Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

HERVIN SAPUTRA

Penulis adalah redaktur kanal olahraga Indonesia.

Sepakbola Kita Hari Ini

Hervin Saputra

Indonesia 2-3 Malaysia

Image

Suporter timnas Indonesia ricuh usai tim Garuda kalah melawan Mayalsia pada laga pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Grup G Zona Asia di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Kamis (5/9/2019). Indonesia kalah lawan Malaysia dengan skor 2-3. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Karena satu dan lain hal, saya tidak bisa masuk ke Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, pada laga pertama kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 antara Tim Nasional Indonesia dan Malaysia pada Kamis (5/9) malam. Namun, saya bertahan di luar pagar ring road hingga sekitar menit ke-50 ketika segerombolan penonton yang berada di luar berlarian masuk ke dalam melalui pintu tiket.

Saya masih bertahan di luar ketika sorak-sorai penonton di stadion sepertinya agak mereda. Sekitar menit ke-60, pintu tiket hanya dijaga oleh seorang tentara yang membiarkan siapapun yang ingin masuk ke stadion. Dan saya pun ikut masuk.

Dalam bahasa suporter, proses masuk ke stadion tanpa tiket seperti itu disebut dengan “jebolan”.

baca juga:

Mengapa pertandingan sekelas event FIFA ternyata membiarkan penonton jebolan masuk ke stadion?

Jawaban sederhananya adalah masih terlalu banyak bangku kosong di dalam stadion sementara jika menghitung perkiraan suporter yang berserakan di luar ring road masih cukup tertampung di tribun. Secara komersial, untuk sekelas pertandingan tim nasional di GBK, laga tersebut tidak sukses.

Itu bisa terlihat dari pintu mana yang dibuka oleh panitia penyelenggara. Saya mendengar pemberitahuan melalui pengeras suara untuk bergerak ke pintu timur karena di sana ada layar besar bagi penonton yang tak punya tiket tetapi tetap ingin menonton pertandingan.

Saya bergerak ke pintu timur namun ternyata tidak ada layar besar. Dan di pintu timur itulah saya masuk ke stadion sebagai penonton “jebolan”.

Suporter Timnas Indonesia saat mengantre sebelum laga Indonesia versus Malaysia di Stadion GBK, 5 September silam. AKURAT.CO/Ulfa Gusti Utami.

Menaiki tangga stadion dan memasuki lorong menuju tribun dengan sensasi yang familiar tetapi tetap luar biasa, GBK tetaplah GBK. Sampai beberapa menit saya menyaksikan laga di mana Garuda sedang berada dalam tekanan Harimau Malaya dengan keunggulan 2-1, saya menyaksikan kerumunan berjumlah sekitar 500 suporter Malaysia di tribun yang tak jauh dari tribun media.   

Secara penempatan, suporter Malaysia berada di tribun yang boleh dikatakan relatif aman karena tribun media berada di dekat royal box dan kawasan itu adalah kawasan steril karena para para aktor utama dalam laga tersebut, yakni pemain, staf kepelatihan, dan wasit, berada di kawasan itu. Selain itu, suporter Malaysia berada di tribun yang relatif kosong sehingga ada jarak dengan kerumunan yang berada di curva selatan.

Dan kemudian, ketika gol kedua penyama kedudukan Malaysia yang dicetak oleh Syafiq Ahmad melalui skema sepak pojok di menit ke-66 terjadi diawali kesalahan pemain Indonesia, suasana berubah.

Beberapa suporter, mungkin jumlahnya tak lebih dari belasan, memanjat pagar pembatas dan berlari ke arah suporter Malaysia. Dan jika Anda punya kesempatan untuk melihat kembali video peristiwa tersebut, maka sangat terlihat bahwa petugas sekuritas tidak sigap untuk menghentikan mereka.

Tapi mari lihat apa yang saya dengar ketika saya berada di luar seraya menantikan keajaiban untuk bisa masuk ke dalam stadion. Saya tidak tuli untuk tidak bisa mendengar bahwa apa yang dinyanyikan oleh suporter Indonesia adalah yel yang berbunyi “Malaysia itu A****g!

Sejak saat itu, saya punya firasat yang tidak baik tentang pertandingan. Dan menurut saya, perasaan seperti itu bukanlah hal yang baru sebab perilaku suporter yang demikian telah terjadi berulang-ulang. Dan hampir selalu terjadi ketika melawan negeri serumpun Malaysia.

