image
Login / Sign Up

Feature Jalan Berliku The Daddies Kembali ke Puncak Dunia

Cosmas Kopong Beda

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

Image

Pasangan ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, saat merayakan keberhasilan mereka menjuarai Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019 di Basel, Swiss, Agustus silam. | REUTERS/Vincent Kessler

AKURAT.CO, Keluarga boleh tak percaya, tetapi gelar dari Kejuaraan Dunia Bulutangkis Swiss 2019 memberi bukti bahwa di usia yang sudah tidak muda, mereka masih bisa bersaing dengan ganda putra lainnya yang lebih gesit. Hasil itu bukan semata-mata faktor keberuntungan, melainkan buah dari pengalaman bermain bersama selama bertahun-tahun, kerja keras, dan tentu saja konsistensi.

Setelah kalah dari Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon di dua final berbeda, masing-masing di Indonesia Terbuka 2019 dan Jepang Terbuka 2019, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan datang ke Kejuaraan Dunia di basel, Swiss, bukan sebagai favorit. Ganda putra Indonesia yang berjuluk The Daddies itu, hadir sebagai unggulan keempat meski mereka menghuni peringkat kedua dunia saat itu.

Dari hasil undian, perjalanan di Kejuaraan Dunia terlihat tidak akan mulus. Menempati setengah undian teratas, Hendra/Ahsan membuka kans bertemu kembali dengan Kevin/Marcus di semifinal. Jika skenario seperti itu terjadi, hasil seperti di Indonesia Terbuka dan Jepang Terbuka bisa saja kembali didapat Daddies. Akan tetapi, cerita berbeda terjadi dalam perjuangan mereka kali ini. Kevin/Marcus yang menjadi satu-satu harapan Indonesia membawa pulang medali emas justru tersingkir lebih awal dari pasangan Korea Selatan, Choi Solgyu/Seo Seung Jae, di pertandingan pertama mereka.

baca juga:

Tersingkirnya Kevin/Marcus atau yang akrab dikenal Minions itu, lantas tak membuat perjalanan Hendra/Ahsan bisa lebih mulus. Mendapat undian kosong di babak pertama, Hendra/Ahsan perlahan-lahan menapaki babak demi babak untuk mencapai semifinal. Di babak tersebut, mereka diuji oleh kompatriot mereka sekaligus kompanyon di Pelatnas PBSI, yakni unggulan ketujuh Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Pertarungan sengit tiga set tersaji di sini sebelum Hendra/Ahsan melangkah ke babak final dan mengalahkan pasangan Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi.

“Mungkin lebih berat jika kami bertemu Kevin/Marcus di semifinal. Namun, ini Kejuaraan Dunia jadi apa pun bisa terjadi. Paling tidak kami coba maksimal saja seandainya kemarin bertemu,” ujar Hendra.

Hendra Setiawan di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, 9 September lalu. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Sebagai pasangan  veteran di bulutangkis Indonesia, nama Hendra/Ahsan jelas tidak asing. Pasangan yang sama pernah mengecap prestasi di Kejuaraan Dunia pada tahun 2013 dan 2015 sebelum mereka menempuh jalan berbeda dengan pasangan lain di akhir tahun 2016. Meski demikian perpisahan itu tak berlangsung lama. Di tahun 2018, mereka kembali dipersatukan untuk persiapan Piala Thomas. Mereka ditunjuk untuk melapisi ganda nomor satu dunia, Kevin/Marcus.

Pasangan Hendra/Ahsan lahir dari polesan tangan dingin pelatih Herry Imam Peirngadi di ujung tahun 2012. Sebelum diracik Herry, Hendra berpasangan dengan Markis Kido. Pasangan itu sukses membawa pulang medali emas dari Olimpiade Beijing pada tahun 2008 . Namun, Hendra yang sempat memutuskan berkarier di luar Pelatnas pada 2010 dan kemudian berpisah dengan Kido usai menjuarai Singapura Terbuka 2012, ditarik kembali ke Pelatnas Cipayung untuk dipasangkan dengan Ahsan yang kariernya sedikit mandeg saat berpasangan dengan Bona Septano.

