image
Login / Sign Up
Image

Penulis adalah redaktur kanal Olahraga Akurat.co. Pernah bekerja di Harian TopSkor dan World Soccer Indonesia.

Mengapa Milla Dicintai dan Layakkah Bima Sakti Menggantikannya?

Hervin Saputra

Tim Nasional Indonesia

Image

Pelatih Tim Nasional Indonesia, Luis Milla, beserta asistennya, Bima Sakti, melihat adanya perkembangan sepakbola Asia Tenggara. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Sebagai warga negara yang dijuluki sebagai “the loving-football country”, tidak sulit untuk mencari tahu mengapa saga jabatan pelatih kepala Tim Nasional Indonesia didominasi dengan “narasi” bahwa masyarakat “still loving” sang entrenador yang didatangkan dari Spanyol pada awal 2017: Luis Milla.

Hingga akhirnya PSSI menunjuk asisten Milla, Bima Sakti, untuk menangani Timnas Indonesia menyongsong Piala AFF 2018 yang bakal digelar November mendatang, bayang-bayang Milla masih tetap kuat di benak para jurnalis Indonesia.

Sekalipun Bima telah resmi menduduki kursi yang sebelumnya dihuni oleh Milla, namun mantan Kapten Timnas Indonesia itu seakan-akan masih dilihat sebagai pelatih interim. Dengan kata lain, publik tidak ingin melihat bahwa penunjukan Bima seperti sebuah akhir di mana Anda tidak akan lagi melihat Milla memimpin timnas Anda.

baca juga:

Lebih dari sekadar posisinya dalam urusan pekerjaan sehari-harinya sebagai pelatih Timnas Indonesia, Milla pada dasarnya memiliki karakter yang membuatnya disukai oleh publik dan juga wartawan.

Sekadar pembanding, Milla relatif jarang berbicara atau bersikap pahit yang membuat jurnalis sedikit kesal sebagaimana yang barangkali terjadi terhadap Pelatih Timnas Indonesia U-19, Indra Sjafri.

Pada suatu pagi di masa-masa awal latihan perdananya untuk Timnas Indonesia di Lapangan Sekolah Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, mantan pemain Barcelona, Real Madrid, dan Valencia itu menyapa wartawan yang duduk di tribun sebelum memulai latihan.

Luis Milla bersama Stefano Lilipaly dan Andritany Ardhiyasa dalam salah satu latihan di sela Asian Games 2018. AKURATCO/Dian Eko Prasetio.

“Selamat pagi,” ucap sang pelatih.

Di sisi lain, Milla juga tak pernah mengeluh. Dalam arti, dengan pengalamannya sebagai pemain dan pelatih yang membawa Tim Nasional Spanyol menjuarai Piala Eropa U-21 2011, Milla tak pernah berbicara buruk tentang “buruknya” infrasturuktur sepakbola di Indonesia.

Sebagai contoh, ketika ia menyaksikan lapangan berlumpur di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, dalam turnamen mengenang tsunami 2004, Desember tahun lalu, Milla hanya mewanti-wanti agar hal itu tak terjadi di Asian Games. Alih-alih melakukan kritik langsung terhadap panitia penyelenggara dan barangkali pengelola stadion.

“Bisa kita ingat melawan Thailand U-23 (di kualifikasi Piala Asia U-19) di mana lapangan seperti ini. Saat itu, lapangan rusak usai diguyur hujan dan genangan. Lapangan seperti ini bisa jadi opsi dan kemungkinan bisa terjadi di Asian Games nanti,” kata Milla kala itu.

Bisakah Anda membayangkan seseorang yang dibesarkan dalam sepakbola negara maju yang pernah mencicipi klub sekelas Barcelona dan Real Madrid harus beradaptasi dengan segala kekurangan di Indonesia?

Milla juga tak mengumbar kritik terhadap PSSI yang tidak membayar janji untuk melakukan pemusatan latihan di Spanyol plus melakukan uji coba dengan tim-tim yang levelnya di atas Indonesia ketika sang pelatih diperkenalkan di markas PSSI yang saat itu berada di kawasan Kuningan, Jakarta.

