Ekonomi

Nyemplung Investasi di Pasar Modal? Pelajari Dulu Hal Ini!

Dewasa ini, banyak orang mulai melirik investasi di pasar modal


Nyemplung Investasi di Pasar Modal? Pelajari Dulu Hal Ini!
Ilustrasi investasi saham di pasar modal (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Dewasa ini, banyak orang mulai melirik investasi di pasar modal. Hal itu lantaran investasi bisa mendatangkan keuntungan yang besar. Namun sebelum memilih mengeluarkan uang di aspek itu, ada baiknya kita memahami konsep dasar dari investasi tersebut.

Perencana Keuangan dari Finansialku.com, Ngurah Mustakawarman mengatakan kunci sebelum melakukan investasi dan penanaman modal lainnya adalah dengan memahami proses bisnis. Kita perlu mengetahui dari mana perusahaan yang akan kita investasikan itu mendapatkan uang.

“ Kalau konsepnya secara umum investasi itu kan kita membeli dengan harga saat ini dengan harapan nanti nilainya akan meningkat di masa depan,” kata Ngurah Mustakawarman dikutip Akurat.co dari Youtube Sonora, Kamis (27/1/2022).

baca juga:

Dengan memahami konsep tersebut, kata dia, maka calon investor dapat memproyeksi seberapa banyak keuntungan yang akan kita dapat di masa mendatang yang nantinya akan kita gunakan.

Hal itu mengingat bahwa investasi di pasar modal, tidak hanya melalui saham. Di dalamnya terdapat reksa dana, obligasi dan saham itu sendiri. Saham terkenal dengan konsep high risk dan high return.

“ Kadang orang investasi tapi lupa komponennya apa saja, salah satu yang perlu dikalahkan sebenarnya di awal itu kan inflasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan jika angka inflasi setiap tahun berada dinkisaran 2 hingga 3 persen, maka seharusnya para investor bisa memilih investasi yang menghasilkan lebih dari angka inflasi tersebut.

Jangan sampai jika angka inflasi dikisaran 2 hingga 3 persen itu, keuntungan yang dihasilkan hanya 1,5 persen per tahun.

“ Itu sudah salah. Itu bukan investasi. Karena kan inflasi aja 2-3 persen asumsinya. Seharusnya investasi harus lebih baik dibanding inflasi,” tuturnya.

Secara sederhana, investor harus memahami bahwa keuntungan yang dihasilkan dari investasi harus lebih besar dari nilai inflasi yang terjindi tahun tertentu. Bahkan, menurut Ngurah, hasil investasi sebaiknya berada jauh dari angka inflasi.

“Kalau bisa kita jauh di atas inflasi hasil investasinya. Ada banyak pilihan, salah satunya kalau enggak reksadana, obligasi, ya saham,” jelasnya.

Selain inflasi, para calon investor seharusnya sudah memiliki nilai aset bersih. Aset bersih ialah pemasukan pasti setiap bulan dikurangi dengan pengeluaran yang ada di periode yang sama.

Sebab dalam hal perencanaan keuangan idealnya ialah semua pengeluaran termasuk dana darurat harus sudah dihitung matang-matang. Jangan sampai calon investor belum menyiapkan risk manajemen ketika hendak berinvestasi.

“ Jangan sampai kita sebagai tulang punggung keluarga kalau ada apa-apa kan pemasukannya depend dama kita,” terang Ngurah.

Lebih jauh ia menyatakan bahwa pada dasarnya, investasi erat kaitannya dengan risiko. Ketika terjadi gejolak di suatu negara, maka umumnya hal itu akan berpengaruh pada kondisi perekonomian.

Sebagai contoh saat pandemi Covid-19 pertama kali melanda Indonesia, nilai saham turun dalam kurun waktu tiga hari berturut-turut. Bahkan, nilai uang di pasar saham turun sebesar 7 hingga 20 persen.

Hal itu berbahaya terlebih kalau investasi yang dilakukan menggunakan dana yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jadi lebih baik kota pertimbangkan dahulu. Dasarnya kuat dulu baru kita bisa next step berikutnya,” imbuh Ngurah.

Meskipun ia juga memahami bahwa naik atau turunnya pasar saham bersifat tentatif sesuai dengan hukum penawaran. Ia juga menyarankan agar sebelum membeli saham, sebaiknya calon investor mencari tahu kinerja keuangan perusahaan terkait.

Kinerja keuangan suatu perusahaan menjadi dasar pertimbangan investor untuk berinvestasi di perusahaan tertentu. Bahkan, lebih baik jika memilih perusahaan yang mengikuti perkembangan terbaru.

“Jadi tidak hanya sekadar perusahaan besar dengan kinerja keuangan bagus. Karena sekarang kita tahu teknologi luar biasa. Ketika di saham, usahakan perusahaan bisa mengikuti keterbaruan,” tuturnya.[]