Ekonomi

OJK Blak-blakan Soal Sulitnya Cari Pimpinan Perbankan Syariah

Masalah utama saat ini adalah persoalan SDM yang belum optimal. OJK sering kesulitan untuk mencari pimpinan perbankan syariah saat uji kepatuhan dan kelayakan.


OJK Blak-blakan Soal Sulitnya Cari Pimpinan Perbankan Syariah
Petugas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beraktivitas di ruang layanan Konsumen, Kantor OJK, Jakarta, Senin (23/10). Menjelang peralihan Sistem Informasi Debitur (SID) atau yang dikenal sebagai BI Checking dari Bank Indonesia ke OJK pada tahun 2018, Bank Indonesia bersama OJK terus melakukan pengembangan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang akan menggantikan SID, agar dapat secara optimal mendukung kebutuhan industri yang semakin kompleks serta mendukung tugas OJK, BI maupun tugas lembaga t ( ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/17)

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta agar bank syariah dapat mendiversifikasi produknya dari bank konvesional. Ini bertujuan agar dapat memenuhi kebutuhan nasabah lebih baik lagi.

"Kami dorong perbankan syariah mengeluarkan produk yang bervariasi tanpa meninggalkan prinsip dari syariah," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Heru Kristiyana saat peluncuran virtual roadmap Pengembangan Perbankan Syariah 2020-2025, Jakarta, Kamis (25/2/2021).

Untuk itu, katanya, saat ini ada beberapa tantangan yang harus dijawab oleh industri perbankan syariah dalam mewujudkan hal tersebut.

Heru mengatakan, masalah utama saat ini adalah persoalan SDM yang belum optimal. Ia mengakui bahwa pihaknya sering kesulitan untuk mencari pimpinan perbankan syariah saat uji kepatuhan dan kelayakan.

"Kami kesulitan mencari orang yang (bisa) me-lead pimpinan perbankan syariah kita. Untuk itu OJK membutuhkan dukungan asosiasi perbankan syariah dalam mengatasi hal tersebut," kata Heru.

Selain itu, masalah lainnya adalah indeks literasi dan inklusi keuangan syariah yang masih cukup rendah dibandingkan dengan perbankan konvensional.

Menurut data OJK, literasi keuangan syariah baru 8,93 persen. Angkanya berbeda jauh dibanding literasi keuangan nasional sebesar 38,03 persen.

Kemudian inklusi keuangan syariah hanya mencapai 9,1 persen dibandingkan inklusi bank konvensional sebesar 76,19 persen.

Selain itu, masalah lainnya adalah soal teknologi. Di mana keuangan syariah harus dihadapkan dengan permintaan nasabah terkait keuangan digital.

"Investasi bidang digital itu tak murah, kami harapkan memang dengan konsolidasi dapat memperkuat permodalan perbankan syariah," ucapnya. []

Dhera Arizona Pratiwi

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu