image
Login / Sign Up
Image

HERVIN SAPUTRA

Penulis adalah redaktur kanal olahraga Indonesia.

Sepakbola Kita Hari Ini

Hervin Saputra

Indonesia 2-3 Malaysia

Image

Suporter timnas Indonesia ricuh usai tim Garuda kalah melawan Mayalsia pada laga pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G Zona Asia di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Kamis (5/9/2019). Indonesia kalah lawan Malaysia dengan skor 2-3. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa masuk ke Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada laga pertama kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 antara Tim Nasional Indonesia dan Malaysia pada Kamis (5/9) malam. Namun, saya bertahan di luar pagar ring road hingga sekitar menit ke-50 ketika segerombolan penonton yang berada di luar berlarian masuk ke dalam melalui pintu tiket.

Saya masih bertahan di luar ketika sorak-sorai penonton di stadion sepertinya agak mereda. Sekitar menit ke-60, pintu tiket hanya dijaga oleh seorang tentara yang membiarkan siapapun yang ingin masuk ke stadion. Dan saya pun ikut masuk.

Dalam bahasa suporter, proses masuk ke stadion tanpa tiket seperti itu disebut dengan “jebolan”.

baca juga:

Mengapa pertandingan sekelas event FIFA ternyata membiarkan penonton jebolan masuk ke stadion?

Jawaban sederhananya adalah masih terlalu banyak bangku kosong di dalam stadion sementara jika menghitung perkiraan suporter yang berserakan di luar ring road masih cukup tertampung di tribun. Secara komersial, untuk sekelas pertandingan tim nasional di GBK, laga tersebut tidak sukses.

Itu bisa terlihat dari pintu mana yang dibuka oleh panitia penyelenggara. Saya mendengar pemberitahuan melalui pengeras suara untuk bergerak ke pintu timur karena di sana ada layar besar bagi penonton yang tak punya tiket tetapi tetap ingin menonton pertandingan.

Saya bergerak ke pintu timur namun ternyata tidak ada layar besar. Dan di pintu timur itulah saya masuk ke stadion sebagai penonton “jebolan”.

Suporter Timnas Indonesia saat mengantre sebelum laga Indonesia versus Malaysia di Stadion GBK, 5 September silam. AKURAT.CO/Ulfa Gusti Utami.

Menaiki tangga stadion dan memasuki lorong menuju tribun dengan sensasi yang familiar tetapi tetap luar biasa, GBK tetaplah GBK. Sampai beberapa menit saya menyaksikan laga di mana Garuda sedang berada dalam tekanan Harimau Malaya dengan keunggulan 2-1, saya menyaksikan kerumunan berjumlah sekitar 500 suporter Malaysia di tribun yang tak jauh dari tribun media.   

Secara penempatan, suporter Malaysia berada di tribun yang boleh dikatakan relatif aman karena tribun media berada di dekat royal box dan kawasan itu adalah kawasan steril karena para para aktor utama dalam laga tersebut, yakni pemain, staf kepelatihan, dan wasit, berada di kawasan itu. Selain itu, suporter Malaysia berada di tribun yang relatif kosong sehingga ada jarak dengan kerumunan yang berada di curva selatan.

Dan kemudian, ketika gol kedua penyama kedudukan Malaysia yang dicetak oleh Syafiq Ahmad melalui skema sepak pojok di menit ke-66 terjadi diawali kesalahan pemain Indonesia, suasana berubah.

Beberapa suporter, mungkin jumlahnya tak lebih dari belasan, memanjat pagar pembatas dan berlari ke arah suporter Malaysia. Dan jika Anda punya kesempatan untuk melihat kembali video peristiwa tersebut, maka sangat terlihat bahwa petugas sekuritas tidak sigap untuk menghentikan mereka.

Tapi mari lihat apa yang saya dengar ketika saya berada di luar seraya menantikan keajaiban untuk bisa masuk ke dalam stadion. Saya tidak tuli untuk tidak bisa mendengar bahwa apa yang dinyanyikan oleh suporter Indonesia adalah yel yang berbunyi “Malaysia itu A****g!

Sejak saat itu, saya punya firasat yang tidak baik tentang pertandingan. Dan menurut saya, perasaan seperti itu bukanlah hal yang baru sebab perilaku suporter yang demikian telah terjadi berulang-ulang. Dan hampir selalu terjadi ketika melawan negeri serumpun Malaysia.