Tak lama setelah dipasangkan, hasil dari Hendra/Ahsan langsung terlihat. Mereka menjadi pasangan tangguh dan langsung meraih titel juara di Kejuaraan Dunia 2013 di Guangzhou, China.

Di tahun berikutnya, duo anyar ini kembali naik podium di kejuaraan bergengsi All England sekaligus menandai penantian panjang Indonesia selama sebelas tahun sejak Candra Wijaya/Sigit Budiarto menjadi juara di ajang itu pada tahun 2003. Prestasi manis pun terus ditorehkan Hendra/Ahsan di tahun 2015 dengan kembali menjadi kampiun di Kejuaraan Dunia untuk kedua kalinya.

Kejayaan Hendra/Ahsan baru mulai redup di tahun 2016 setelah hanya meraih satu-satunya gelar dari Thailand Master sepanjang tahun tersebut. Oleh karena statistik yang tidak sekemilau di tahun-tahun sebelumnya, mereka akhirnya memutuskan berpisah di ujung 2016 dan baru kembali ditandemkan oleh Herry kurang lebih satu lebih setelahnya. Ketika itu ajang India Terbuka 2018 menandai kembalinya Daddies. Meski pernah merasakan manisnya Kejuaraan Dunia, dipadukan kembali tak langsung memberi optimisme di kepala Hendra. Jika menengok usia, target muluk tak langsung dipasangnya.

“Sebenarnya ekspektasi saya enggak sebesar ini. Maksud saya, dulu pas dipasangkan kembali, target saya masuk top delapan. Jadi masih bisa bersaing. Enggak menyangka bisa juara dunia lagi,” kata pebulutangkis kelahiran Pemalang, Jawa Tengah itu.

Hendra/Ahsan di Indonesia Terbuka 2019, Juli silam. AKURAT.CO/Sopian.

Setelah kekalahan di babak ketiga Olimpiade Rio 2016, Hendra/Ahsan tercatat hanya kembali bermain di dua kejuaraan berikutnya masing-masing di Jepang Terbuka dan dan Korea Terbuka sebelum resmi berpisah saat Denmark Terbuka tahun itu. Di ajang itu, Hendra turun bersama pasangan barunya Rian Agung Saputro, tetapi jalan pasangan ini hanya sampai di babak kedua. Hendra/Rian kemudian kembali turun di Prancis Terbuka di tahun yang sama, tetapi grafik mereka malah menurun dengan kekalahan di babak pertama.

Hasil tak signifikan membuat Hendra dan Rian langsung berpisah usai dari Prancis. Masih di tahun yang sama, Hendra kemudian dipertemukan dengan Berry Angriawan untuk berlaga di Cina Terbuka. Alih-alih bisa lebih baik, Hendra/Berry langsung kandas di babak pertama di ajang itu. Pasangan yang sama kemudian menjajal kemujuran di Hong Kong Terbuka, tetapi mereka belum dinaungi dewi fortuna sehingga kembali angkat koper di babak pertama.

“Setelah Olimpiade 2016 kami pisah. Hasilnya enggak sebagus sekarang, tetapi paling tidak saya bisa mendapat pengalaman. Bermain dengan partner yang ini seperti apa dan dengan partner yang itu bagaimana,” ujar Hendra.

Keberhasilan Hendra/Ahsan kembali berjaya di panggung Kejuaraan Dunia setelah sempat berpisah tentu saja tak lepas dari peran Herry IP. Pelatih yang saat ini berusia 57 tahun tersebut terkenal dengan karya-karyanya mencetak para jawara. Tradisi juara itu mulai ditanamkan Herry sejak mengantar Candra Wijaya/Tony Gunawan meraih medali emas di Olimpiade Sydney pada tahun 2000 lalu.

