Ekonomi

OJK Cermati Indikator Perbaikan Data Perekonomian Global dan Domestik

OJK mencermati indikator perbaikan data perekonomian global dan domestik untuk menjaga momentum percepatan pemulihan ekonomi.


OJK Cermati Indikator Perbaikan Data Perekonomian Global dan Domestik
Pintu masuk kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/17.)

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencermati indikator perbaikan data perekonomian global dan domestik untuk menjaga momentum percepatan pemulihan ekonomi yang didukung oleh pelaksanaan vaksinasi sebagai game changer dan stimulus yang dikeluarkan OJK, pemerintah dan Bank Indonesia.

"Perekonomian global dan domestik mulai menunjukkan perbaikan dengan berbagai indikator seperti aktivitas industri manufaktur, perekonomian rumah tangga dan penjualan ritel yang semakin ekspansif," kata Deputi Komisioner Humas dan Logistik OJK Anto Prabowo melalui keterangan resminya di Jakarta, Kamis (29/4/2021).

Neraca perdagangan Maret juga tercatat surplus US$1,56 miliar, melanjutkan kinerja positif 10 bulan terakhir.

Sementara laju impor tumbuh 25,7 persen (mtm) seiring kenaikan aktivitas industri manufaktur. Stimulus Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM), Aset Tertimbang Menurut Risik (ATMR) dan Loan To Value (LTV) untuk kendaraan bermotor dan properti yang dikeluarkan pemerintah, OJK dan BI berhasil mendongkrak laju penjualan mobil pada Maret menjadi 84,9 ribu atau tumbuh 73 persen (mtm).

Kenaikan juga terlihat pada pertumbuhan KPR, premi asuransi kendaraan bermotor dan properti. Sebelumnya, OJK sudah meminta industri perbankan untuk meningkatkan implementasi kebijakan stimulus lanjutan POJK No.48/POJK.03/2020 melalui surat edaran No.S-19/D.03/2021 tertanggal 29 Maret 2021 untuk memberikan penjelasan dan penegasan kepada perbankan dalam melakukan restrukturisasi kredit.

OJK juga mencatat laju suku bunga kredit terus menurun sehingga diharapkan bisa meningkatkan permintaan kredit dari sektor usaha. Suku bunga kredit sektor konsumsi turun dari 10,95 persen (Desember 2020) menjadi 10,9 pada Maret 2021.

Pada posisi yang sama kredit modal kerja turun dari 9,27 persen menjadi 9,12 persen. Kredit investasi turun dari 8,83 persen menjadi 8,73 persen.

Sejalan dengan perkembangan positif tersebut pasar keuangan global termasuk Indonesia mengalami penguatan pada April 2021.

Hingga 23 April 2021, IHSG tercatat menguat sebesar 0,5 persen (mtd) ke level 6.016,86. Pasar SBN juga terpantau menguat dengan rerata imbal hasil (yield) SBN turun sebesar 20,2 basis poin di seluruh tenor.

Di sektor perbankan, kredit pada Maret 2021 tercatat tumbuh Rp77,3 triliun (mtm) yang merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 11 bulan terakhir, walau secara tahunan atau year on year (yoy) masih terkontraksi 3,77 persen.

Secara sektoral, kredit sektor pengolahan dan sektor perdagangan meningkat signifikan masing-masing Rp22,02 triliun (mtm) dan Rp16,4 triliun (mtm). Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 2,38 persen (mtm) atau 9,49 persen (yoy).Industri asuransi tercatat menghimpun premi asuransi pada Maret 2021 sebesar Rp25,4 triliun (asuransi jiwa Rp16,3 triliun, asuransi umum, dan reasuransi Rp9,1 triliun).

Fintech P2P lending pada Maret 2021 mencatatkan outstanding pembiayaan sebesar Rp19,04 triliun atau tumbuh sebesar 28,7 persen (yoy). Piutang perusahaan pembiayaan pada Maret 2021 masih terkontraksi sebesar 19,6 persen (yoy).

Sementara itu, hingga 27 April 2021, jumlah penawaran umum yang dilakukan emiten di pasar modal mencapai 45, dengan total nilai penghimpunan dana mencapai Rp47,07 triliun.

Dari jumlah penawaran umum tersebut, 12 di antaranya dilakukan oleh emiten baru. Dalam pipeline saat ini terdapat 74 emiten yang akan melakukan penawaran umum dengan total indikasi penawaran sebesar Rp63,82 triliun. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co