Di dalam stadion, dengan pengetahuan tentang babak pertama hanya melalui akun twitter PSSI di mana saya bisa melihat cuplikan gol berkelas yang dicetak Alberto “Beto” Goncalves di menit ke-12, saya melihat permainan Indonesia yang buruk.

Dalam keadaan sulit itu, Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy tak banyak bergerak dari bench, berbeda dengan koleganya, Tan Cheng Hoe, yang tampak lebih sibuk. Walau pada akhirnya McMenemy maju juga ke tepi lapangan dalam kondisi skor 2-2. Dan pemain naturalisasi Malaysia asal Gambia, Mahamadou Sumareh, menentukan hasil akhir dengan kemenangan 3-2 untuk timnya.

Pelatih Tm Nasional Indonesia Simon McMenemy saat mendampingi timnya kontra Malaysia di GBK, 5 September silam. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Selepas laga, karena satu dan lain hal, saya punya akses untuk masuk ke mixed zone. Tak banyak wartawan yang berada di sana karena fokus lebih tertuju pada huru-hara di luar stadion serta konferensi pers. Beberapa adalah wartawan Malaysia.

Kapten Timnas, Andrithany Ardhiyasa, berjalan lebih dulu tanpa menjawab respons jurnalis. Beberapa yang saya ingat yang dipanggil oleh wartawan adalah Andik Vermansah. Andik hanya melambai saja sambil berjalan bersama tim.  McMenemy bahkan tak menoleh.

Dari sudut pandang yang berbeda, peristiwa berada di mixed zone adalah sesuatu yang tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang sekadar berjalan “melewati” bagi Timnas Indonesia dengan hasil laga seperti itu. Disertai suasana laga sebagaimana yang telah terjadi sementara itu adalah debut kualifikasi pertama sejak dikalahkan Bahrain 0-10 untuk Piala Dunia Brasil 2014 pada Februari 2012.

Kekalahan atas Malaysia, bagi saya, bukan persoalan kalah-menang di lapangan, tetapi lebih kepada betapa sulitnya membangun sepakbola Indonesia, meski kita sebenarnya telah mengalami peristiwa yang sama berulang-ulang.

Tapi mari kita sederhanakan lagi persoalan. Mengapa suporter bisa seperti itu?

Suatu kali saya pernah berbicara dengan seorang kawan dari Malaysia, ketika perbincangan memasuki konflik sentimen Indonesia-Malaysia, saya, sebagai warga Indonesia, mengatakan bahwa “sebelum 1998 sentimen seperti itu tidak ada.”

Selepas 1998, diiringi dengan persebaran informasi yang semakin terbuka, muncul sejumlah perdebatan tentang TKI, klaim produk kebudayaan, dan soal bendera. Sebelum 1998, saya tidak merasakan perasaan demikian karena, barangkali, sepakbola belumlah menjadi persoalan yang harus dipersoalkan.

Dengan dasar pemikiran ini, saya beranggapan bahwa konflik sentimen Indonesia dan Malaysia ini bukanlah sesuatu yang “berurat-akar” karena ia dimunculkan oleh propaganda politik di media massa.

Namun demikian, tidak semua, atau belum semua suporter akan melihat sepakbola dengan cara seperti itu. Sepakbola, bagi suporter yang ada di GBK pada Kamis malam lalu adalah suporter yang datang hanya karena mereka ingin “menonton” sepakbola sebagai sebuah permainan.

Dan seharusnya, jika mereka datang hanya untuk permainan, seharusnya kerusuhan tidak perlu ada. Menang selebrasi, kalah jangan putus asa.

Di sinilah letak persoalannya, ekspresi suporter di GBK tersebut tidak bisa tidak adalah bentuk keputusasaan. Insiden turun ke stadion terjadi tak lama setelah skor menjadi 2-2 dan laga dihentikan nyaris sepuluh menit. Bau kekalahan seperti biasa sudah tercium dan akhirnya mimpi buruk itu menjadi kenyataan di akhir laga.

Beto Goncalves. AKURAT.CO/Taufik Hidayat

Baik, mari kembali ke permainan.