Di dalam stadion, dengan pengetahuan tentang babak pertama hanya melalui akun twitter PSSI di mana saya bisa melihat cuplikan gol berkelas yang dicetak Alberto “Beto” Goncalves di menit ke-12, saya melihat permainan Indonesia yang buruk.

Dalam keadaan sulit itu, Pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy tak banyak bergerak dari bench, berbeda dengan koleganya, Tan Cheng Hoe, yang tampak lebih sibuk. Walau pada akhirnya McMenemy maju juga ke tepi lapangan dalam kondisi skor 2-2. Dan pemain naturalisasi Malaysia asal Gambia, Mahamadou Sumareh, menentukan hasil akhir dengan kemenangan 3-2 untuk timnya.

Pelatih Tm Nasional Indonesia Simon McMenemy saat mendampingi timnya kontra Malaysia di GBK, 5 September silam. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Selepas laga, karena satu dan lain hal, saya punya akses untuk masuk ke mixed zone. Tak banyak wartawan yang berada di sana karena fokus lebih tertuju pada huru-hara di luar stadion serta konferensi pers. Beberapa adalah wartawan Malaysia.

Kapten Timnas, Andrithany Ardhiyasa, berjalan lebih dulu tanpa menjawab respons jurnalis. Beberapa yang saya ingat yang dipanggil oleh wartawan adalah Andik Vermansah. Andik hanya melambai saja sambil berjalan bersama tim.  McMenemy bahkan tak menoleh.

Dari sudut pandang yang berbeda, peristiwa berada di mixed zone adalah sesuatu yang tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang sekadar berjalan “melewati” bagi Timnas Indonesia dengan hasil laga seperti itu. Disertai suasana laga sebagaimana yang telah terjadi sementara itu adalah debut kualifikasi pertama sejak dikalahkan Bahrain 0-10 untuk Piala Dunia Brasil 2014 pada Februari 2012.

Kekalahan atas Malaysia, bagi saya, bukan persoalan kalah-menang di lapangan, tetapi lebih kepada betapa sulitnya membangun sepakbola Indonesia, meski kita sebenarnya telah mengalami peristiwa yang sama berulang-ulang.

Tapi mari kita sederhanakan lagi persoalan. Mengapa suporter bisa seperti itu?

Suatu kali saya pernah berbicara dengan seorang kawan dari Malaysia, ketika perbincangan memasuki konflik sentimen Indonesia-Malaysia, saya, sebagai warga Indonesia, mengatakan bahwa “sebelum 1998 sentimen seperti itu tidak ada.”

Selepas 1998, diiringi dengan persebaran informasi yang semakin terbuka, muncul sejumlah perdebatan tentang TKI, klaim produk kebudayaan, dan soal bendera. Sebelum 1998, saya tidak merasakan perasaan demikian karena, barangkali, sepakbola belumlah menjadi persoalan yang harus dipersoalkan.

Dengan dasar pemikiran ini, saya beranggapan bahwa konflik sentimen Indonesia dan Malaysia ini bukanlah sesuatu yang “berurat-akar” karena ia dimunculkan oleh propaganda politik di media massa.

Namun demikian, tidak semua, atau belum semua suporter akan melihat sepakbola dengan cara seperti itu. Sepakbola, bagi suporter yang ada di GBK pada Kamis malam lalu adalah suporter yang datang hanya karena mereka ingin “menonton” sepakbola sebagai sebuah permainan.

Dan seharusnya, jika mereka datang hanya untuk permainan, seharusnya kerusuhan tidak perlu ada. Menang selebrasi, kalah jangan putus asa.

Di sinilah letak persoalannya, ekspresi suporter di GBK tersebut tidak bisa tidak adalah bentuk keputusasaan. Insiden turun ke stadion terjadi tak lama setelah skor menjadi 2-2 dan laga dihentikan nyaris sepuluh menit. Bau kekalahan seperti biasa sudah tercium dan akhirnya mimpi buruk itu menjadi kenyataan di akhir laga.

Beto Goncalves. AKURAT.CO/Taufik Hidayat

Baik, mari kembali ke permainan.

