Lele Tewas dengan Luka Tusukan

  4. Jasa Marga Dinilai Melanggar UU, Lantaran Banyak Jalan Tol Berlubang

  5. Jadi Sorotan, 6 Artis Bollywood Ini Disebut Berpenampilan Terbaik di Filmfare Awards 2020

  6. Khawatir Terinfeksi Virus Corona, Warga India Hingga Arab Saudi Nekat Lakukan Bunuh Diri

  7. Tengah Hamil Muda, Ini 10 Potret Baby Bump Vanessa Angel yang Memesona

  8. Paska Penolakan Pemulangan Mantan ISIS

  9. Kisah Ketika Mbah Maimoen Zubair Rembang dapat Melipat Waktu

  10. Washington jadi Kota Pertama yang Legalkan Pengomposan Manusia

fokus

Hutan Kecil Terarium
Target SDGs
Catatan 100 hari Jokowi-Ma'ruf Amin

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Menanti Kebangkitan PPP

Image
Achmad Fachrudin

Paska Penolakan Pemulangan Mantan ISIS

Image
Hasan Aoni

PETIR

Image
Ujang Komarudin

Formula E yang Jadi Rame

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Bintangi Get Married Series, Prilly Latuconsina Ragu Tak Bisa Seperti Nirina Zubir

Image
Gaya Hidup

Literasi

Rakerpus Perpusnas: Penguatan Indeks Literasi untuk SDM Indonesia Unggul

Image
Video

VIDEO Jejak Sepotong Roti Jakarta

Sosok

Image
News

Angkat BTP Jadi Bos Pertamina hingga Pecat Dirut Garuda, 5 Kinerja Erick Thohir Ini Sukses Curi Perhatian

Image
News

Korea Hingga Kanada, 10 Potret Hangat Sekretaris Kabinet Pramono Anung Jamu Dubes dari Negara Sahabat

Image
News

10 Potret Putri Ketum PAN Zita Anjani dan Suami, Romantis di Berbagai Kesempatan