Di mixed zone, satu-satunya pemain yang mau menjawab wawancara wartawan adalah Beto. Beto, Alberto Goncalves, 38 tahun, lahir di Pelem, Brasil, 31 Desember 1980, telah bermain di sepakbola Indonesia selama satu dekade, dan kini menjadi warga negara Indonesia.

Malam itu, Beto bersedia menjadi juru bicara untuk tim nasional negara dengan 260 juta penduduk yang bukan negara asalnya. Dan pernyataannya soal suporter bergerak direct kepada para perusuh.

Ya, susah buat saya bicara itu. Karena saya tak tahu (apa yang terjadi) dengan suporter. Tapi itu tidak boleh terjadi, karena kita sama-sama manusia. Kita cuma beda negara. Kita harus respek terhadap mereka. Nanti jika kita main di sana? Kemudian mereka melakukan yang sama seperti sekarang bagaimana? Jadi saya sedih melihat itu. Jadi saya harap ke depan kita ubah mental. Kita harus dukung tim, jangan bikin masalah dengan suporter lain,” kata Beto.

Tidak sulit juga mengetahui mengapa Beto maju ke hadapan wartawan pada saat itu. Karena dia adalah pencetak dua gol yang membuat Indonesia dua kali unggul dengan proses yang berkelas.

Standar Keamanan

Namun demikian, saya sama sekali tak terlalu tegang dalam kerusuhan di GBK malam itu. Tidak juga beberapa rekan wartawan yang lain. Dari raut wajah mereka, mereka hanya kecewa kepada suporter. Kalah menang dalam pertandingan sudah tidak lagi menjadi soal.

Selain itu, di dalam stadion, ketika sekelompok perusuh berlari ke arah tribun suporter Malaysia, saya mendengar nyanyian yang saya juga tidak tuli untuk tak mendengarnya. Dari curva utara, suporter menyanyikan yel-yel “kampungan, kampungan.”

Dan saya juga tidak terlalu kuper untuk tidak tahu bahwa chant kampungan itu ditujukan untuk suporter perusuh dari curva selatan meski ada juga sedikit dari curva utara yang turun ke lapangan. Perusuh kampungan!

Namun, para perusuh suporter tersebut tidak menyasar kepada pemain yang berada di lapangan, tetapi kepada suporter lain, yakni suporter Malaysia. Dan saya melihat ke arah suporter lain yang berada di sekitar saya, mereka juga menunjukkan ekspresi tak tertarik. Dengan kata lain, para perusuh tidak sepenuhnya diterima di stadion.

Tetapi soalnya adalah kita berada di dalam kerumunan. Dan Indonesia punya sejarah panjang, untuk alasan yang baik dan buruk, dengan kerumunan.

Di Indonesia, terutama jika Anda berada di Jakarta, kerumunan adalah sesuatu yang umum. Demonstrasi, kampanye politik, konser musik, dan tentu saja pertandingan sepakbola.

Lebih jauh lagi, kerumunan bahkan bisa seperti lebih dari seratus ribu orang saat menghadiri pidato Soekarno di Lapangan Ikada (sekarang sebagian  dari Monas) di Jakarta pada 19 September 1945.

Itulah saat di mana Soekarno berpidato untuk memperingati satu bulan Kemerdekaan Indonesia sebagai momen di mana pemerintah Indonesia yang baru saja merdeka, bertemu langsung secara fisik dengan rakyatnya. Dan Lapangan Ikada, sebagaimana juga GBK, adalah arena olahraga singkatan Ikatan Atletik Djakarta dengan sebuah lapangan sepakbola di tengahnya.

Namun, pengalaman tak mengenakkan tentang kerumunan ini juga tidak sedikit. Konser Deep Purple di GBK pada 1975 , Metallica di Stadion Lebak Bulus pada 1994, dan Kantata Takwa di Lapangan Parkir Senayan pada 2003 juga diwarnai dengan kerusuhan. Belum lagi demonstrasi pada 1998 juga demonstrasi pada 1966. Semua terjadi di Jakarta.

Dan dalam kondisi Indonesia kontemporer, sejarah itu telah membuat kita terlalu gampang melihat kerumunan. Hampir setiap hari ada demonstrasi di Jakarta dan sangat sedikit dari demonstrasi itu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan konsekuensi moralnya.

