Akurat.co - Cepat Tepat Benar
Login / Sign Up
Image

Hervin Saputra

Penulis adalah redaktur kanal olahraga Akurat.co.

Mampukah Ambisi Olahraga Indonesia Bertahan Melewati Corona?

Hervin Saputra

Wabah Corona

Image

Ekspresi suporter saat mendukung Timnas Indonesia ketika melawan Timnas Timor Leste dalam ajang penyisihan Grup B Piala AFF Suzuki Cup 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Selasa (13/11/2018). Timnas Indonesia berhasil bungkam Timor Leste dengan skor 3-1. | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO, Bagi kami yang sehari-hari menulis artikel olahraga di media massa negara dunia ketiga, olahraga adalah kemewahan yang fantastis. Fantastis – dari kata fantasi – adalah benar-benar dalam pengertian harfiah karena sebagian besar sensasi yang kami tulis adalah sesuatu yang seakan-akan tak akan pernah bisa kami capai dalam kenyataan.

Pun dengan pandemik virus corona (Covid-19) yang melanda dunia di mana hingga Februari lalu kami di ruang redaksi masih bercakap-cakap tentang mengapa wabah tersebut belum juga menjangkiti Indonesia. Kami tidak berharap, tetapi virus ini terlalu ganjil untuk tak menyentuh negeri kami sendiri sebab saat itu telah mengintai dari negeri-negeri dekat seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Sampai pada akhirnya di pertengahan Maret lalu, tepatnya pada akhir pekan 13 Maret, rekan kami yang bertugas piket untuk menulis laporan berita pertandingan langsung di tengah malam akhirnya tak perlu bertegang mata untuk begadang karena pertandingan di Liga Primer Inggris serta seluruh Eropa ditangguhkan.

baca juga:

Yang tersisa di malam itu hanyalah All England di Birmingham, Inggris, karena jadwal pertandingan semifinal yang memainkan dua wakil Indonesia – Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo – dilangsungkan dini hari waktu Indonesia.

Sejak itu, tak ada lagi pertandingan malam. Setidaknya, hingga saat ini setelah sebulan saya secara pribadi bekerja dari rumah untuk mengikuti anjuran penjarakan sosial yang mengglobal – disertai dengan kekhawatiran bahwa virus tak terlihat ini bisa menyerang siapa saja.

Kandang Chelsea, Stadion Stamford Bridge, di London, Inggris. REUTERS/Matthew Childs.

Dan saya juga butuh waktu sebulan untuk memikirkan apa yang harus direfleksikan dari fenomena yang akan “menggores pikiran” kita selamanya sebagai warga dewasa yang hidup di tengah-tengahnya.

Terlebih dalam posisi sebagai warga Indonesia karena bagi saya artikel seperti ini harus dibumikan dalam konteks di mana saya hidup alih-alih hanya menceritakan penafsiran moral dan filosofis tentang negeri-negeri di mana pusat pandemik terjadi.

Dan anehnya, dalam urutan sepuluh besar, negara-negara teratas yang terdampak virus mematikan ini adalah negara-negara tempat subyek-subyek olahraga yang biasa kami tulis sehari-hari. Wabah corona justru menghantam kuat di negara-negara dengan kemewahan olahraga yang hanya bisa kami fantasikan karena seakan-akan kemewahan tersebut tak tercapai.

Hingga Sabtu (11/4) siang, urutan teratas kasus corona adalah sebagai berikut: Amerika Serikat, Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, China, dan Inggris. Ini adalah daftar negara di mana olahraga telah menikmati popularitas dan sensasi bisnis yang membuat pendapatan seseorang seperti Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo adalah hal yang tidak masuk akal bagi kami.

Dalam konteksnya sendiri, di tahun 2020, atau masa di mana corona menjadi gong yang menunda segala kecepatan dan fantasi kemewahannya, aktivitas olahraga sebagai industri telah melewati perjalanan seratus tahun.

Liga Primer dimulai pada 1888, Serie A Italia 1898, Bundesliga Jerman 1903, La Liga Spanyol 1929, dan Piala Dunia pertama dihelat pada 1930 di Uruguay. Sementara itu, Olimpiade modern pertama telah dimulai di Stadion Panathenaic di Athena, Yunani, pada 1896.