Di mixed zone, satu-satunya pemain yang mau menjawab wawancara wartawan adalah Beto. Beto, Alberto Goncalves, 38 tahun, lahir di Pelem, Brasil, 31 Desember 1980, telah bermain di sepakbola Indonesia selama satu dekade, dan kini menjadi warga negara Indonesia.

Malam itu, Beto bersedia menjadi juru bicara untuk tim nasional negara dengan 260 juta penduduk yang bukan negara asalnya. Dan pernyataannya soal suporter bergerak direct kepada para perusuh.

Ya, susah buat saya bicara itu. Karena saya tak tahu (apa yang terjadi) dengan suporter. Tapi itu tidak boleh terjadi, karena kita sama-sama manusia. Kita cuma beda negara. Kita harus respek terhadap mereka. Nanti jika kita main di sana? Kemudian mereka melakukan yang sama seperti sekarang bagaimana? Jadi saya sedih melihat itu. Jadi saya harap ke depan kita ubah mental. Kita harus dukung tim, jangan bikin masalah dengan suporter lain,” kata Beto.

Tidak sulit juga mengetahui mengapa Beto maju ke hadapan wartawan pada saat itu. Karena dia adalah pencetak dua gol yang membuat Indonesia dua kali unggul dengan proses yang berkelas.

Standar Keamanan

Namun demikian, saya sama sekali tak terlalu tegang dalam kerusuhan di GBK malam itu. Tidak juga beberapa rekan wartawan yang lain. Dari raut wajah mereka, mereka hanya kecewa kepada suporter. Kalah menang dalam pertandingan sudah tidak lagi menjadi soal.

Selain itu, di dalam stadion, ketika sekelompok perusuh berlari ke arah tribun suporter Malaysia, saya mendengar nyanyian yang saya juga tidak tuli untuk tak mendengarnya. Dari curva utara, suporter menyanyikan yel-yel “kampungan, kampungan.”

Dan saya juga tidak terlalu kuper untuk tidak tahu bahwa chant kampungan itu ditujukan untuk suporter perusuh dari curva selatan meski ada juga sedikit dari curva utara yang turun ke lapangan. Perusuh kampungan!

Namun, para perusuh suporter tersebut tidak menyasar kepada pemain yang berada di lapangan, tetapi kepada suporter lain, yakni suporter Malaysia. Dan saya melihat ke arah suporter lain yang berada di sekitar saya, mereka juga menunjukkan ekspresi tak tertarik. Dengan kata lain, para perusuh tidak sepenuhnya diterima di stadion.

Tetapi soalnya adalah kita berada di dalam kerumunan. Dan Indonesia punya sejarah panjang, untuk alasan yang baik dan buruk, dengan kerumunan.

Di Indonesia, terutama jika Anda berada di Jakarta, kerumunan adalah sesuatu yang umum. Demonstrasi, kampanye politik, konser musik, dan tentu saja pertandingan sepakbola.

Lebih jauh lagi, kerumunan bahkan bisa seperti lebih dari seratus ribu orang saat menghadiri pidato Soekarno di Lapangan Ikada (sekarang sebagian  dari Monas) di Jakarta pada 19 September 1945.

Itulah saat di mana Soekarno berpidato untuk memperingati satu bulan Kemerdekaan Indonesia sebagai momen di mana pemerintah Indonesia yang baru saja merdeka, bertemu langsung secara fisik dengan rakyatnya. Dan Lapangan Ikada, sebagaimana juga GBK, adalah arena olahraga singkatan Ikatan Atletik Djakarta dengan sebuah lapangan sepakbola di tengahnya.

Namun, pengalaman tak mengenakkan tentang kerumunan ini juga tidak sedikit. Konser Deep Purple di GBK pada 1975 , Metallica di Stadion Lebak Bulus pada 1994, dan Kantata Takwa di Lapangan Parkir Senayan pada 2003 juga diwarnai dengan kerusuhan. Belum lagi demonstrasi pada 1998 juga demonstrasi pada 1966. Semua terjadi di Jakarta.

Dan dalam kondisi Indonesia kontemporer, sejarah itu telah membuat kita terlalu gampang melihat kerumunan. Hampir setiap hari ada demonstrasi di Jakarta dan sangat sedikit dari demonstrasi itu yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan konsekuensi moralnya.