Saya berusaha merefleksikannya usai laga sebelum bergerak ke mixed zone ketika saya berdiri di depan sebuah waralaba tak jauh dari lobby utama stadion. Di depannya saya melihat para suporter duduk bercengkerama sambil melihat keadaan tanpa kecemasan.

Suporter Tim Nasional Malaysia di Stadion GBK, Kamis (5/9). ANTARA/M Risyal Hidayat.

Hampir sebagian besar yang berada di sana mendekati titik kerusuhan hanya untuk melihat kejadian dari dekat – tipikal warga Indonesia yang punya kecenderungan terseret untuk melihat sebuah insiden yang “mengejutkan dan menegangkan”.

Dalam situasi itu, saya hanya melihat generasi masa depan. Karena sebagian besar dari suporter tersebut adalah apa yang disebut oleh tren sebagai “milenial.” Dan karena intuisi, saya sama sekali tak cemas berada sekitar 50 meter dari lokasi tersebut.

Saya berusaha mendekati suporter yang rusuh tersebut untuk melihat mereka secara individu. Ada beberapa orang berpakaian hitam-hitam, sebagian menutup wajahnya dengan penutup muka pengendara motor, mengenakan besi pemukul di cengkeramannya, dan menunjukkan kepada polisi yang berjaga di sana semacam kartu pers perekam video aktivitas mereka.

Polisi yang berjaga tanpa formasi pasti, juga seperti setengah berkerumun, dengan usia yang setara dengan para suporter itu, menanggapinya tak peduli. Dan beberapa saat sebelumnya, saya melihat seseorang yang memegang kamera diintimidasi oleh para suporter yang meminta rekaman videonya dihancurkan.

Saya bisa tahu itu karena saya berada di samping waralaba di mana mereka mengancam si pemegang kamera sementara ada beberapa orang yang berusaha melindungi si pemegang kamera tersebut.

Karena suara perusuh ini terlalu besar, saya berusaha mencari lihat bagaimana rupanya orang-orang dengan suara paling besar ini. Saya lihat sebagian  besar adalah pemuda berusia belasan, dalam bahasa slang kita menyebutnya ABG.

Saya tidak akan berbicara untuk menunjukkan bahwa dunia belia adalah melulu tentang sesuatu tindakan yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Namun, ini adalah persoalan masyarakat di mana mereka adalah bagian dari generasi belia.

Dalam kerumunan, Anda tidak bisa melarang seseorang. Satu-satunya yang bisa melarang adalah otoritas alias hukum. Dalam proses intimidasi orang yang membawa kamera tersebut, tak ada polisi yang menghalau perusuh dan orang yang mereka intimidasi.

Juga jarak lobby GBK dengan batas penjagaan polisi yang sangat dekat. Pagar keamanan terjauh berada tepat di kedua sisi pembatas lobby dan di situlah para perusuh berkerumun.

Saya pergi ke mixed zone dan keluar dari sana setelah ternyata pemain Malaysia tidak keluar lewat jalur itu. Di luar, suasana semakin sepi. Sebagian wartawan masih bertanya-tanya lewat jalur mana pemain dan suporter Malaysia keluar.

Aftermath

Hampir sebagian besar media Indonesia selalu mengkritik suporter mereka sendiri dalam kerusuhan di GBK melawan Malaysia. Namun, fenomena media sosial memberikan caranya sendiri untuk membentuk pendapat umum.

Di sejumlah Instagram suporter Tim Nasional Indonesia, mereka memuat cuplikan video beberapa saat sebelum suporter perusuh masuk ke stadion. Saya ingin mengajak Anda untuk tidak terjebak dengan kontennya, tapi dengan bagaimana cara konten tersebut disajikan.

Dari akun Lingkar Garuda, misalnya, ada video yang menunjukkan ekspresi sejumlah suporter Malaysia yang merayakan gol pada posisi 2-2. Hanya ada beberapa orang, tidak lebih dari lima orang yang menendang kursi stadion dan menunjukkan gesture menantang ke arah suporter di curva selatan.

Caption-nya:

Berawal dari sini, Malaysia cetak gol tetapi fans-nya justru berbuat anarkis untuk merayakannya, menginjak kursi dan provokatif.

