Rahmah

Nyesek Banget! Tuding Abu Nawas Curi Kalungnya, Pria Ini Malah Kena Batunya

Atas dasar kedekatannya dengan Baginda, sehingga tak sedikit membenci dan menaruh dendam kepada Abu Nawas.


Nyesek Banget! Tuding Abu Nawas Curi Kalungnya, Pria Ini Malah Kena Batunya
Ilustrasi Abu Nawas (Iqra)

AKURAT.CO  Abu Nawas dikenal sebagai penyair dan juga sosok jenaka yang penuh dengan kecerdasan. Sejak tinggal di Baghdad, Abu Nawas memiliki hubungan kedekatan dengan Baginda Raja Harun Ar-Rasyid karena dirinya selalu dapat memberikan solusi atas segala macam masalah kenegaraan.

Namun namanya juga manusia. Di saat sudah mendapat posisi dan jabatan yang diinginkan, disitu pasti ada yang tidak suka. Hal ini terbukti terjadi pada diri Abu Nawas. Atas dasar kedekatannya dengan Baginda, sehingga tak sedikit membenci dan menaruh dendam kepada Abu Nawas. Salah satunya seorang yang selanjutnya kita sebut dengan nama Fulan.

Kisah ini bermula ketika suatu hari, si Fulan datang ke istana kerajaan untuk menceritakan sebuah kejadian yang baru saja ia alamai.

"Mohon ampun Paduka yang mulia, hamba ingin melaporkan perbuatan buruk salah satu orang kepercayaan Baginda" kata si Fulan serius.

"Wahai Fulan, siapa orang itu dan apa yang sudah ia perbuat?" tanya baginda.

"Baginda mungkin sudah tahu bahwa orang itu adalah Abu Nawas. Dia telah melakukan perbuatan keji, yaitu mencuri kalung emas milik hamba," jawab si Fulan sedih.

Tidak ingin langsung percaya, Baginda Raja kemudian meminta si Fulan untuk menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya.

"Jadi begini Paduka yang mulia, tampaknya Abu Nawas memang sudah lama mengincar kalung emas milik hamba itu. Mulanya, ia hanya ingin membeli kalung tersebut, namun hamba tidak mau menjualnya," jelas si Fulan.

Sebagai seorang pemimpin yang bijak, dengan sedikit rasa kesal bercampur tidak percaya, akhirnya Baginda memerintahkan beberapa prajurit untuk segera menghadirkan Abu nawas ke istana. Kedatangan Abu Nawas tentu saja untuk memberikan keterangan atas apa yang sudah ia perbuat.

Singkatnya, karena sudah sangat terhasut oleh penjelasan si Fulan, sehingga semua pembelaan Abu Nawas tidak berguna sama sekali. Baginda merasa masalah ini sudah selesai dan segera memerintahkan pengawal untuk memasukkan Abu Nawas ke penjara.

Namun Abu Nawas tidak berhenti melakukan pembelaannya. Karena ia sadar bahwa dirinya sedang di fitnah.

"Tidak Paduka, hamba sama sekali tidak mencuri. Lagian untuk apa hamba mencuri kalungnya?" kata Abu Nawas.

Baginda kemudian menjawab,

"Sudah cukup, Abu Nawas. Buktinya, orang ini telah membawa selendang milikmu, dan aku pernah melihatnmu memakainya," kata Baginda sembari menunjuk ke selendang Abu Nawas yang dibawa si Fulan.

Ternyata memang benar pemilik selendang itu adalah Abu Nawas. Namun menurut Abu Nawas, sudah dua hari ini selendang tersebut hilang dicuri oleh seseorang.

Abu Nawas berusaha terus untuk memberikan pembelaan, akan tetapi usahanya itu sia-sia karena pada akhirnya ia tetap dijebloskan ke penjara. Ia bersiap untuk menunggu hukuman mati karena terlalu banyak hasutan yang disampaikan si Fulan kepada Baginda Raja. 

Esok harinya, Abu Nawas digiring ke sebuah lapangan oleh beberapa pengawal kerajaan untuk dihukum mati. Baginda Raja lalu menanyakan permintaan terakhir Abu Nawas sebelum Abu Nawas dihukum.

Karena tidak ingin mengabaikan kesempatan itu, Abu nawas langsung berkata,

"Mohon ampun Baginda, hamba meminta jika pilihan hamba benar, hamba bersedia dihukum pancung. Tapi jika pilihan hamba ini salah, maka hamba bersedia dihukum gantung saja," tawar Abu Nawas.

"Ada-ada saja. Engkau ini memang orang yang aneh. Di situasi genting seperti ini, engkau masih saja sempat bersenda gurau. Akan tetapi, apapun kelihaian yang engkau miliki, kali ini tidak akan mampu menyelematkan nyawamu sekarang ini," tegas Baginda.

"Hamba sedang tidak bergurau, Paduka!", kata Abu Nawas.

Mendengar kata-kata Abu Nawas, tentu saja membuat raja semakin tertawa terpingkal-pingkal karena menilai Abu Nawas adalah seorang yang aneh. Namun belum selesai Baginda tertawa, Abu Nawas berteriak dengan lantang.

"Hamba minta dihukum pancung!  hamba minta dihukum pancung!" teriak Abu Nawas.

Teriakan Abu Nawas itu membuat semua orang-orang yang datang di lapangan itu merasa kaget. Mereka heran kenapa Abu Nawas membuat keputusan seperti itu. 

Sementara itu Baginda mulai curiga. Baginda pun mulai berpikir menelaah tentang maksud kalimat permintaan terakhir dari Abu Nawas tadi.

Abu Nawas kemudian menjelaskan kembali,

"Jadi begini Baginda, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum pancung. Jika pilihan hamba benar, maka hamba siap dihukum pancung. Namun dimanakah letak kesalahan pilihan hamba, sehingga hamba harus dihukum gantung. Padahal hamba kan memilih dihukum pancung?" 

Tidak disangka-sangka, perkataan Abu Nawas membuat raja tercengang. Baginda mulai menyadari dan mengakui kehebatan Abu Nawas seperti dugaannya di awal. Sehingga hukuman mati kepada Abu Nawas pun ditangguhkan mulai saat itu sampai dilakukan penyelidikan lebih lanjut. 

Setelah melalui proses yang panjang, beberarapa hari berikutnya, para hakim memutuskan jika Abu Nawas telah difitnah oleh Fulan. Abu Nawas kemudian dilepaskan dari penjara, sedangkan si Fulan harus rela tidur dibalik jeruji besi sampai beberapa tahun ke depan. []