Saya berusaha merefleksikannya usai laga sebelum bergerak ke mixed zone ketika saya berdiri di depan sebuah waralaba tak jauh dari lobby utama stadion. Di depannya saya melihat para suporter duduk bercengkerama sambil melihat keadaan tanpa kecemasan.

Suporter Tim Nasional Malaysia di Stadion GBK, Kamis (5/9). ANTARA/M Risyal Hidayat.

Hampir sebagian besar yang berada di sana mendekati titik kerusuhan hanya untuk melihat kejadian dari dekat – tipikal warga Indonesia yang punya kecenderungan terseret untuk melihat sebuah insiden yang “mengejutkan dan menegangkan”.

Dalam situasi itu, saya hanya melihat generasi masa depan. Karena sebagian besar dari suporter tersebut adalah apa yang disebut oleh tren sebagai “milenial.” Dan karena intuisi, saya sama sekali tak cemas berada sekitar 50 meter dari lokasi tersebut.

Saya berusaha mendekati suporter yang rusuh tersebut untuk melihat mereka secara individu. Ada beberapa orang berpakaian hitam-hitam, sebagian menutup wajahnya dengan penutup muka pengendara motor, mengenakan besi pemukul di cengkeramannya, dan menunjukkan kepada polisi yang berjaga di sana semacam kartu pers perekam video aktivitas mereka.

Polisi yang berjaga tanpa formasi pasti, juga seperti setengah berkerumun, dengan usia yang setara dengan para suporter itu, menanggapinya tak peduli. Dan beberapa saat sebelumnya, saya melihat seseorang yang memegang kamera diintimidasi oleh para suporter yang meminta rekaman videonya dihancurkan.

Saya bisa tahu itu karena saya berada di samping waralaba di mana mereka mengancam si pemegang kamera sementara ada beberapa orang yang berusaha melindungi si pemegang kamera tersebut.

Karena suara perusuh ini terlalu besar, saya berusaha mencari lihat bagaimana rupanya orang-orang dengan suara paling besar ini. Saya lihat sebagian  besar adalah pemuda berusia belasan, dalam bahasa slang kita menyebutnya ABG.

Saya tidak akan berbicara untuk menunjukkan bahwa dunia belia adalah melulu tentang sesuatu tindakan yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Namun, ini adalah persoalan masyarakat di mana mereka adalah bagian dari generasi belia.

Dalam kerumunan, Anda tidak bisa melarang seseorang. Satu-satunya yang bisa melarang adalah otoritas alias hukum. Dalam proses intimidasi orang yang membawa kamera tersebut, tak ada polisi yang menghalau perusuh dan orang yang mereka intimidasi.

Juga jarak lobby GBK dengan batas penjagaan polisi yang sangat dekat. Pagar keamanan terjauh berada tepat di kedua sisi pembatas lobby dan di situlah para perusuh berkerumun.

Saya pergi ke mixed zone dan keluar dari sana setelah ternyata pemain Malaysia tidak keluar lewat jalur itu. Di luar, suasana semakin sepi. Sebagian wartawan masih bertanya-tanya lewat jalur mana pemain dan suporter Malaysia keluar.

Aftermath

Hampir sebagian besar media Indonesia selalu mengkritik suporter mereka sendiri dalam kerusuhan di GBK melawan Malaysia. Namun, fenomena media sosial memberikan caranya sendiri untuk membentuk pendapat umum.

Di sejumlah Instagram suporter Tim Nasional Indonesia, mereka memuat cuplikan video beberapa saat sebelum suporter perusuh masuk ke stadion. Saya ingin mengajak Anda untuk tidak terjebak dengan kontennya, tapi dengan bagaimana cara konten tersebut disajikan.

Dari akun Lingkar Garuda, misalnya, ada video yang menunjukkan ekspresi sejumlah suporter Malaysia yang merayakan gol pada posisi 2-2. Hanya ada beberapa orang, tidak lebih dari lima orang yang menendang kursi stadion dan menunjukkan gesture menantang ke arah suporter di curva selatan.

Caption-nya:

Berawal dari sini, Malaysia cetak gol tetapi fans-nya justru berbuat anarkis untuk merayakannya, menginjak kursi dan provokatif.

Setelah editing, ada video suporter Indonesia yang menyerang tribun suporter Malaysia. Setelah dihalau petugas, mereka kembali ke tribun seperti merayakan kemenangan sebagaimana tipikal perkelahian remaja di Jakarta.