Setelah editing, ada video suporter Indonesia yang menyerang tribun suporter Malaysia. Setelah dihalau petugas, mereka kembali ke tribun seperti merayakan kemenangan sebagaimana tipikal perkelahian remaja di Jakarta.

Dan caption-nya,

Dan akhirnya suporter Indonesia terpancing emosi, dan inilah yang terjadi, jangan salahkan kami. Baru kemaren panas soal Gojek dihina, Indonesia dan Jakarta dihina.”

Kita harus membicarakan hal ini karena akun-akun tersebut punya potensi untuk membentuk kejiwaan suporter muda Indonesia. Setidaknya akun Lingkar Garuda saja punya 371 ribu pengikut. Mereka menyediakan informasi tetapi dalam beberapa hal terkadang menunjukkan sisi pahit dari kenyataan suporter sebagai persoalan mental bagi Indonesia.

Melalui media sosial, suporter membentuk wacana mereka menolak dipersalahkan dalam aksi mereka di GBK dengan menunjuk bahwa suporter Malaysia yang melakukan provokasi terlebih dahulu.

Tak lama setelah itu, beredar pula sejumlah gambar yang menunjukkan perkelahian suporter Indonesia dan Malaysia dalam beberapa foto yang mereka klaim terjadi pada 2010-2012.

Caption-nya:

“Bukan mau ngungkit2 ya tapi suporter Indonesia dulu 2010 dan 2012 pernah diginiin di sana.. pantes ga kira2? PSSI kita bales dong aduin dong lindungi suporter kita..”

Jika Anda mendengar nada bicara caption-caption-nya, maka tidak sulit untuk merasakan bahwa bahasa tersebut sangat literasi “internet.” Tetapi itu sulit ditolak, yang bisa dilakukan adalah melihat bagaimana cara mereka membentuk wacana “mengapa” mereka tidak perlu dipersalahkan dan ini adalah soal “balas-membalas.”

View this post on Instagram

Memancing +62 __ ???? @jmtvreborn Follow @Lingkar.garuda Follow @Lingkar.garuda

A post shared by Sepakbola Indonesia ? (@lingkar.garuda) on

Juga, apa hubungannya penghinaan terhadap Gojek dengan Tim Nasional Indonesia?

Dan tipikal polemik di media sosial ketika warganet Indonesia memuat video di mana suporter Malaysia pernah menyanyikan yel “Indonesia itu A****g” dengan irama yang sama dengan yang dinyanyikan suporter di GBK sebagai kontra-argumentasi terhadap kritik atas perilaku yang mereka lakukan terhadap suporter Malaysia.

Dengan caption yang misalnya mengatakan “gue nggak masalah dibilang kampungan kalo negara gue dihina” atau “bukan tipikal suporter Indonesia yang cuma membalas chant dengan chant”.

Ini adalah cara berpikir suporter yang mesti diperas dari soal nasionalisme dengan membawa-bawa nama negara, seolah-olah tindakan yang mereka lakukan di GBK merupakan bentuk bela negara dari penghinaan warga asing.

Wacana seperti ini tidak bisa dibiarkan karena bagi saya mereka yang menyanyikan chant dengan menggunakan “binatang” untuk mengejek suporter lain, entah dari negara manapun, adalah orang-orang yang hanya ingin melakukan keributan dengan menggunakan dalih membela negara.

Dalam perasaan saya, mereka yang menyanyikan “Malaysia itu A****g” atau “Indonesia itu A****g” sama sekali tidak merepresentasikan negara dan sama sekali tidak nasionalis. Yang mereka lakukan hanyalah mengejek sesama suporter yang setipe dengan mereka dan memanipulasi negara untuk melarikan diri dari tindakan tak bertanggung jawab.

Suporter jenis ini masih perlu berlatih untuk mengendalikan diri dalam kerumunan karena mereka tidak berpikir panjang terhadap dampak atas kebencian dan energi berlebih yang mereka luapkan. Mereka tidak akan sampai pada bahwa aksi tersebut membuat Indonesia bisa dihukum FIFA menggelar laga tanpa penonton di mana mereka tidak bisa menonton juga PSSI rugi secara ekonomi dan yang paling menyakitkan adalah pemain berjuang tanpa dukungan di stadion.

Bagi saya ini adalah bagian paling omong-kosong dan berbahaya, selain politik dan dominasi uangnya, dalam sepakbola.