Di Amerika, pertandingan tinju profesional telah dimulai sejak 1891 dan liga basket profesional mereka, NBA, dihelat untuk kali pertama pada 1946. Dan UFC sebagai perusahaan monopoli pertunjukan seni beladiri campuran (MMA) mulai ditegakkan pada 1993.

Sementara China, sejak Olimpiade Beijing 2008, mereka tak henti-hentinya menjadi tuan rumah perhelatan olahraga internasional. Ditambah lagi dengan Liga Super mereka yang sanggup mendatangkan pemain kelas dunia yang tak terjangkau saudagar klub Liga 1 Indonesia.

Seorang warga di salah satu kota di China berjalan dengan mengenakan masker di masa pandemiik virus Corona. REUTERS/Thomas Peter.

Tak cukup sampai di situ, China juga sedang menyiapkan diri karena sudah memastikan sebagai tuan rumah Asian Games 2022, Olimpiade Musim Dingin 2022, serta Piala Asia 2023.

Sementara itu, sejarah mencatat liga pertama di Indonesia dihelat di masa penjajahan Belanda pada 1930 ditandai dengan keikutsertaan Tim Nasional Hindia Belanda pada Piala Dunia 1938 di Prancis.

Kesenjangan di Negara Maju

Satu-satunya bencana yang bisa menghentikan kesinambungan olahraga dunia tersebut hanyalah Perang Dunia II. Dan, dalam waktu seratus tahun atau seratus tahun kurang itu, olahraga telah menjadi mata pencaharian, impian, dan sekali lagi, fantasi warga negara dunia ketiga di Asia Tenggara.

Dalam situasi ini, pertanyaannya, sepenting apakah olahraga ketimbang soal bagaimana orang-orang masih harus bergelut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari?

Sesekali saya membayangkan bagaimana orang di Amerika bisa datang menyaksikan pertandingan NBA dan pertarungan tinju saban pekan yang jelas harga tiketnya tidak murah.

Juga mereka yang mampu terbang dari London ke Tokyo untuk berlibur seraya mengikuti kejuaraan maraton di musim panas, atau mengunjungi empat grand slam sepanjang tahun mulai dari Melbourne sampai ke New York?

Para pelari pada Maraton Tokyo 2020, Februari silam. REUTERS/Athit Perawongmetha.

Agaknya, bagi orang-orang di negara maju, ekonomi telah membuat olahraga bukanlah hal yang mewah bagi mereka. Tetapi, di Jakarta kami selalu menghitung konversi mata uang setiap kali menulis biaya transfer pemain atau hadiah yang didapatkan petenis atau bayaran seorang petinju, juga, barangkali, berapa jumlah uang yang dibawa pulang Praveen/Melati pasca memenangi All England bulan lalu?

Dan corona memberikan dimensi lain terhadap kemewahan olahraga negara maju tersebut, yang, setidaknya hingga saat ini, tidak semencekam apa yang kita hadapi di Indonesia.

Di Inggris, misalnya, kesenjangan mulai “diarahkan” kepada kemewahan olahragawan ketika Sekretaris Negara untuk Layanan Kesehatan Sosial negara tersebut, Matt Hancock, dengan nada sinis mengatakan para pemain Liga Primer harus memainkan peran mereka dalam krisis virus corona dengan memotong 30 persen gaji selangit mereka.

“Mengingat pengorbanan yang dilakukan banyak orang, hal pertama yang bisa dilakukan pemain Liga Primer adalah memberi sumbangan,” ucap Hancock.

Dalam pandangan legenda Manchester United dan Tim Nasional Inggris, Wayne Rooney, pernyataan Hancock justru seperti hendak menyudutkan pesepakbola. Bahwa, pesepakbola menjadi sasaran dalam keadaan darurat negara untuk membiayai penanganan virus corona.

Wayne Rooney. FOOTBALLTIMES.

“Mengapa tiba-tiba pesepakbola menjadi kambing hitam?” tanya Rooney.

Anda bisa lihat bahwa inilah perbincangan soal kesenjangan di negara maju dalam kondisi ekstrem ketika mereka mendengar ratusan orang meninggal setiap hari akibat pandemik yang tak pernah terjadi dalam seratus tahun terakhir.