Dan caption-nya,

Dan akhirnya suporter Indonesia terpancing emosi, dan inilah yang terjadi, jangan salahkan kami. Baru kemaren panas soal Gojek dihina, Indonesia dan Jakarta dihina.”

Kita harus membicarakan hal ini karena akun-akun tersebut punya potensi untuk membentuk kejiwaan suporter muda Indonesia. Setidaknya akun Lingkar Garuda saja punya 371 ribu pengikut. Mereka menyediakan informasi tetapi dalam beberapa hal terkadang menunjukkan sisi pahit dari kenyataan suporter sebagai persoalan mental bagi Indonesia.

Melalui media sosial, suporter membentuk wacana mereka menolak dipersalahkan dalam aksi mereka di GBK dengan menunjuk bahwa suporter Malaysia yang melakukan provokasi terlebih dahulu.

Tak lama setelah itu, beredar pula sejumlah gambar yang menunjukkan perkelahian suporter Indonesia dan Malaysia dalam beberapa foto yang mereka klaim terjadi pada 2010-2012.

Caption-nya:

“Bukan mau ngungkit2 ya tapi suporter Indonesia dulu 2010 dan 2012 pernah diginiin di sana.. pantes ga kira2? PSSI kita bales dong aduin dong lindungi suporter kita..”

Jika Anda mendengar nada bicara caption-caption-nya, maka tidak sulit untuk merasakan bahwa bahasa tersebut sangat literasi “internet.” Tetapi itu sulit ditolak, yang bisa dilakukan adalah melihat bagaimana cara mereka membentuk wacana “mengapa” mereka tidak perlu dipersalahkan dan ini adalah soal “balas-membalas.”

View this post on Instagram

Memancing +62 __ ???? @jmtvreborn Follow @Lingkar.garuda Follow @Lingkar.garuda

A post shared by Sepakbola Indonesia ? (@lingkar.garuda) on

Juga, apa hubungannya penghinaan terhadap Gojek dengan Tim Nasional Indonesia?

Dan tipikal polemik di media sosial ketika warganet Indonesia memuat video di mana suporter Malaysia pernah menyanyikan yel “Indonesia itu A****g” dengan irama yang sama dengan yang dinyanyikan suporter di GBK sebagai kontra-argumentasi terhadap kritik atas perilaku yang mereka lakukan terhadap suporter Malaysia.

Dengan caption yang misalnya mengatakan “gue nggak masalah dibilang kampungan kalo negara gue dihina” atau “bukan tipikal suporter Indonesia yang cuma membalas chant dengan chant”.

Ini adalah cara berpikir suporter yang mesti diperas dari soal nasionalisme dengan membawa-bawa nama negara, seolah-olah tindakan yang mereka lakukan di GBK merupakan bentuk bela negara dari penghinaan warga asing.

Wacana seperti ini tidak bisa dibiarkan karena bagi saya mereka yang menyanyikan chant dengan menggunakan “binatang” untuk mengejek suporter lain, entah dari negara manapun, adalah orang-orang yang hanya ingin melakukan keributan dengan menggunakan dalih membela negara.

Dalam perasaan saya, mereka yang menyanyikan “Malaysia itu A****g” atau “Indonesia itu A****g” sama sekali tidak merepresentasikan negara dan sama sekali tidak nasionalis. Yang mereka lakukan hanyalah mengejek sesama suporter yang setipe dengan mereka dan memanipulasi negara untuk melarikan diri dari tindakan tak bertanggung jawab.

Suporter jenis ini masih perlu berlatih untuk mengendalikan diri dalam kerumunan karena mereka tidak berpikir panjang terhadap dampak atas kebencian dan energi berlebih yang mereka luapkan. Mereka tidak akan sampai pada bahwa aksi tersebut membuat Indonesia bisa dihukum FIFA menggelar laga tanpa penonton di mana mereka tidak bisa menonton juga PSSI rugi secara ekonomi dan yang paling menyakitkan adalah pemain berjuang tanpa dukungan di stadion.

Bagi saya ini adalah bagian paling omong-kosong dan berbahaya, selain politik dan dominasi uangnya, dalam sepakbola.

Wacana melalui media sosial seperti ini telah mengarahkan publik, yang mayoritas anak muda, untuk menganggap ada persoalan antara Malaysia dan Indonesia yang harus dipermaklumkan untuk diekspresikan dengan kerusuhan dan kekerasan.