Proses mencetak ganda putra yang bisa punya prestasi tidak disulap Herry dalam hitungan detik. Pelatih yang mendapat julukan Naga Api itu tidak punya rekam jejak sebagai pemain hebat, tetapi dari kejeliannya, sukses melahirkan beberapa ganda yang sangat disegani di dunia bulutangkis. Sebagaimana kutipan terkenal di film Ratatouille bahwa tidak semua orang bisa menjadi seniman hebat, tetapi seniman hebat bisa datang dari mana saja, demikian juga dengan seorang pelatih bulutangkis. Tidak semua orang bisa menjadi pelatih hebat, tetapi pelatih hebat bisa datang dari mana saja.

Herry Iman Pierngadi. PBSI.

Selain menelurkan ganda-ganda terbaik, Herry merupakan segelintir pelatih yang berhasil membawa anak-anak asuh mereka meraih medali emas di Olimpiade. Herry dalam buku karya Justian Suhandinata bertajuk “Tangkas: 67 Tahun Berkomitmen Mencetak Jawara Bulutangkis”, mengatakan untuk membawa Candra/Tony meraih medali emas di Olimpiade, persiapan yang dilakukan setidaknya selama tiga tahun. Dari pemain muda yang belum disegani, Candra/Tony dipoles menjadi atlet yang mengharumkan nama Indonesia di ajang paling bergengsi di dunia tersebut.

“Kebetulan saya dan Ahsan sudah sempat partner juga sejak 2012 dan setelah itu kurang lebih satu tahun saja pisah. Jadi secara komunikasi tidak ada masalah. Kami juga sudah cocok bermain sehingga mungkin itu menjadi pertimbangan pelatih,” kata Hendra.

Persiapan ke Olimpiade Tokyo 2020

Setelah dua gelar besar tahun ini masing-masing dari All England dan Kejuaraan Dunia, target selanjutnya yang dibidik Hendra/Ahsan adalah Olimpiade Tokyo 2020. Namun, untuk bisa ke sana mereka harus konsisten dengan penampilan saat ini sehingga tidak tereliminasi karena tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Federasi Bulutangkis Dunia (BWF).

Dalam regulasinya, BWF membolehkan setiap nomor mengirimkan dua wakil terbaik di delapan besar dari satu negara. Sementara itu, proses kualifikasi sudah mulai sejak Selandia Baru Terbuka pada Mei lalu dan akan berakhir pada Kejuaraan Bulutangkis Asia pada April tahun depan. Oleh karena itu, keinginan Hendra/Ahsan ke Olimpiade bisa saja kandas andai mereka tak mempertahankan performa terbaik untuk turnamen tersisa yang masuk hitungan kualifikasi.

Walau masih nangkring di posisi kedua dunia saat ini, posisi Hendra/Ahsan belum sepenuhnya aman untuk lolos ke Olimpiade. Daddies masih harus bersaing dengan dua ganda Indonesia lainnya, yakni dari Kevin/Marcus dan Fajar/Rian. Dengan demikian, untuk merebut dua tiket yang dijatahkan maka tiga pasangan yang saat ini masih berada di delapan besar itu masih punya peluang bersaing secara sehat untuk berkompetisi di Tokyo tahun depan.

“Kalau target, tahun depan ada olimpiade. Jadi kami maunya lolos kualifikasi. Kualifikasi akan dihitung sampai April. Semoga kami bisa lolos ke olimpiade,” ujar Hendra.

Ganda putra menjadi satu-satunya nomor yang bisa diandalkan Indonesia untuk mempertahankan tradisi medali emas olimpiade. Peluang-peluang dari nomor lain yang paling potensial tentu saja dari tunggal putra. Di nomor itu, Indonesia bisa mengandalkan Jonatan Christie yang berada di peringkat enam dunia dan Anthony Sinisuka Ginting yang berada di posisi kesembilan saat ini. Namun, performa yang kurang stabil membuat sektor ini sulit diprediksi sepak terjangnya di Olimpiade Tokyo nanti.