Wacana melalui media sosial seperti ini telah mengarahkan publik, yang mayoritas anak muda, untuk menganggap ada persoalan antara Malaysia dan Indonesia yang harus dipermaklumkan untuk diekspresikan dengan kerusuhan dan kekerasan.

Suporter Tim Nasional Indonesia mewarnai tubuh mereka saat mendukung timnya berlaga kontra Malaysia di Stadion GBK, Jakarta, 5 September silam. ANTARA/M Risyal Hidayat.

Tidak. Sepakbola Indonesia, atau industri sepakbola Indonesia belumlah setua Inggris atau Italia di mana sejarah kekerasan antar suporter sepakbola adalah gejala yang relatif baru alias tidak berakar.

Sekarang kembali pada Anda, akar perselisihan itu selalu didahului dengan penciptaan, atau terciptanya konflik. Seperti yang telah saya katakan, sebelum 1998 tidak ada perselisihan sebagaimana yang bisa kita rasakan saat ini dengan Malaysia.

Mengapa sesuatu itu menjadi ada dari tiada, bagi saya, itu adalah kesengajaan yang dimungkinkan dalam satu sistem periode politik. Menurut saya, kita mesti melihat lagi apa yang membuat masa-masa ketika persoalan TKI, klaim produk kebudayaan, dan insiden bendera yang bagi saya diawali oleh kepentingan politisi, muncul dan memantik kebencian yang tak perlu ini.

Bagi saya, kebencian dan kerusuhan di GBK pada malam Jumat yang gerah tersebut adalah konsekuensi yang harus kita hadapi dari kecenderungan kekuasaan yang menggunakan kebencian dan kerusuhan sebagai salah satu cara mempertahankan posisi.

Saya tidak mengatakan bahwa kerusuhan paling kontemporer ini sebagai sesuatu yang “ditunggangi”, saya percaya kita punya keinginan besar untuk berbenah, dan kita terus berusaha untuk meminimalisir campur tangan politisi dalam sepakbola.

Namun, sejarah mengatakan demikian, dan dalam sepakbola, mereka yang menjadi alat serta korban dalam budaya kerumunan itu adalah anak-anak muda.

Dan tentang pertandingan, sulit untuk tidak mengatakan bahwa dua gol yang dicetak Beto merupakan hasil dari permainan yang “naik kelas.” Tetapi, sepakbola bagi Indonesia tak cukup sampai hanya permainan di lapangan, tetapi telah menuntut perubahan sosial pada sisi suporter dan level profesionalitas standar keamanan penyelenggara.[]

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia U-16

Penyerang Timnas U-16: Kami akan Lakukan yang Terbaik

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia U-16

Timnas U-16 akan Lakukan Rotasi Saat Hadapi Mariana Utara

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia U-16

Timnas U-16 Lakukan Latihan Rutin Jelang Melawan Mariana Utara

Image

Olahraga

Indonesia U-16 vs Filipina U-16

Preview: Pasukan Bima Sakti Menjaga Ambisi Tren Positif

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia

RD: Simon McMenemy Masih Layak Latih Timnas

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia

Dikaitkan Dengan Timnas, RD: Saya Masih Bagian Tira Persikabo

Image

Olahraga

Kualifikasi Piala Asia U-16 2020

Bima Sakti Akui Sudah Siapkan Antisipasi Permainan China

Image

Olahraga

Kualifikasi Piala Asia U-16 2020

Bicara Peluang, Bima Sakti Minta Timnya Tak Remehkan Lawan

Image

Olahraga

Kualifikasi Piala Asia U-16 2020

Timnas U-16 Fokus Perbaiki Transisi Menyerang ke Bertahan

komentar

Image

1 komentar

Image
Raflypuhi 23

Tidak dewasa ya

terkini

Image
Olahraga
Manchester United vs Astana FC

Preview: MU Siap Jamu Astana Meski Tanpa Sejumlah Pemain Utama

MU harus kehilangan beberapa pemain intinya karena badai cedera.

Image
Olahraga
Persib Bandung 1-1 Semen Padang

Supardi Incar Poin Pengganti Saat Hadapi Persipura

Persib sebenarnya mengusung kemenangan di tiap laga kandang.