Suporter Tim Nasional Indonesia mewarnai tubuh mereka saat mendukung timnya berlaga kontra Malaysia di Stadion GBK, Jakarta, 5 September silam. ANTARA/M Risyal Hidayat.

Tidak. Sepakbola Indonesia, atau industri sepakbola Indonesia belumlah setua Inggris atau Italia di mana sejarah kekerasan antar suporter sepakbola adalah gejala yang relatif baru alias tidak berakar.

Sekarang kembali pada Anda, akar perselisihan itu selalu didahului dengan penciptaan, atau terciptanya konflik. Seperti yang telah saya katakan, sebelum 1998 tidak ada perselisihan sebagaimana yang bisa kita rasakan saat ini dengan Malaysia.

Mengapa sesuatu itu menjadi ada dari tiada, bagi saya, itu adalah kesengajaan yang dimungkinkan dalam satu sistem periode politik. Menurut saya, kita mesti melihat lagi apa yang membuat masa-masa ketika persoalan TKI, klaim produk kebudayaan, dan insiden bendera yang bagi saya diawali oleh kepentingan politisi, muncul dan memantik kebencian yang tak perlu ini.

Bagi saya, kebencian dan kerusuhan di GBK pada malam Jumat yang gerah tersebut adalah konsekuensi yang harus kita hadapi dari kecenderungan kekuasaan yang menggunakan kebencian dan kerusuhan sebagai salah satu cara mempertahankan posisi.

Saya tidak mengatakan bahwa kerusuhan paling kontemporer ini sebagai sesuatu yang “ditunggangi”, saya percaya kita punya keinginan besar untuk berbenah, dan kita terus berusaha untuk meminimalisir campur tangan politisi dalam sepakbola.

Namun, sejarah mengatakan demikian, dan dalam sepakbola, mereka yang menjadi alat serta korban dalam budaya kerumunan itu adalah anak-anak muda.

Dan tentang pertandingan, sulit untuk tidak mengatakan bahwa dua gol yang dicetak Beto merupakan hasil dari permainan yang “naik kelas.” Tetapi, sepakbola bagi Indonesia tak cukup sampai hanya permainan di lapangan, tetapi telah menuntut perubahan sosial pada sisi suporter dan level profesionalitas standar keamanan penyelenggara.[]

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

Piala Menpora 2021

2 Laga Uji Coba Timnas jadi Percontohan

Image

Olahraga

Timnas Indonesia U-23

Tim SEA Games Dipertimbangkan untuk Perkuat Skuat Garuda

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia U-23

Shin Tae-Yong: Saya Belum Lihat Pemain

Image

Olahraga

Timnas U-23 3-1 Bali United

Timnas U-23 vs Bali United: "Garuda Muda" tak Terkalahkan di 2 Laga

Image

Olahraga

Timnas U-23 2-0 Tira Persikabo

Menpora Puji Prokes dalam Laga Timnas U-23 vs Tira Persikabo

Image

Olahraga

Indonesia U-23 vs Bali United

Prediksi Indonesia U-23 vs Bali United: Serdadu Tridatu Enggan Mengalah

Image

Olahraga

Timnas U-23 vs Bali United

Shin Tae-Yong akan Turunkan Skuat Berbeda Saat Hadapi Bali United

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia U-23

Shin Tae-Yong: Timnas Masih Banyak Kekurangan di Laga Lawan PS Tira

Image

Olahraga

Timnas U-22 2-0 Tira Persikabo

Garuda Muda Sukses Tundukkan Klub Liga 1 Indonesia

komentar

Image

1 komentar

Image
Raflypuhi 23

Tidak dewasa ya

terkini

Image
Olahraga

10 Klub dengan Gelar Terbanyak di Liga Eropa, Steven Gerrard Bikin Sejarah

Luar biasa Gerrard

Image
Olahraga
Bhayangkara Solo FC

Evan Dimas akan Perkuat Bhayangkara FC di Piala Menpora 2021

Evan Dimas sebelumnya juga pernah berseragam Bhayangkara pada musim 2017.

Image
Olahraga
Piala Menpora 2021

2 Laga Uji Coba Timnas jadi Percontohan

PSSI akan segera melangsungkan turnamen pramusim bertajuk Piala Menpora 2021 yang akan bergulir pada 21 Maret.