Di ganda putri, harapan membawa pulang medali emas dari Olimpiade tetap ada. Akan tetapi, pasangan terkuat saat ini, yakni Greysia Polii/Apriyani Rahayu, kerap kesulitan menghadapi kekuatan ganda putri Jepang. Semifinalis Kejuaraan Dunia 2019 itu kadang bisa mematahkan pasangan Jepang, tetapi faktor nonteknis kerap menjadi kendala yang sangat serius. Dalam pertandingan reli-reli panjang, mereka kerap tak bisa tahan. Kekalahan terbaru yang dirasakan Greysia/Apriyani tentu saja dari ganda Jepang Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara di semifinal Kejuaraan Dunia baru-baru ini lewat laga dua set.

Sejak Olimpiade 1992 di Barcelona (untuk pertama kalinya bulutangkis masuk cabang olahraga yang dilombakan di Olimpiade), total Indonesia sudah mengamankan tujuh medali emas dari cabang bulutangkis. Tradisi emas olimpiade dimulai dari Susy Susanti dan Alan Budikusuma di Barcelona.

Estafet medali emas itu kemudian berlanjut ke Ricky Achmad Soebagja/Rexy Mainaky di Atalanta 1996. Medali emas dilanjutkan oleh Candra/Tony di Sydney pada tahun 2000. Taufik Hidayat meneruskan emas olimpiade di tahun 2004 yang dihelat di Athena. Kemudian, Hendra Setiawan/Markis Kido di Beijing, dan terakhir datang dari ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Rio de Janeiro tahun 2016.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti, mengharapkan Indonesia seharusnya bisa berbicara lebih banyak di Olimpiade tahun depan nanti. Selain ganda putra, tunggal putra, dan ganda putri, Susy tak menutup mata dengan atlet tunggal putri Gregoria Mariska Tunjung. Hanya saja jika dilihat dari pengalaman dan kematangan, Gregoria masih harus bekerja keras untuk bisa memberi yang terbaik bagi Indonesia di Olimpiade nanti.

“Kami berharap lebih dan tidak hanya mengandalkan ganda putra. Namun, saat ini memang kami juga harus mengakui kekuatan kita dan peluang kita memang ganda putra bisa selalu memberikan yang terbaik untuk prestasi Indonesia. Saya berharap di beberapa turnamen mendatang sektor lain juga bisa berbicara,” ujar Susy.

Panutan dan Representasi Keberagaman

Perjalanan Hendra Setiawan di dunia bulutangkis dimulai sejak masa kecilnya di kota kelahirannya di Pemalang, Jawah Tengah. Hendra mengenal raket dan kok di usia tujuh tahun dari sang ayah, Ferry Yoegianto, yang ketika itu berstatus sebagai pelatih di Pemalang. Ferry bukanlah nama besar di bulutangkis Indonesia, tetapi dia pernah melatih di PB Djarum walaupun tidak lama.

Sebelum masuk ke klub PB Jaya Raya, Hendra sempat bergabung dengan Sinar Mutiara di Tegal. Namun, di usia 13 tahun saat duduk di bangku sekolah menengah, ia pindah ke Jakarta dan bergabung dengan PB Jaya Raya. Kurang lebih lima tahun dibina Jaya Raya, Hendra kemudian pindah ke Pelatnas. Di Pelatnas inilah karier Hendra mulai menanjak perlahan-lahan sampai saat ini ia duduk di jajaran pemain dengan status legenda. Ia merasakan hampir semua gelar bergengsi mulai dari Olimpiade, Kejuaraan Dunia, Asian Games, All England, Indonesia Terbuka, dan puluhan gelar lainnya.