Image
Olahraga
PSS Sleman vs Persipura Jayapura

Pelatih PSS Waspadai Chemistry Antara Jacksen F. Thiago dan Persipura

"Jacksen yang sudah menyatu (dengan Persipura) bisa lebih dari apa yang saya bayangkan," kata Seto.

Image
Olahraga
Kualifikasi Piala Asia U-16 2020

Bima Sakti Tuntut Indonesia Raih Poin Penuh saat Melawan China

"Tidak ada kata lain, kita harus menang ketika lawan China nanti," kata Bima Sakti.

Image
Olahraga

5 Momen Pernikahan Bintang Sepak Bola Nasional, Bikin Baper Fans

Wah, seru ternyata momen bahagia pemain sepak bola Indonesia

Image
Olahraga
Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2019

Lisa Setiawati Sumbang Emas Pertama di Nomor Clean and Jerk

Pada angkatan clean and jerk Lisa mampu mengangkat beban 95kg.

Image
Olahraga
WAG's

7 Potret Manis Victoria Supit dengan Rambut Panjangnya, Fans No 1 Dallen Dolke

Setia mendukung di dalam dan di luar lapangan

Image
Olahraga
Liga Champions 2019-2020

Hasil Lengkap Liga Champions 2019-2020 18-19 September

Paris Saint-Germain, Bayern Muenchen, dan Manchester City sukses meraih kemenangan dengan skor telak dalam laga pembuka.

Image
Olahraga
Meme Bola

Bikin Madrid Loyo, 5 Meme Zidane Ini Malah Nambah Kasihan

Apakah ilmu Zidane sudah luntur?

Image
Olahraga
Meme Bola

5 Meme Kocak Di Maria yang Bikin Madridista Meringis

'Mantan' memang jahat...

Banner Mandiri

trending topics

terpopuler

  1. Burhanuddin: yang Bilang KPK Gagal Turunkan Tingkat Korupsi Itu Kufur Nikmat

  2. 5 Potret Nikita Willy Liburan ke Namibia, Bersuka Ria dengan Anak-anak Suku Himba

  3. Tak Diusung PDIP, Gerindra Nyatakan Siap Antarkan Gibran Rakabuming Maju Pilwalkot Solo

  4. Penyakit Ini Intai Kamu yang Kebiasaan Makan Berlebihan

  5. Kekayaan Pengusaha AS Ini Bertambah Rp28,2 Triliun Tiap Hari Karena Kisruh Minyak

  6. 8 Status Medsos Ngenes Fahri Skroepp, Sadboi Cilik yang Bikin Gempar

  7. Dapur Menyatu dengan Toilet! Gambaran Kesenjangan Ekonomi di Hong Kong

  8. Pernah Jadi Artis dengan Bayaran Tertinggi hingga Meninggal Penuh Misteri, Ini 5 Fakta Sridevi

  9. 10 Potret Harmonis Afdhal Yusman dan Keluarga yang Jarang Terekspos

  10. Jarang Tersorot, 10 Potret Mesra Mumuk Gomez dan Kekasih yang Bikin Gemas

fokus

Abortus
BJ Habibie Tutup Usia
Lindungi Perempuan

kolom

Image
Damai Mendrofa

Menangani Penyu, Sampai Tak Ada yang Ganggu

Image
Achmad Fachrudin

Dinamika Politik Jakarta Paska Pemindahan Ibukota

Image
Abdul Aziz SR

Perempuan dan Jabatan Publik

Image
Mujamin Jassin

Bamsoet dan Agenda Modernisasi Golkar

Wawancara

Image
Hiburan

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Jadikan JILF Sebagai Pemantik Imajinasi

Image
Ekonomi

Eksklusif Mochamad Soebakir: Sebagai 'Jembatan' Konsultan Pajak Fungsinya Vital

Image
Olahraga

Bianca Andreescu

"Memenangi AS Terbuka Sebenarnya Terasa Aneh"

Sosok

Image
Ekonomi

Mengenal Sukanto Tanoto, Sang Penguasa Lahan HTI Ibu Kota Baru

Image
News

Wilayahnya Diserbu Asap Malah ke Kanada, Ini 4 Fakta Wali Kota Pekanbaru Firdaus

Image
News

10 Pesona Muhammad Rafid, Cucu Keponakan BJ Habibie yang Geluti Sepak Bola