Politisi, atau otoritas negara, akhirnya memiliki peluang untuk menjadikan kemewahan olahraga sebagai punch bag. Bagaimanapun, kemewahan tetaplah bagian dari kesenjangan, sekalipun di negara di mana mereka merupakan bagian dari kemewahan itu sendiri.

Pun di Spanyol, di mana dalam 15 tahun terakhir mereka menikmati popularitas dan bisnis olahraga paling “basah” dengan rivalitas Barcelona-Real Madrid, kini membuat orang merasa tidak etis lagi untuk membicarakan kapan seluruh agenda olahraga yang tertunda ini bisa kembali berlangsung.

“Dengan apa yang terjadi, itu bukanlah topik yang relevan. Tampak bagi saya adalah kesembronoan untuk membicarakan ini karena setiap hari ada yang mati. Urusan tenis bukanlah apa-apa bagi saya dalam situasi saat ini,” ucap paman dan mantan pelatih Rafael Nadal, Toni Nadal, saat ditanya soal apakah penundaan Wimbledon tahun ini mengacaukan agenda tenis dunia.

Korban Spekulasi dan Paranoia

Indonesia sendiri sebenarnya memasuki dekade kedua abad ke-21 ini dengan optimisme tinggi untuk bangkit menjadi negara yang olahraganya bergerak menuju industri. Landasan paling modern adalah kesuksesan menyelenggarakan Asian Games 2018.

Dan lagi, sebagai negara yang kesenjangan sosialnya terlalu nyata – jika dibandingkan dengan negara-negara maju dengan kemewahan olahraga – membuat olahraga tidak dipandang sesinis pandangan Sekretaris Negara Bidang Kesehatan Inggris terhadap pemain Liga Primernya.

Seiring dengan penundaan Liga 1 Indonesia sampai 29 Mei nanti, PSSI juga memberikan kelonggaran bagi klub untuk membayar hanya 25 persen dari gaji pemain mereka. Alasannya, kompetisi tak berjalan maka tak ada uang yang berputar untuk membayar gaji pemain secara penuh.

Laga Persib Bandung versus Arema FC di Malang, Jawa Timur, 8 Maret silam. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Namun, pemotongan gaji tersebut bukanlah untuk memaksa pesepakbola menyumbang demi penanganan wabah corona melainkan karena justru pandemik mengancam keuangan klub.

Kita belum melihat olahraga sebagai kemewahan dan oleh karena itu masuk akal bagi kami wartawan olahraga di Indonesia bahwa olahraga di negara maju adalah secanggih-canggihnya khayalan semudah menepuk angin.

Di sisi lain, dugaan yang menyebutkan bahwa virus corona cenderung sulit berkembang di cuaca panas sehingga menjadi indikasi mengapa virus tersebut justru lebih masif di negara-negara maju bercuaca dingin seakan membuat Indonesia belum (semoga tidak) sampai pada kengerian yang tak diharapkan itu.

Bagi kita yang hidup di Jakarta sebagai kota yang disebut menjadi pusat penyebaran virus corona terbesar di kepulauan besar ini, situasi sebenarnya membuat kita antara berusaha untuk tidak terpengaruh dengan kepanikan namun sekaligus tak bisa menghindar dari bahaya yang bisa mengancam dari segala sudut.

Fakta bahwa China dan Amerika Serikat menjadi negara yang merasakan dampak paling signifikan terhadap wabah corona mau tidak mau menyeret para pengamat, terutama pengamat asing dari negara Barat, untuk melihat Indonesia dan negara dunia ketiga lainnya di Asia Selatan, India, sebagai negara yang rawan.

Sepinya jalan Jakarta imbas libur nasional dan Pembatasan Sosial Berskala Besar, Jumat (11/4). AKURAT.CO/Sopian.

Alasannya tentu saja karena Indonesia dan India adalah empat besar dalam hal populasi dunia bersama China dan Amerika Serikat. Maka, hari-hari ini, media asing terkemuka tak henti-hentinya memberi peringatan tentang kerentanan membludaknya kasus virus corona sebagaimana yang terjadi di Amerika juga China.

The Guardian, misalnya, pada 26 Maret lalu ketika kasus positif corona Indonesia baru mencapai angka 800-an, menyebut jumlah itu baru dua persen dari total keseluruhan dengan mengutip akademisi London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Sementara itu, riset gabungan yang melibatkan ilmuwan dari dalam dan luar negeri memperkirakan bahwa Indonesia di DKI Jakarta saja sudah ada sekitar 32 ribu orang yang terpapar virus corona.

Dalam konteks olahraga, kabar-kabar ini tak bisa dipandang enteng karena selain bisa mengancam perekonomian secara umum, juga bakal menghantui ambisi Indonesia untuk bergerak ke arah industri olahraga.

Dampak paling nyata saat ini adalah ditundanya pengerjaan calon venue Piala Dunia U-20 2021 yang sedianya dimulai pada April ini karena pandemik. Turnamen bulutangkis Indonesia Terbuka yang menjadi simbol kekuatan olahraga negeri di mata dunia harus ditunda dari jadwal normal pada Juni-Juli nanti.

PSSI, Mochamad Iriawan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/pd.

Lebih jauh lagi, dalam usaha untuk memenangi bidding tuan rumah Olimpiade 2032 ketahanan negara terhadap pandemik kini seakan tak bisa ditawar lagi. Jika hendak menciptakan sejarah dengan membawa olimpiade ke nusantara untuk kali pertama, maka konsep olahraga harus memasukkan ketahanan dari pandemik.

Sayangnya, dengan pengetahuan kita yang tak perlu ditutupi lagi bahwa sistem pelayanan kesehatan negara yang masih jauh dari layak, spekulasi para ilmuwan tentang jumlah infeksi virus corona yang sepuluh kali lebih besar dari yang diumumkan kepada kita hari ini, bisa jadi benar dan bisa jadi tidak.

Jika krisis ini berakhir, atau jika kita bisa melewati krisis ini dengan kondisi terakhir kita saat ini di mana angka kasus positif bergerak menuju 4.000 dengan 320-an kematian, maka sudah seharusnya kita memperlakukan standar ketahanan kesehatan nasional sebagai masa depan negara modern.[]

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Lawan Covid-19

Amerika Serikat Sudah Setujui Remdesivir Sebagai Obat Covid-19

Image

Olahraga

Tim Nasional Indonesia U-19

Bahkan Shin Tae-Yong Pun Minta Liga Digulirkan Lagi

Image

Olahraga

Piala Dunia U-20 2021

Luis Milla Meyakini Timnas U-19 Bisa Bersaing di Piala Dunia U-20

Image

Gaya Hidup

Lawan Covid-19

Surati Terawan, IDI Minta Menkes Hati-hati soal Vaksin Corona

Image

Olahraga

Piala Dunia U-20 2021

Timnas U-19 Terus Digenjot Agar Tidak Memalukan di Piala Dunia U-20

Image

Olahraga

Piala Dunia U-20 2021

PSSI: Setelah Kroasia, Timnas U-19 Bakal Lanjutkan TC ke Prancis

Image

Olahraga

Piala Dunia U-20 2021

Presiden Jokowi Minta Laporan Terbaru Kesiapan Penyelenggaraan Piala Dunia U-20

Image

Gaya Hidup

Lawan Covid-19

IDI Minta Masyarakat Bantu Selamatkan Dokter

Image

Gaya Hidup

Dana Hibah Pariwisata Rp3,3 Triliun Segera Disalurkan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Moto2 Teruel 2020

Moto2: Sam Lowes Start Terdepan, Andi Gilang Dua dari Belakang

Ini mrtupsksn polr position ketiga Sam Lowes pada musim ini.

Image
Olahraga
Manchester United 0-0 Chelsea

MU vs Chelsea: Edouardo Mendy Paksa Setan Merah Bermain Imbang

Alhasil, pertandingan berakhir dengan skor tanpa gol.

Image
Olahraga
Genoa 0-2 Inter Milan

Genoa vs Inter: Nerazzurri Menyodok ke TIga Besar

Gol yang dicetak Lukaku dan D'Ambrsio memastikan Inter menang dengan skor 2-0.

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia U-16

Kapten Timnas U-16: Kami Harus Perbaiki Komunikasi

Timnas U-16 kembali akan berhadapan dengan UEA untuk kedua kalinya.

