Ekonomi

OECD Kembali Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 2,2 persen di 2023

OECD Kembali Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 2,2 persen di 2023
Mobilitas lalu lalang warga saat jam pulang kerja di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (14/3/2022). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) beberapa waktu lalu menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2023 sekaligus memperingatkan bahwa banyak negara Eropa dapat menghadapi resesi di tahun yang akan datang.

Dalam sebuah laporan sementara OECD yang dirilis pada Senin (26/9/2022) lalu merevisi perkiraan pertumbuhan PDB global dari 2,8 persen menjadi 2,2 persen dimana penurunan tersebut diakibatkan oleh "agresi Rusia terhadap Ukraina."

Tak hanya itu saja, lanjut isi laporan tersebut, PDB dunia di tahun depan akan berada dikisaran USD2,8 triliun lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

baca juga:

“Secara keseluruhan, guncangan ini dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi Eropa lebih dari 1,25 poin persentase pada 2023, relatif terhadap baseline, dan meningkatkan inflasi lebih dari 1,5 poin persentase,” tulis hasil laporan OECD.

Diversifikasi pasokan yang tidak mencukupi dan pengurangan permintaan dapat menyebabkan kekurangan yang akan mendorong harga energi, mengurangi kepercayaan dan kondisi keuangan, dan mengharuskan bisnis untuk sementara menjatah penggunaan gas mereka, tambah laporan itu.

"Tentunya ini akan mendorong banyak negara Eropa ke dalam resesi pada tahun 2023 mendatang," tulisnya.

Tak sampai disitu OECD juga menambahkan bahwa inflasi global akan meningkat lebih dari 0,5 poin persentase pada tahun 2023, dengan pertumbuhan yang turun hanya di bawah 0,5 poin persentase.

Lalu Bagaimana dengan Indonesia ?

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) memprediksi prospek pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2023 masih suram. Bahkan BI memproyeksikan risiko penurunan ekonomi global masih terbuka lebar.

Sumber: ANADOLU Agency