Namun, bukan berarti Milla adalah orang yang tidak berbicara tegas. Justru, ketegasan yang ditunjukkan Milla barangkali adalah pengalaman baru tidak saja bagi para pemainnya, namun juga insan sepakbola Indonesia.

Saya masih ingat ketika menghadiri salah satu sesi latihan Timnas Indonesia U-23 di Padang Kelab Aman, Kuala Lumpur, Malaysia, menjelang laga versus Filipina di SEA Games 2017. Selepas latihan, sejumlah jurnalis “mencegat” Evan Dimas Darmono dan Yabes Roni Malaifani untuk wawancara.

Luis Milla dalam salah satu sesi latihan Timnas Indonesia. ANTARA/Arif Firmansyah.

Sontak, sang pelatih berbicara dalam Bahasa Spanyol dengan nada yang keras kepada Evan dan Yabes yang diterjemahkan oleh penerjemahnya sebagai isyarat untuk menghentikan wawancara tersebut.

Dalam momen yang sama, saya menghampiri Bima Sakti untuk meminta kisi-kisi tentang taktik Indonesia. Dengan raut yang cenderung merasa melanggar aturan, Bima menolak wawancara dengan mengatakan, “jangan Mas, nanti saya bisa dimarahi sama Coach Milla.”

Juga ketika Milla merasa salah satu wartawan Indonesia menanyakan hal yang sama tentang “apa yang harus dilakukan” agar tak lagi mengalami kegagalan pasca disingkirkan Malaysia di semifinal SEA Games 2017. “Setelah ini saya tidak akan menjawab pertanyaan itu lagi,” kata Milla.

Di luar semua itu, untuk melihat Milla dalam profesinya sebagai pelatih, dia memang gagal mewujudkan target yang dibebankan di dalam kontrak. Yakni emas SEA Games 2017 dan empat besar Asian Games 2018.

Jika berkaca pada kontrak tersebut, bukanlah hal yang aneh seandainya PSSI tidak melanjutkan kerjasama dengan Milla. Namun demikian, PSSI tidak dalam posisi untuk tak melanjutkan kerjasama, melainkan sang pelatihlah yang berada pada “posisi tawar di atas angin”.

Sekali lagi, masyarakat ingin Milla bertahan, dan PSSI tahu benar soal itu. Bukan sekadar sebatas sentimen karena memiliki pelatih sekelas Milla, namun juga karena perubahan signifikan yang dibawa sang pelatih.

Sejak Milla berada di Indonesia, ia berusaha mewujudkan ekspektasi masyarakat Indonesia, yakni membuat permainan Timnas Indonesia akan halnya permainan Spanyol, yang, pernah ditunjukkan oleh sang pelatih bersama Timnas Spanyol U-21.

Jika Anda berpikir bahwa permainan Spanyol, atau mungkin Barcelona, adalah permainan yang mudah dicerna, maka Anda harus sadar bahwa permainan seperti itu tidak mudah untuk dilakukan.

Memainkan penguasaan bola plus umpan direct ke sisi sayap membutuhkan akurasi umpan yang mumpuni. Dan, akurasi umpan tersebut tidak saja bergantung pada bakat dan kemampuan pemain menyerap instruksi pelatih, namun juga kualitas lapangan.

Namun, bersama Milla Anda bisa menikmati apa yang Anda inginkan sedikit demi sedikit. Bahwa sepakbola ala Spanyol perlahan-lahan menjadi gaya yang juga akan dimiliki oleh Indonesia.

Sejalan dengan itu, pola permainan Milla ternyata sejalan dengan selera dua pelatih tim junior yang sukses menunjukkan potensi para pemain: Indra Sjafri dan Fakhri Husaini.

Luis Milla, Indra Sjafri, Fakhri Husaini saat diperkenalkan sebagai Pelati Tim Nasional Indonesia di Jakarta, Januari 2017. SPORT TOURISM.

Akan halnya Spanyol, kini Anda bisa melihat gaya permainan yang sama antara Timnas Senior, Timnas U-23, serta besutan Indra dan Fakhri, Timnas U-19 dan Timnas U-16.

Hasilnya cukup signifikan di mana Timnas U-16 nyaris lolos ke Piala Dunia U-17 2019 andaikan mereka mempertahankan keunggulan 1-0 kontra Australia sebelum akhirnya kalah 3-2 di perempat final Piala Asia U-16 di Malaysia.

Demikian pula halnya dengan Timnas U-19 yang tampil menjanjikan dengan mengalahkan Chinese Taipei 3-1 di laga pembuka Piala Asia U-19 2018 yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno, beberapa hari lalu.

Karakter, kharisma, dan pada akhirnya, reputasi, telah membuat Milla menjadi pemimpin yang layak untuk membangun sepakbola Indonesia ke level yang lebih baik. Bersama Milla di Timnas senior, pelatih timnas junior seperti Indra Sjafri dan Fakhri Husaini memiliki partner yang membuat mereka kian yakin dengan program dan visi untuk masa depan sepakbola Indonesia.

"Tentu banyak ilmu yang akan saya pelajari dari coach Milla. Ini kesempatan buat saya dan tidak akan saya lewatkan. Semua tahu dia pelatih kualitas dunia," kata Fakhri.

Fakta berbicara bahwa Milla dicintai di Indonesia. Bersama Milla, kini Indonesia mulai bisa membayangkan level yang lebih baik, dimulai dari tim junior.

Masyarakat mulai bisa membayangkan bahwa mereka berpeluang untuk bersaing di level Asia dan membuka peluang ke Piala Dunia dimulai dari tim junior.

“Pekerjaan yang luar biasa. Selamat untuk seluruh tim. Anda bertarung sampai akhir. Masa depan yang besar telah datang untuk sepakbola Indonesia,” ucap Milla dalam akun Twitter-nya tentang kekalahan Timnas U-16 versus Australia di Piala Asia U-16.

Bima Sakti sendiri tak bisa melupakan bosnya. Sebagaimana yang dikatakannya, ia masih berbicara dengan Milla dalam beberapa laga uji coba terakhir Timnas menjelang Piala AFF.

Bagi saya, tidak ada salahnya melihat apa yang bisa dilakukan Bima di Piala AFF 2018. Beri pelatih muda yang dulu adalah pilar timnas semasa menjadi pemain itu kesempatan untuk menunjukkan diri.

Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, Kurnia Sandi akan memimpin Timnas Indonesia di Piala AFF 2018. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo.

Lebih dari itu, memberi kesempatan kepada Bima juga berarti melihat seberapa jauh pelatih ini bisa menyerap ilmu dari mentor sekaligus atasannya. Bukankah Milla yang bersepakat dengan PSSI untuk menempatkan Bima sebagai perwakilan Indonesia di jajaran asistennya?

Saya juga teringat ketika sang pelatih disambut dengan suka cita saat pengumuman resminya untuk Timnas Indonesia di markas PSSI pada Januari 2017. Saat itu, bersama dua asisten Spanyolnya, Eduardo Perez dan Miguel Gandia, Milla juga mengingatkan jurnalis bahwa di sebelahnya adalah sosok hebat yang harus dihormati.

Tidak salah lagi, sosok tersebut adalah Bima Sakti.[]

 

 

 

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia

Luis Milla Sampaikan Salam Perpisahan kepada Bima Sakti

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia

Ratu Tisha: PSSI Sedang Menunggu Jawaban Milla

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia

Batal ke Indonesia, Milla Utus Agennya Bicarakan Kontrak

Image

Olahraga

Luis Milla

PSSI Soroti Rapor Merah Milla Bersama Timnas U-23

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia

Luis Milla Tetap Jadi Pilihan Utama untuk Tukangi Timnas Indonesia

Image

Olahraga

Timnas Indonesia

Statusnya Dipertanyakan, Luis Milla Pilih Temani Anak di Spanyol

Image

Olahraga

Luis Milla

Absen di Latihan Timnas, Milla Nikmati Liburan di Kampung Halaman

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia

Menerka Teka-teki Masa Depan Luis Milla

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia U-23

Soal Nasib Milla, Ketua Umum PSSI Beri Kabar Gembira

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Hong Kong Terbuka 2018

Ahsan/Hendra Susul Fajar/Rian ke Babak Semifinal

Ahsan/Hendra mampu menang straight set 21-19 dan 21-15.