Image
Olahraga
Barcelona 1-3 Real Madrid

Barca vs Madrid: Pecundangi Barca, Los Blancos Kembali Puncaki Klasemen

Kemenangan tersebut mengantarkan Madrid untuk sementara memuncaki klasemen La Liga Spanyol.

Image
Olahraga
Bayern Muenchen 5-0 Eintracht Frankfurt

Hattrick Lewandowski Bawa Bayern Muenchen Petik Hasil Sempurna

Sayang, meski menang dengan skor telak, Bayern Muenchen gagal menggusur RB Leipzig dari puncak klasemen.

Image
Olahraga
Barcelona 1-1 Real Madrid

Babak I: Ansu Fati Paksakan Madrid Bermain Imbang

Babak pertama akhirnya berakhir dengan skor 1-1.

Image
Olahraga
F1 GP Portugal 2020

Lewis Hamilton Cetak Pole Position ke-97 Kali di GP Portugal

Dalam babak kualifikasi yang berlangsung di Sirkuit Algerve, Hamilton berhasil mengalahkan catatan waktu rekan setimnya, Bottas.

Image
Olahraga
MotoGP Teruel 2020

Nakagami Rebut Pole Position, yang Pertama Sepanjang Karirnya

Kualifikasi: Nakagami, Morbidelli, Rins, Vinales, Zarco, Quartararo, Espargaro, Crutchlow, Lecuona, Oliveira, Marquez.

Image
Olahraga
West Ham United 1-1 Manchester City

City Hanya Bisa Rebut Satu Angka di Markas West Ham

Phil Foden masuk menggantikan Sergio Aguero di awal babak kedua untuk mencetak gol balasan City di menit ke-51.

terpopuler

  1. Sandiaga Uno Ungkap Bisnis yang Akan Tren ke Depan

  2. Dapat Keluhan Anak Susah Makan, Dokter Berikan Resep Tak Terduga

  3. Gus Nur Ditangkap, Fadli Zon: Penangkapan Seperti Ini Mirip Zaman Penjajahan

  4. Kades Sungai Alai Kalbar Korupsi Dana Desa hampir Rp1 Triliun

  5. Penyedia Jasa Kebersihan Vlin Kini Hadir di GoTix

  6. 4 Program Modern BPPSDMP Perkuat Pertanian Hadapi COVID-19

  7. Anggota Brimob dan Mantan Prajurit TNI Jual Senjata Serbu ke KKB Intan Jaya

  8. Gus Nur Ditangkap, Ferdinand: Saya Harap Polri Juga Proses Hukum Refly Harun

  9. Tuai Hasil Positif, Vaksin Corona Universitas Oxford Sukses Bangkitkan Kekebalan Tubuh

  10. Cara Nikmat Sembuhkan Darah Tinggi, Tanpa Takut Minum Obat Lagi

fokus

Lawan Covid-19
Webinar Akurat: Peran Strategis IJK
Akurat Solusi : Roadmap IHT

kolom

Image
Achsanul Qosasi

Membatalkan Kompetisi Liga 1

Image
Azhar Ilyas

Albert RRQ, ‘Baby Alien’ yang Bersinar di MPL ID Season 6

Image
UJANG KOMARUDIN

Mengawal Omnibus Law

Image
ABDUL MUKTI RO'UF

Tiga Nalar Pendidikan Islam

Wawancara

Image
Iptek

Saat Dominasi Kontraktor Besar Masih Kejam

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Fahri Hamzah: Saya Dari Kecil Jualan Kopi | Akurat Talk (2/2)

Image
Video

Akurat Talk

VIDEO Ngomongin Hobi Sampai Harga Outfit Fahri Hamzah | Akurat Talk (1/2)

Sosok

Image
News

5 Fakta Menarik Wali Kota Tasikmalaya, Bos Angkot hingga Jadi Tersangka KPK

Image
News

5 Gaya Politisi Budisatrio Djiwandono saat Olahraga, Bersepeda hingga Berkuda

Image
Ekonomi

Kekayaan 5 Biliuner China ini Terus Melesat Meski Pandemi, Ada yang Capai Rp700 Triliun!