Image
Olahraga
Timnas Indonesia U-23

Tim SEA Games Dipertimbangkan untuk Perkuat Skuat Garuda

Ada beberapa nama pemain di skuad SEA Games saat ini yang berpeluang membela Indonesia pada Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Image
Olahraga
Swiss Terbuka 2021

Capaian Hafiz/Gloria di Swiss Jauh dari Harapan

Hafiz/Gloria yang datang sebagai unggulan kedua harus kalah di babak pertama.

Image
Olahraga
Barcelona

Joan Laporta Resmi Kembali Pimpin Barcelona

Sebelumnya Laporta pernah menjadi presiden Barcelona pada medio 2003-2010.

Image
Olahraga
Chelsea vs Everton

Prediksi Chelsea vs Everton: Upaya The Blues Hindari Kejaran Toffees

Chelsea berada di atas Everton dan hanya berjarak satu poin.

Image
Olahraga
Inter Milan vs Atalanta

Prediksi Inter vs Atalanta: Misi La Dea Hentikan Laju Nerazzurri

"Jika ada hukum rata-rata, cepat atau lambat kami akan berhasil mengalahkan mereka," kata Gasperini

Image
Olahraga
Shesar Hiren Rhustavito

Yang Dibutuhkan Vito Mental Juang Tinggi

Pun begitu, Vito dianggap sudah memiliki teknik dan fisik yang mumpuni.

Image
Olahraga

5 Foto Mesra Hanif Sjahbandi dan Icha yang Bikin Aremanita Makin Patah Hati

Hanif dan Icha menikah 20 November lalu

terpopuler

  1. Masyarakat yang Tolak Vaksin COVID-19 Terancam Dihentikan Pemberian Bantuan Sosialnya

  2. 7 Pesona Joanina Rachma, Putri KSP Moeldoko yang Baru Menikah

  3. Murah dan Terkenal, ini 6 Mobil MPV Paling Rekomendasi Harga Cuma Rp70 Juta

  4. Pengamat: Kehancuran Demokrat di Bawah Kepemimpinan Moeldoko Sudah di Depan Mata

  5. Pamer Kehadiran Ketua DPD Se-Indonesia di KPU, Jansen: Jangan Ragu yang Sah Itu AHY!

  6. Lagi Ngetren, Aplikasi ini Bisa 'Hidupkan' Orang Meninggal Tuk Obati Rasa Rindu

  7. Kaesang Pangarep Tinggalkan Felicia Tissue Tanpa Sebab, Sang Kakak: Jijik

  8. Jaksa Agung Burhanuddin Dapat 'Surat Cinta' dari Napi LP Sukamiskin

  9. Diduga PSK Online di Apartemen Dekat Bandara Soekarno-Hatta, Belasan Remaja Diamankan Polisi

  10. MUI Desak Pemerintah Indonesia Turun Tangan Bantu Warga Yaman yang Kelaparan

fokus

Info PUPR
Mendorong Pemerataan Ekonomi Secara Digital
Kaleidoskop 2020
Lawan Covid-19

kolom

Image
Ali Zulfugaroghlu, Elnur Elturk

Genosida Khojaly: Kejahatan Terhadap Kemanusiaan

Image
Ujang Komarudin

Takut Mengkritik

Image
Roosdinal Salim

Mimpi atau Realistis Mencapai 20.000 Kampung Iklim di 2024?

Image
Poetra Adi Soerjo

Pemuda Sumbawa Akui Pemikiran Prof Din Syamsuddin Radikal

Wawancara

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Duh! Laki-laki Sering Jadi Tersangka Toxic di Hubungan, Padahal Mah… | Akurat Talk (3/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Hubungan yang Tidak Sehat Bisa 'Disembuhkan' | Akurat Talk (2/3)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Toxic Relationship: Ini Salah Aku atau Dia? | Akurat Talk (1/3)

Sosok

Image
News

7 Potret Meilia Lau, Ibunda Felicia Tissue yang Memesona

Image
News

7 Pesona Joanina Rachma, Putri KSP Moeldoko yang Baru Menikah

Image
News

5 Fakta Anas Urbaningrum, Jabat Ketum Partai Demokrat hingga Terjerat Korupsi