Hendra yang awalnya dipersiapkan sang ayah bermain di tunggal, menemukan nasibnya di nomor ganda putra saat masuk ke Pelatnas. Di tahun 2005, ia dipasangkan dengan Kido oleh pelatih Herry IP. Walau belum meroket, pasangan baru tersebut langsung berhasil merebut Indonesia Terbuka di tahun itu dengan mengalahkan senior mereka Candra/Sigit. Setelah itu, gelar-gelar besar terus menyusul termasuk Olimpiade bersama Kido dan terakhir Kejuaraan Dunia bersama Ahsan.

Walau keluarga terdekat tak menyangka prestasi besar Kejuaraan Dunia bisa kembali dicicipi, hal berbeda justru disampaikan rekan-rekan Hendra/Ahsan yang berlatih bersama di Pelatnas Cipayung. Fajar/Rian, misalnya, tak kaget jika senior mereka itu bisa kembali ke panggung tertinggi yang jadi impian banyak pebulutangkis. Bukan semata-mata faktor keberuntungan, tetapi pengalaman yang berbicara di pentas-pentas yang bukan panggung baru bagi Daddies.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto di podium Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019. REUTERS/Vincent Kessler.

“Memang usia mereka tak muda, tetapi secara pribadi saya enggak terkejut mereka bisa juara dunia. Kami latihan biasa bareng terus sehingga tahu kualitas mereka. Intinya mereka punya pengalaman, apalagi sebelumnya mereka pernah juara. Enggak bingung kalau mereka bisa lebih baik di Olimpiade,” kata Fajar Alfian.

Persiapan awal pelatih Herry IP saat kembali menyatukan Hendra/Ahsan memang hanya sebagai pelapis Kevin/Marcus. Akan tetapi, motivasi untuk terus berjaya rupanya jadi mesin yang mendorong mereka tampil maksimal dengan potensi yang dimiliki. Di luar tujuan sebagai pelapis, Herry mengakui pasangan Hendra/Ahsan adalah duo yang cocok dijadikan panutan bagi atlet-atlet muda di Pelatnas.

Jika Hendra yang tak sukses dengan pasangan baru setelah Olimpiade 2016, catatan Ahsan dengan Rian Agung Saputro sedikit lebih baik kecuali dengan Berry Angriawan yang tak menghasilkan titel juara. Ahsan yang turun bersama Berry di Denmark Terbuka 2016, harus pulang awal di babak pertama. Setelah itu, ketika gagal di kuarter final Prancis Terbuka di tahun yang sama, pasangan itu memutuskan bercerai.

Ahsan lalu mencoba bertandem dengan Rian Agung dan menghasilkan gelar di Cina International Challenge 2017. Setelah itu, Ahsan sempat menjajal bermain dengan Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Angga Pratama, tetapi prestasi-prestasi besar tak berhasil mereka sentuh. Bongkar pasang formasi Hendra/Ahsan kemudian mencapai puncaknya di Malaysia International Challenge dan Singapura Terbuka. Mereka sukses membawa pulang dua gelar itu pada tahun 2018 lalu dan kemudian berjaya di tahun 2019.

“Awal mulanya saya masukkan mereka kembali ke Pelatnas karena mereka merupakan salah satu pasangan yang bisa menjadi panutan buat di ganda putra karena prestasi mereka cukup baik. Mereka juga pasangan yang humble dan disiplin. Mereka jadi panutan pemain-pemain muda seperti Kevin/Marcus, Fajar/Rian, dan lain-lain,” kata Herry IP.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan bersama keluarga sepulang dari Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019, Agustus lalu. AKURAT.CO/Endra Prakoso.

Di luar sebagai panutan bagi kalangan atlet bulutangkis, Hendra/Ahsan sejatinya merupakan pasangan yang menjadi representasi keberagaman di tanah air. Walau datang dari latar belakang berbeda, keduanya sama sekali tak memperlihatkan perbedaan tersebut ketika sama-sama tampil membawa nama Merah Putih. Tak ada sekat-sekat yang diperlihatkan oleh Daddies saat turun bertanding. Oleh karena itu, sebagai legenda dan punya posisi penting, mereka memiliki peran penting mengademkan berbagai gesekan karena perbedaan suku, ras, dan agama yang tampaknya cukup marak terjadi di tanah air dalam beberapa waktu terakhir.