Image
Olahraga
Chelsea

Giroud: Hazard Bagaikan Seorang "Tukang Sihir"

Giroud langsung kagum terhadap Hazard sejak menjalani latihan perdana di Chelsea.

Image
Olahraga
MotoGP Valencia 2018

FP1: Diguyur Hujan Lebat, Marquez Tetap yang Tercepat

Ducati dominasi lintasan basah.

Image
Olahraga
Liga 1 Indonesia 2018

Zulham Paksa Persija Bermain Imbang di Stadion Matoangin

Sempat tertinggal dua gol, PSM berhasil menahan imbang Persija.

Image
Olahraga
Floyd Mayweather vs Tenshin Nasukawa

Resmi, Mayweather Hadapi Kickboxer Jepang di Akhir Tahun

CEO Rizin FF menyatakan bahwa kesalahpahaman sebelumnya dengan Mayweather telah diselesaikan.

Image
Olahraga
VAR

Liga Primer Inggris Pastikan Bakal Gunakan VAR Musim Depan

VAR digunakan agar tidak ada lagi keputusan kontroversial yang dibuat oleh wasit.

Image
Olahraga
Timnas Inggris

5 Hal yang Anda Lewatkan dari Laga Pamungkas Rooney

Rooney mengakhiri karier bersama Inggris dengan torehan 53 gol

Image
Olahraga
UEFA Nations League 2018-2019

Preview: Sambangi Markas Belanda, Prancis Tolak Hasil Imbang

Prancis mengincar kemenangan ketika menyambangi markas Belanda.

Image
Olahraga
Persib Bandung

Performa Pemain Persib Labil, Pelatih: Itu Normal

Gomez membawa Bauman untuk laga kontra PSIS Semarang

Image
Olahraga
Persib Bandung

Ini yang Dirindukan Bauman dari Bobotoh

"Mereka (bobotoh) sangat luar biasa," kata Bauman

trending topics

terpopuler

  1. 5 Manfaat dari Menyisir Rambut, Bikin Berkilau Lho

  2. Hasil Survei di 9 Provinsi Jika Perda Syariah Diberlakukan, Mencengangkan!

  3. Curhat Wapres JK yang Bisnisnya Bangkrut Karena Tak Percaya Teknologi

  4. Ternyata HS Ditangkap Setelah Pemilik Kontrakan Melapor ke Polisi

  5. 10 Transformasi Prilly Latuconsina yang Imut dari Kecil

  6. Lampu dan AC Mati, Penumpang Lion Air Tujuan Yogyakarta Berhamburan Keluar

  7. Ronaldo Paksa Dybala Korbankan Koleksi Gol di Ajang Serie A

  8. Ini Alasan Si 'Kancil' Tak Menggonggong Saat Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi

  9. Liga Inggris Kenakan Atribut Khusus Dukung LGBT

  10. Perusahaan-perusahaan Indonesia Gelontorkan Rp445 Triliun dalam Pemakaian Teknologi

fokus

Semangat Pahlawan di Dadaku
Info MPR RI
Tragedi Lion Air

kolom

Image
Ujang Komarudin

Buta dan Budek dalam Politik

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Bising di Ruang Publik: Perang Diksi Namun Jauh dari Substansi

Image
Karyono Wibowo

Harus Dibedakan antara Penegakan Hukum dan Kriminalisasi

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Ancaman Pemilu Serentak, Kekhawatiran Yusril yang Belum Menemukan Jawaban

Wawancara

Image
News

DKPP, Penjaga Marwah dan Etika Penyelenggara Pemilu yang 'Haus' Infrastruktur

Image
Olahraga

Piala Libertadores 2018

"Mari Jadikan Final Boca-River Tanpa Kekerasan"

Image
News

Alissa Wahid: Membawa Sumpah Pemuda 1928 ke Anak Milenial

Sosok

Image
Ekonomi

Cukai Rokok Batal Naik, Kekayaan Bersih Para Pengusaha Ini Tambah Moncer

Image
Gaya Hidup

Sibuk Banget, Bagaimana Soal Olahraga dan Liburan Arzeti Bilbina?

Image
Ekonomi

Tragedi Lion Air

Cerita Rusdi Kirana, Sosok di Balik Terbangnya 'Singa Merah' ke Angkasa