Bersamaan dengan gelar dari Swiss, Hendra/Ahsan bisa memperlihatkan kepada Indonesia bahwa perbedaan sama sekali tidak ada. Kejuaraan Dunia atau kejuaraan apa pun tidak sekadar menjadi even olahraga semata, melainkan bisa menjadi wahana mengonsolidasikan apa yang sudah dibangun tokoh-tokoh terbaik bangsa ini. Hendra/Ahsan berhasil menunjukkan kekompakan bukan sebaliknya mempertontonkan dikotomi di tengah berbagai isu kebhinekaan yang menyulut berbagai konflik. Hadir sebagai individu dengan keyakinan dan tradisi berbeda, mereka terlihat sukses menanggalkan primodialisme dan menyatu dalam cengkeraman Bhineka Tunggal Ika.

“Ini adalah salah satu contoh riil yang baik karena Indonesia ini terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama. Ini jelas contoh yang baik yang bisa diikuti oleh masyarakat Indonesia. Walaupun kita berbeda-beda, tetapi kalau kita mau bersatu maka kita bisa menjadi terbaik di dunia lewat cabang olahraga bulutangkis ini. Perbedaan bukan jadi alasan kita berbeda,” ujar Herry.[]

 

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

Korea Terbuka 2019

Resmi, Hendra/Ahsan Putuskan Absen di Korea Terbuka

Image

Olahraga

China Terbuka 2019

Kembali Berhadapan di Final, Minions Tak Mau Remehkan The Daddies

Image

Olahraga

China Terbuka 2019

Ahsan Sebut Kakinya Bermasalah saat Lawan Li/Liu

Image

Olahraga

Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum

Hendra Sayangkan Penghentian Audisi Bulutangkis Akibat Tudingan KPAI

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

PBSI Butuh Pemain Senior untuk Optimalkan Kemampuan Pemain Muda

Image

Olahraga

Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019

Ahsan Akui Sempat Stres Jelang Laga Final

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

Ahsan: Tujuan Utama Kami adalah Olimpiade

Image

Olahraga

Hendra Setiawan

Hendra: Setelah Olimpiade, Kalau Masih Bisa Main, Ya Main

Image

Olahraga

Rudy Hartono

Rudy Hartono: Hendra 4 Kali Juara Dunia, Saya Cuma Sekali

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Jorge Lorenzo

Meski Terancam, Lorenzo Tetap Ingin Bertahan di Honda

“Tujuan dan ide saya adalah untuk tetap menyelesaikan kontrak dengan Repsol Honda,” kata Lorenzo.

Image
Olahraga
Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior 2019

Jawara Kejuaraan Dunia Bulutangkis Junior 2019 Bakal Diguyur Bonus Menggiurkan

Bonus bakal diserahkan siang nanti, Jumat (18/10).

Image
Olahraga
Denmark Terbuka 2019

Shesar: Saya Bermain Terlalu Terburu-buru

Shesar terlalu sering melakukan kesalahan sehingga menguntungkan lawan.

Image
Olahraga
Denmark Terbuka 2019

Singkirkan Wakil Malaysia, Hendra/Ahsan Maju ke Babak Ketiga

Di babak ketiga nanti, Hendra/Ahsan akan bertemu wakil Jepang, Hiroyuki/Yuta

Image
Olahraga
Manchester United vs Liverpool

De Gea dan Pogba Dipastikan Absen Saat Menjamu Liverpool

Kepastian itu diungkapkan langsung Solskjaer.

Image
Olahraga
Indonesia U-19 3-1 China U-19

Timnas U-19 Masih Terlalu Perkasa untuk China

Timnas U-19 perdayai China dengan skor akhir 3-1.

Image
Olahraga
PSSI

Komite Banding Pemilihan Tetapkan Tanggal untuk Debat Calon Ketum PSSI

Dari hasil rapat KBP dengan Komite Pemilihan PSSI di putuskan bahwa debat tersebut akan digelar pada akhir bulan nanti.

Image
Olahraga
Piala Kremlin 2019

Singkirkan Kanepi, Bertens Melenggang ke Putaran Ketiga

Bertens menyudahi pertandingan usai menang dengan skor 4-6, 6-3, 7-5.

Image
Olahraga
Indonesia U-19 3-0 China U-19

Babak I: Timnas U-19 Lesatkan Tiga Gol Tanpa Balas ke Gawang China

Ketiga gol tersebut dicetak oleh Bagus, Fajar, dan Alfeandra

Image
Olahraga
PSM Makassar 6-2 Arema

Gagal Meniru Permainan Barcelona Jadi Alasan Arema Kalah Telak

"Kami berusaha ingin bermain seperti Barcelona dengan memainkan dribbling yang bagus tapi malam ini hasilnya tidak seperti itu."

trending topics

terpopuler

  1. Polling Haikal Hassan '2 Tahun Anies Memimpin', 96 Persen Jakarta Lebih Baik

  2. Sertifikasi Halal Bukan di MUI, Permadi Arya: Pantesan Ayah Naen Nyinyir, Ga Ada Sabetan Amplop

  3. Said Didu Sarankan Semua ASN, TNI, Polri dan Pegawai BUMN Ditugaskan Jadi Buzzer Pemerintah

  4. Akan Ada Menteri Usia di Bawah 30 Tahun? Mpu Jaya Prema: Gibran atau Kaesang, Nggak Mungkin Jan Ethes

  5. Kok Bisa Rekaman CCTV Pengrusakan Buku Merah KPK Beredar? Apa Tujuannya?

  6. Vicky Nitinegoro Bebas, Billy Syahputra: Alhamdulilah Tak Bersalah

  7. Tunjukkan Dukungan, Andra Ramadhan Datangi Kediaman Ari Lasso

  8. Tak Dilibatkan dalam Penyusunan Kabinet Jokowi, PDIP: KPK Tak Perlu Kepo

  9. Dua Kali Gagal Punya Anak, Gilang Dirga Berhenti Jalani Program Bayi Tabung

  10. Anies Klaim Sudah Sebulan Lakukan Persiapan Pendukung Pelantikan Presiden

fokus

Menyambut Presiden-Wakil Presiden 2019-2024
Masa Lansia
Kisah dari Cilincing

kolom

Image
Ujang Komarudin

Rontoknya Kekuatan Oposisi

Image
Achmad Fachrudin

Memperbaiki Marwah DPD 2019-2024

Image
Abdul Aziz SR

Partai Politik Tuna Ideologi

Image
Dr. Moh. Saleh

Perpu KPK Berpotensi Inkonstitusional

Wawancara

Image
News

DPR RI

Apa Sih Kaukus Pemuda Parlemen Indonesia? Farah Puteri Nahlia Akan Menjelaskannya untuk Kamu...

Image
News

DPR RI

Farah Puteri Nahlia, Politisi Termuda DPR RI yang Ingin Perjuangkan RUU KKS

Image
Hiburan

Anggy Umbara Bicara Perkembangan CGI di Perfilman Indonesia

Sosok

Image
Ekonomi

Pernah Hampir Dibuang Ayahnya, ini 10 Fakta Menarik Orang Terkaya Dunia Jeff Bezos

Image
News

5 Capaian Menlu Retno Marsudi, Pulangkan 1.000 WNI di Yaman hingga Pimpin Sidang DK PBB

Image
News

Masa Bakti Segera Habis, 5 Fakta Sepak Terjang Susi Pudjiastuti